Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 23


__ADS_3

Berita pernikahan Kalila dan Theo sudah menyebar di kantor. Semua orang rekan tim Kalila berteriak histeris saat tau siapa calon suami Kalila. Dia adalah putra Presdir, wakil Presdir mereka yang masih muda, bahkan lebih muda dari Kalila.


Semua pegawai kantor wanita spontan patah hati massal karena idola kantor mereka yaitu wakil Presdir tuan Theodore akan melepas status lajangnya dan menikah dengan Kalila, pegawai dari bagian tim keuangan. Banyak yang menyayangkan tapi juga banyak yang mendukung hubungan mereka.


Ketua tim Bu Kabag keuangan tempat tim Kalila tak terlalu terkejut dengan beritanya. Dirinya sudah menduga ada suatu hubungan diantara mereka saat wakil Presdir meminta Kalila mengantarkan berkas laporan keuangan langsung ke ruangan wakil Presdir.


Dina yang terkenal lebay dalam tim itu berteriak-teriak senang karena sahabat sekaligus rekannya mendengar kabar itu.


"Halo..."jawab Kalila mengangkat panggilan video call ponselnya yang ternyata Dina dari rekan tim kerjanya.


Kalila yang sudah mengira hal ini langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya mendengar histeria dari semua rekan timnya dari panggilan video itu.


"Kalila...."seru semuanya membuat Kalila tersenyum meringis merasa bersalah tak memberitahukan semuanya dari awal.


"Ya teman-teman..."sapa Kalila tersenyum manis.


"Ah kau tega ya tega... sejak kapan ini terjadi..."seru Dina menunjukkan kartu undangan pernikahan yang diterimanya tadi.


"Haha...hahaha...maaf.."jawab Kalila sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Kami akan datang ke rumahmu setelah pulang kerja, pokoknya kau harus mentraktir kami. Dan jelaskan tentang hal ini."ucap Dina masih menunjuk pada kartu undangan pernikahan yang terdapat foto Kalila dan Theo saat prewedding. Kalila hanya tertawa dan menutup ponselnya.


"Ma, aku mau ke minimarket sebentar."seru Kalila yang dijawab iya oleh mamanya.


Kalila berjalan menyusuri trotoar hendak menuju minimarket dekat rumahnya. Dia ingin membeli sesuatu untuk rekan timnya nanti.


Penjelasan nanti tak mungkin sebentar jadi Kalila mungkin membutuhkan banyak stok camilan mungkin.


Di kejauhan, sepasang mata mengawasi jalan Kalila yang menuju ke arah minimarket dekat rumahnya. Tatapan mata kerinduan dan cinta terdapat pada mata itu.


Setelah sekian lama, kau masih sama. Cantik dan imut, perasaanku pun juga masih sama terhadapmu, bahkan setelah sekian lama kita berpisah tak membuat hatiku pindah ke lain hati. Batin pria itu di kejauhan yang memandang Kalila murung.


"Makasih mbk..."ucap Kalila pada kasir minimarket itu setelah selesai belanja dengan menenteng 2 kantong belanjaan yang tidak terlalu berat karena hanya berisi camilan keluar dari pintu minimarket.


Kalila meletakkan kantong-kantong itu sebentar di sebelah meja luar minimarket dan duduk sebentar menikmati es krim coklat kesukaan. Kalila sungguh menggilai semua hal tentang coklat dari es, minuman, jajanan yang berbau coklat.


"Kau masih menyukai es krim coklat?"tanya seseorang yang menghampiri meja Kalila duduk.


Kalila yang sedang keenakan menikmati es krim coklatnya sontak mendongak menatap wajah yang berdiri di depannya. Kalila sontak berdiri terkejut hingga kursi plastik yang didudukinya jatuh.


"Kak Fredy..." desis Kalila merasa dadanya bergemuruh kencang.

__ADS_1


"Apa kabar.."sapa pria itu yang dikenali Kalila sebagai Fredy, pria masa lalunya, mantan kekasihnya, juga sahabat baiknya, juga pria yang memutuskan hubungan mereka saat Kalila semakin sayang dan cinta pada pria itu.


