
Theo masih berkutat dengan pekerjaannya yang menurutnya tidak pernah ada habisnya.
Sudah 2 minggu ini Theo tak pernah bertemu dengan Kalila, seolah Kalila menghindarinya. Bahkan saat Theo berusaha menghubungi ponselnya, Kalila tak pernah mengangkatnya dan setelahnya pasti mengirim pesan chat kalau dirinya sibuk.
Theo menatap layar ponselnya membaca pesan chat Kalila yang baru saja dikirim mengatakan dirinya sibuk. Hingga akhirnya Theo menghubungi kepala bagian keuangan dimana Kalila bekerja, menyuruh Kalila yang mengantarkannya ke ruangannya.
Kalila berjalan lunglai menuju ruangan Theo menjumpai asisten sekretaris Theo di depan ruangannya. Dia mempersilahkan masuk Kalila dan segera pergi meninggalkan mejanya sesuai arahan wakil Presdirnya.
Tok tok tok
Pintu ruangan Theo diketuk Kalila, sebelum Kalila mengetuk pintu dihembuskan nafasnya perlahan, menekan kegugupannya. Mencoba pasrah apa yang akan terjadi. Mau tidak mau dia harus menghadapinya.
"Masuk!!" teriak Theo dari dalam ruangannya, berdiri dari tempat duduknya menghampiri Kalila.
Kalila segera mundur berbalik hendak membuka pintu itu lagi tapi kalah cepat dengan Theo yang sudah menutup pintu itu dan menguncinya dan mencabut kuncinya memasukkan ke dalam saku celananya.
"Jangan coba menghindar lagi?" bisik Theo di dekat telinga Kalila.
Gleg..
Kalila menelan salivanya gugup. Tak ada reaksi dari Kalila. Theo mendekap tubuh Kalila dari belakang menyerukkan wajahnya ke tengkuk Kalila.
"Aku merindukanmu!" bisik Theo lirih masih bisa didengar Kalila.
Kalila menundukkan kepalanya belum memberi jawaban apapun. Kalila juga merasakan hal sama, merindukan Theo, sangat.
"Sepertinya kau sibuk. Aku tak mau mengganggumu." ucap Kalila.
"Aku akan meninggalkan pekerjaanku jika kau ingin bertemu?"
"Aku tak berpikir ada hal penting untuk dikatakan."
Theo mendongak mengangkat kepalanya membalikkan tubuh Kalila menghadap padanya.
"Apa kau masih belum yakin dengan perasaanku? Bagaimana aku bisa membuktikannya agar kau percaya?" seru Theo tak suka. Kalila menatap Theo.
"Bagaimana kalau kita pikirkan lagi hubungan kita?" pinta Kalila lemah.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Theo memicingkan mata. Kalila membuang pandangannya ke arah lain.
"Mungkin kita perlu mempertimbangkan lagi hubungan kita?" Theo melepaskan pegangan tangannya dari kedua lengan Kalila. Berbalik membelakangi Kalila.
"Pergilah! Anggap tidak ada pembicaraan apapun tadi," usir Theo membuang kunci pintu ruangannya di dekat pintu.
"Maaf.." ucap Kalila lemah hendak memegang bahu Theo tapi dia mengurungkannya. Berbalik pergi meninggalkan ruangan Theo.
Kalila sangat mencintai Theo, Kalila juga menginginkan Theo, Kalila juga ingin seposesif Theo padanya tapi tapi Kalila tak mau kecewa lagi. Traumanya di masa lalu membuatnya tak mempercayai hubungan asmara antara pasangan, dia terlalu takut untuk ditinggalkan lagi seperti dulu saat dirinya terlanjur menyerahkan hatinya dan mempercayainya sepenuhnya ternyata dia lebih memilih pergi bersama orang lain.
Sungguh miris saat itu, tapi perasaan itu sudah hilang terisi rasa cintanya pada Theo, tapi Kalila tak mau terlalu mengakui perasaannya.
Besoknya saat istirahat jam makan siang, Theo terlihat menenteng kantong makanan yang dibawa dari kantin, dia menuju ruangan tempat Kalila bekerja.
Para karyawan yang melihat kedatangan bos besar mereka yang datang sendiri tanpa diminta semuanya terkejut, begitu juga Kalila. Semua orang berdiri, kepala bagian keuangan segera mendekat ke arah bosnya.
