
Derrick berlarian di lorong rumah sakit. Mendengar kabar dari pelayan rumahnya yang katanya papa dan mamanya ke rumah sakit menjenguk istri Theo yang itu artinya Kalila. Entah kenapa Derrick spontan berlari ingin melihat lebih lanjut keadaan Kalila hingga masuk rumah sakit.
Penjelasan lebih lanjut para pelayan di rumahnya tak didengarnya sampai selesai, dia langsung pergi ke rumah sakit. Kamila terlihat mengepalkan tangannya erat melihat suaminya mencemaskan istri adiknya.
Padahal suaminya baru pulang lembur kerja dan belum sempat berganti baju atau membersihkan dirinya. Seolah istrinya yang sedang sakit. Padahal jika yang sakit benar-benar istrinya, Derrick tak pernah sampai sepanik itu.
Derrick melihat dari luar pintu kaca ruang rawat Kalila. Dirinya mengurungkan niatnya untuk masuk saat melihat Theo mendekap erat tangan Kalila yang terbebas dari infus.
Deru nafas Derrick perlahan mereda, dia tersenyum getir saat menyadari dirinya tak ada hubungannya sama sekali dengan Kalila lagi. Dulu Kalila tak pernah sakit, saat sakit jika sampai masuk rumah sakit berarti sakitnya sudah terlalu parah. Dulu Derrick lah orang yang selalu ada disisinya saat Kalila opname di rumah sakit saat terkena typus.
Derrick berlalu meninggalkan ruangan perawatan Kalila tanpa masuk ke dalam menemui Theo ataupun Kalila. Orang tuanya juga sudah tak ada disitu, mungkin mereka sudah pulang saat dirinya berlari kemari.
**
"Buka matamu sayang, maaf... maafkan aku..." bisik Theo lirih tanpa melepas tautan jemari tangannya yang terbebas dari infus dengan istrinya yang masih terbaring diam belum sadarkan diri.
__ADS_1
Dokter memang mengatakan kalau istrinya kemungkinan akan sedikit lama sadarnya karena kondisi kesehatan tubuhnya yang kurang istirahat, kurang nutrisi dan kurang asupan makanan karena kehamilannya yang membuatnya tak bisa menkonsumsi makanan seperti biasanya.
"Kau harus sehat, kau harus kuat. Ok?" uceh Theo yang tak mendapat jawaban dari istrinya yang seperti orang tidur. Kedua orang tuanya sudah pulang setelah dokter menyatakan kalau kondisi menantunya baik-baik saja hanya menunggu sadarnya.
Akan lebih baik jika membiarkannya beristirahat cukup. Kondisinya benar-benar lemah dan butuh asupan gizi dan nutrisi untuk dirinya dan janinnya. Memang mual dan muntah adalah hal yang wajar bagi setiap kondisi ibu hamil tapi untuk Kalila, karena kandungan Kalila lemah dan ini adalah kehamilan pertamanya di usia yang lumayan terlambat meski belum sepenuhnya terlambat.
Tapi, selain itu faktor tubuh Kalila mempengaruhi terhadap kondisi kehamilannya juga. Dan sebenarnya Kalila harus bedrest selama hamil muda. Karena terlalu sensitifnya Kalila terhadap apapun di sekelilingnya.
"Aku mencintaimu, aku menyayangimu, juga anak kita." bisik Theo lirih, tanpa sadar air matanya mengalir padahal tadi dia sudah menangis kencang di pelukan mamanya.
"Maaf... maafkan aku, karena mengandung anakku, kau jadi seperti ini. Maaf..." bisik Theo lagi mulai menangis lagi.
Siapapun yang mendengar bisikan Theo pasti merasa iba. Pria tampan seperti model menangis bombay dengan wajah menunduk dan menggenggam jemari tangan istrinya yang sedang 'tidur' mungkin...
"Sabar bro... Mbak orang yang kuat sejak dulu." hibur Aksa yang baru datang menepuk bahu Theo mencoba menghibur. Theo sontak menoleh menatap Aksa yang sudah muncul di belakangnya. Theo mengusap air matanya.
__ADS_1
"Kau datang?" jawab Theo.
"Bolehkan gue temenin?" pinta Aksa.
"Makasih sob." jawab Theo tersenyum senang.
"Percayalah mbak Kalila orang yang kuat. Dia gak pernah sakit jika sudah masuk rumah sakit pasti akan segera sembuh. Biarkan dia istirahat, dia butuh ketenangan. Gimana kalau kita ngobrol di sofa?" ajak Aksa menunjuk sofa di belakangnya di kamar perawatan VVIP.
bersambung
Mohon dukungannya 🙏🙏🙏🙏
.
.
__ADS_1
.