Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Episode 70


__ADS_3

Aksa masuk ke dalam rumah, mengunci pintunya. Meraih ponselnya guna menghubungi seseorang. Tapi diurungkan niatnya untuk menghubungi. Aksa meraih dompet dan kunci motornya.


Aku akan kesana langsung dan bicara langsung saja untuk memperingatinya agar lebih menjaga kakak. batin Aksa melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Tak lebih dari setengah jam, Aksa sampai di tempat tujuan. Banyak pengawal di berbagai sudut tempat, juga beberapa pengawal di depan pintu. Mereka mempersilakan masuk Aksa karena sudah mengenalnya.


"Dimana Theo?" tanya Aksa saat pelayan melintas di ruang tamu.


"Tuan ada di kamar dengan nyonya, tuan?" jawab pelayan itu menunduk.


"Aku akan menghubunginya saja." jawab Aksa duduk di sofa ruang keluarga.


Dering ponsel memecah keheningan yang ada di dalam kamar pribadi mereka. Theo yang sedang menemani istrinya tidur segera mengambil ponselnya yang terdapat di nakas sebelah ranjang tempatnya berbaring.


Theo menatap istrinya yang sudah terlelap. Perlahan Theo melepaskan tumpuan tangannya yang dijadikan bantal untuk istrinya. Theo melirik nama yang tertera di ponselnya.


"Ya."


"..."


"Baiklah, gue keluar." jawab Theo menutup ponselnya.


Setelah mengecup kening istrinya lama, Theo meninggalkan kamarnya perlahan berharap tidak membangunkannya.


"Hai bro, molor aja." ucap Aksa begitu melihat Theo muncul. Mereka pun bersalaman ala lelaki.


"Dia agak manja, entah kenapa dia mau ditemani terus-terusan." jawab Theo tersenyum, dia duduk di sofa depan meja berhadapan dengan Aksa duduk.

__ADS_1


"Apa terjadi sesuatu lagi?" tanya Aksa cemas.


"Tak apa, mungkin bawaan bayi kami." jawab Theo santai.


"Syukurlah. Apa kakak masih gemetar jika teringat kejadian itu?" tanya Aksa penasaran menatap wajah Theo serius.


"Tidak, dia sudah bisa mengatasi gemetar dan tegangnya. Dia sudah mulai bisa bersikap normal dan dapat menerima sentuhan gue." jawab Theo.


"Hei, lo mau pamer?" umpat Aksa yang membuat Theo tergelak.


"Makanya menikah sana biar tahu rasanya." ejek Theo.


"Memangnya menikah sendiri. Kalau menikah semudah itu, gue sudah sejak dulu menikah." balas Aksa kesal.


"Jangan bilang lo masih menunggunya?"


"Jadi bener?" Theo tergelak semakin kencang.


"Ah, gue mau ngomong sesuatu."


"Katakan saja!"


"Lo yakin kakak gue sudah tidur kan?"


"Kenapa?"


"Gue tak mau dia mendengar apa yang gue mau bicarakan."

__ADS_1


"Kalau begitu, kita ke ruang kerja gue aja." Theo berdiri menuju ke ruang kerjanya diikuti Aksa di belakangnya.


"Tadi kakak Lo datang ke rumah gue." ucap Aksa setelah mereka masuk ke dalam ruang kerja Theo.


"Apa?" Theo sontak berteriak menoleh menatap Aksa.


"Langsung gue usir." Theo tak menjawab hanya menepuk pelan bahu Aksa.


"Dia... katanya kehilangan ingatan tentang setelah pernikahannya. Dia hanya ingat saat setelah lulus kuliah yang tengah berkencan dengan kakak." jelas Aksa tak berani menatap Theo merasa bersalah.


"Gue nggak mau tahu apa yang terjadi padanya." ucap Theo cuek.


"Bukannya Lo harus tahu?" tanya Aksa menatap Theo lekat. Theo balas menatap seperti bertanya kenapa?


"Itu artinya dia belum tahu kalau kakak gue sudah menikah dengan Lo, dan dia masih mengira dia berpacaran dengan kakak gue." jelas Aksa membuat Theo emosi. Tangannya mengepal erat, rahangnya mengeras. Theo tak pernah berpikir sampai kesana.


"Pengawalnya bilang, dia mengidap kehilangan ingatan sementaranya. Dan bisa saja dia akan melakukan apapun untuk kakak gue karena dia ngerasa masih pacaran dan dia tak mau tahu saat nyokap Lo ngasih tahu jika kakak gue sudah menikah." jelas Aksa lagi.


"Brengsek." umpat Theo.


"Gue harap Lo hati-hati lagi, jangan biarkan kakak gue sendiri tanpa siapapun. Gue takut kakak Lo nekat lagi. Apalagi dia ngerasa dirinya ada hubungan dengan kakak gue." ucap Aksa.


bersambung


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2