"Ada yang bisa dibantu pak? Anda bisa memanggil kami ke ruangan anda jika butuh sesuatu?" tanya ibu kepala sambil menundukkan kepala, dirinya bertanya-tanya apakah gerangan yang membuat bos besar mereka datang langsung ke ruangan mereka
Apakah kami membuat kesalahan? batin ibu kepala heran, ibu kepala menatap kantong yang dibawa Theo.
Ah, mungkinlah karena makanan itu? batin ibu kepala lagi.
Kalila yang sedang terkejut tak bisa berpikir jernih, dia bertanya-tanya juga dalam pikirannya. Apa Theo sedang nekat dari perselisihan kami kemarin? batin Kalila masih menunduk gugup, dia takut semua orang akan berpikir ada sesuatu diantara mereka dan membuat semua orang membicarakannya buruk dirinya. Theo mendekati meja Kalila.
"Selamat makam siang, bekerja keras itu baik tapi jangan lupa untuk tetap makan siang!!" kata Theo bermakna dalam seolah menunjukkan bahwa Kalila miliknya, tentu saja karena hanya Kalila yang diberikan makanan di ruangannya.
Semua rekan Kalila berpikir keras, apa hubungan keduanya. Tak mungkin jika mereka pacaran, itulah berbagai pikiran yang terlintas di benak rekan Kalila.
"Terimakasih pak makanannya. Tapi... kalau boleh saya tau, ini maksutnya apa ya pak?" tanya Kalila menatap Theo datar, Theo yang ditanya seperti itu tersenyum menyeringai.
"Ini bukti terima kasih saya sudah mendedikasikan diri anda terhadap pekerjaan anda," jawab Theo tersenyum manis yang ucapan Theo diartikan sebagai Aku akan melakukan setiap hari untuk membuktikan perasaanku tidak main-main. Kalila hanya menundukkan kepalanya tak menjawab lagi.
Setelah Theo pergi dari ruangan kerja tim Kalila, semua rekannya segera mengerubuti Kalila menatap makanan yang dibawa bos mereka, semua bertanya dengan penuh penasaran bagaimana bosnya hanya memberikan padanya.
"Wah, kau beruntung sekali Kal?"
"Ya betul, padahal tampangnya terlihat dingin begitu, tapi pas senyum tadi ah...bikin meleleh..." sahut Dina lebay.
__ADS_1
"Lihat dong apa makanannya, seleranya pasti gak main-main."
"Sudahlah semua waktunya jam makan siang, apa kalian mau tak kebagian meja di kantin?" seru ibu kepala membuat semua orang ngacir menuju kantin kantor takut tak mendapatkan meja, bagaimanapun semua karyawan istirahat jam makan siangnya bersama-sama dan itulah sebabnya mereka buru-buru sebelum jam makan siang berakhir, terlambat sedikit saja mereka pasti tak kebagian meja.
Kalila tak ikut makan siang, tetap tinggal di ruangannya. Menatap kantong makanan itu, membukanya perlahan, masakan pada** kesukaan Theo. Ada secarik kertas juga
'aku akan datang setiap hari untuk membuktikan perasaanku padamu, jika perlu aku juga akan mengumumkan hubungan kita secepatnya' Kalila tersentak spontan berdiri dari kursinya.
Aku belum siap , batin Kalila dia segera membawa makanan itu ke atap gedung kantor itu. Sambil berjalan menghubungi Theo.
"Aku menunggumu di atap sekarang?"
"..."
"Aku tau kau tak sibuk, besok kau akan melihat surat resign ku jika kau tak datang," Kalila langsung menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban Theo.
Tak sampai 10 menit Theo sudah tiba.
"Apa maksud semua ini?" tanya Kalila menunjukkan secarik kertas itu.
"Seperti yang kau baca?"
"Apa kau berpikir untuk menunjukkan pada semua orang tentang hubungan kita?"
"Aku hanya ingin membuktikan perasaanku padamu? Menurutku inilah caraku?"
"Aku tak mengatakan tak mempercayai perasaanmu, aku percaya dan aku tak meragukannya juga, hanya ...hanya saja..." Kalila tak meneruskan ucapannya terlihat ragu dan mengalihkan pandangannya.
"Hanya apa? Teruskan ucapanmu?" desak Theo mulai tidak sabaran, sepertinya Kalila mulai bermain-main dengan perasaannya.
bersambung
Mohon like dan rate nya kakak,vote nya juga
makasih dukungannya 🙏🙏
.
__ADS_1
.
.