Pria pertama yang membuat Kalila mengenal cinta, pria pertama yang mengenalkan arti pacaran padanya. Pria yang juga meninggalkannya karena perjodohan orang tuanya.


"Sepertinya aku mengejutkanmu?"ucap Fredy lagi merasa tak mendapat jawaban dari bibir Kalila.


"Aku harus pulang."ucap Kalila spontan hendak mengambil kantong-kantong belanjaannya.


"Kau masih marah padaku?"bisik Fredy lirih, terdengar nada sedih dari suara pria itu.


Karina masih tak bergeming tak menjawab atau menatap pria itu.


"Kita sudah tak ada hubungan apapun lagi." ucap Kalila lirih.


"Tak bisakah kita berteman seperti dulu lagi?" tanya Fredy terdengar memelas.


"Maaf... sepertinya seseorang pernah bilang padaku, tak ada pertemanan antara pria dan wanita, kemungkinan salah satunya mempunyai perasaan."ucap Kalila membuat wajah Fredy mencelos, dialah yang mengatakan hal itu pada Kalila saat dirinya mengakhiri hubungan kasih antara mereka karena Fredy harus menuruti keinginan orang tuanya untuk dijodohkan dengan anak rekan bisnis papanya.


"Maaf..."ucap Fredy sendu.


Kalila berbalik menatap wajah Fredy yang ditatap membalas tatapan Kalila sendu, terdapat sorot mata kerinduan padanya tapi Kalila tak mau besar kepala.


Dirinya pun juga merindukan pria itu tapi entahlah, bagaimana pun juga pria itulah yang pertama kali mampu menggetarkan hatinya tapi pria pertama pula yang meluluh lantakkan hatinya.


Hingga datangnya Theo yang tanpa ragu mencintainya apa adanya, menyerahkan seluruh hidupnya hanya untuk dirinya. Hingga Kalila harus rela tunduk untuk menerima ketulusan perasaan Theo.


"Semua telah berakhir, lagipula kakak sudah menikah. Dan aku juga akan menikah."jelas Kalila menegaskan lagi bahwa hanya Theo lah yang ada di hatinya saat ini, meski dirinya sangat merindukan pria ini.


"Menikah? Ah, selamat."ucap Fredy tersenyum getir masih menatap Kalila lekat penuh kerinduan.


"Sampai jumpa."ucap Kalila lagi.


"Aku masih mencintaimu... "ucap Fredy lagi, membuat Kalila sontak menatap wajah Fredy yang terpancar kejujuran di matanya.


"Tapi aku tidak, aku mencintai calon suamiku?" ucap Kalila tegas pergi meninggalkan Fredy sendiri mematung di depan minimarket itu.


Dada Kalila sesak, bergemuruh kencang dan berdetak cepat. Deringan ponsel Kalila di sakunya membuat Kalila tersentak.


Diambilnya ponsel itu mengangkatnya dan menerima panggilan itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


"Halo..."

__ADS_1


"..."


"Aku dari minimarket dekat rumah. Membeli sesuatu."jawab Kalila masih tersisip kegugupan pada kata-katanya.


"..."


"Tidak apa, aku tak apa-apa."ucap Kalila gugup seolah Theo tau apa yang terjadi padanya saat ini.


"..."


"Ah, rekan timku akan datang ke rumah. Dan aku membeli camilan untuk mengobrol dengan mereka nanti."jawab Kalila.


"..."


"Iya,ini aku mau pulang."


"..."


"Apa maksudmu?"ucap Kalila masih sambil berjalan pulang.


"..."


"Kau tak percaya padaku?"ucap Kalila lirih.


"..."


"Kau seperti tak percaya padaku?"ucap Kalila cemberut.


"..."


"Aku juga."


Kalila menutup ponselnya, dadanya bergemuruh kencang, entah kenapa firasat Theo selalu benar, saat dirinya hendak pulang setelah bertemu dengan seseorang di masa lalunya membuat perasaan Theo tak enak hingga Theo langsung menghubunginya.


Kalila merasa bersalah setelah menerima panggilan dari Theo.


bersambung


Mohon dukungannya 🙏🙏


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2