
Sudah seminggu Kalila berada di rumah, sudah resmi mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja, perusahaan suaminya. Sudah tiga bulan lebih pernikahannya. Tak ada masalah yang berarti pada rumah tangga mereka bahkan mereka semakin mesra saja.
Semoga setiap hari seperti itu, itulah harapan kecil Kalila. Tapi, pertanyaan orang tua Kalila seminggu lalu saat menjenguk Aksa setelah cedera akibat kecelakaan beberapa waktu lalu membuat Kalila banyak diam berpikir. Tanpa sadar tangan Kalila menyentuh perut ratanya.
Rumah tangganya baik-baik saja, bahagia juga. Suaminya juga tak menuntutnya untuk segera punya anak, tapi Kalila yang memang tak menunda untuk memiliki momongan sampai saat ini belum ada tanda-tanda dirinya hamil padahal mereka sama-sama sehat tak ada keluhan apapun pada tubuh mereka.
Tapi Kalila sebagai seorang wanita dan seorang istri tentu saja merasa terbebani karena dirinya tak kunjung hamil. Perasaannya berkecamuk, merasa gagal menjadi seorang istri maupun seorang wanita. Kalila menghela nafas panjang.
"Apa yang kau pikirkan?" ucap Theo yang tiba-tiba datang mengecup tengkuknya. Membuat Kalila tersentak dan spontan mengusap tengkuknya yang merinding.
"Sayang, kau mengejutkanku." seru Kalila terkejut.
"Kau melamun. Kau bahkan tak mendengarku memanggil dirimu? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Theo memutar badan istrinya agar menghadapnya.
Theo mengusap sudut bibir istrinya, mengecupnya sekilas, melepaskan dan menatap lekat istrinya.
Mereka saling diam, Kalila balas mengecup bibir suaminya lembut, mencium bibirnya, **********. Theo balas pula ciuman istrinya. Sebentar saja mereka sudah terbakar gairah, hasrat mereka naik dan mulailah percintaan panas sore itu.
"Kau sudah bangun?" Kalila mengangguk melihat suaminya selesai mandi baru keluar dari kamar mandi kamar mereka hanya berbalut handuk di pinggangnya.
Theo duduk di tepi ranjang mendekati istrinya yang sudah duduk dan bersandar di kepala ranjang. Membelai pipi istrinya lembut, mencoba membaca raut wajah istrinya yang sedang tidak baik-baik saja. Theo menunggu istrinya mengatakan sendiri apa yang sedang dipikirkannya kini.
"Mandilah! Mungkin kau akan lebih baik." hibur Theo melihat wajah istrinya yang sedang tidak bersemangat sama sekali.
"Baiklah." Kalila bangun dari tidurnya dan entah kenapa kepalanya sangat pening, padahal sebelum Theo pulang tadi dirinya baik-baik saja.
__ADS_1
Memang percintaan panas sore tadi lebih liar dan brutal. Tak cukup sekali dua kali suaminya mencapai kepuasan. Berkali-kali, entah sudah berapa kali, membuat badan Kalila remuk redam. Apalagi belakangan ini dia memang agak tak bersemangat setelah resmi tak bekerja lagi.
Kalila memegangi kepalanya yang berdenyut, hingga saking sakitnya, tubuhnya terhuyung ke belakang membuat Theo reflek menangkapnya.
"Sayang... kau tak apa? Wajahmu pucat." seru Theo cemas.
Tapi, mata Kalila malah terpejam dan diapun pingsan. Theo dengan panik menepuk-nepuk pipi istrinya mencoba membuatnya bangun, tapi istrinya semakin dalam saja pingsannya, seperti orang yang tertidur pulas karena kelelahan.
Theo membopong tubuh istrinya ke ranjang kembali, dipakaikannya piyama tidur istrinya yang sudah disiapkannya tadi saat hendak ke kamar mandi. Theo segera menghubungi dokter keluarganya untuk memeriksa keadaan istrinya. Raut wajah cemas dan panik tak membuatnya lebih baik setelah menghubungi dokter.
Theo mondar-mandir di sebelah ranjang masih menunggu dokter tiba. Diapun sudah memakai piyama tidurnya. Mendekap jemari tangan istrinya berusaha membuat istrinya sadar.
Suara bel pintu apartemen berbunyi, Theo segera membuka pintu dan mempersilahkan dokter itu masuk memeriksa istrinya.
Dokter memeriksa dengan teliti, mengulangi lagi seolah ingin meyakinkan kembali apa yang sedang diperiksa itu benar. Dan sudut bibirnya mengembang.
yang berdiri di depannya.
"Sayang... kau sudah sadar?" cemas Theo sedikit menghilang melihat istrinya sudah sadar.
"Ada apa dengan saya dok?" tanya Kalila penasaran.
"Tidak ada yang mengkhawatirkan. Hanya..
selamat anda hamil. Masih sangat dini baru 4 minggu. Dan kandungan anda sedikit lemah. Lebih baik kurangi pikiran anda jangan terlalu stres. Untuk lebih yakinnya, anda bisa memeriksakan pada dokter obgyn dan melihat kondisi janin anda." jelas dokter itu yang sudah tak didengar mereka karena mereka sudah terharu senang dengan kabar kehamilan itu.
__ADS_1
Kalila menganga tak percaya. Pikiran kalutnya seharian ini seolah tak ada artinya setelah diagnosis dokter bahwa dirinya hamil.
"Anakku sedang tumbuh disini?" ucap Theo tak henti-hentinya senang sambil mengelus perut istrinya yang masih rata. Setelah dokter diantar keluar apartemennya, Theo duduk di ranjang bersebelahan dengan istrinya, mendekap istrinya erat dari samping.
"Aku mau mandi." ucap Kalila membuat suaminya berdecak karena merusak keharuan mereka.
"Sayang, kenapa kau tak istirahat saja. Dokter bilang kandunganmu lemah, kau harus banyak istirahat dan jangan bekerja terlalu berat. Untung saja kau sudah resign. Kalau tidak aku pasti akan memaksamu untuk resign."
"Aku tadi tak jadi mandi, rasanya tubuhku lengket dan bau. Dan kamu, kau pakai parfum apa sayang, kenapa membuat perutku mual saja." Kalila segera berlari ke kamar mandi dengan menutup hidung dan mulutnya memuntahkan isi perutnya. Theo mengikutinya dengan memijat tengkuk istrinya cemas.
"Kau baik-baik saja sayang?" cemas Theo.
"Pergilah! Jangan mendekat, kau bau sayang." seru Kalila mendorong tubuh suaminya keluar dari kamar mandi.
"Sayang, apa maksudmu bau, aku sudah mandi tadi." seru Theo menggedor pintu kamar mandi. Kalila malah masuk ke bathtub untuk mandi tak menghiraukan seruan suaminya.
bersambung
Mohon dukungannya
Beri like rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
__ADS_1
.
.