Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 28


__ADS_3

Theo mendudukkan tubuhnya di meja bar club malam itu, memesan minuman dan meneguknya perlahan. Perasaan galau, entah apa yang membuatnya seperti itu. Theo sadar apa yang dilakukannya pada Kalila salah.


Theo terlalu takut untuk bertanya tentang masa lalu Kalila, apalagi jika berhubungan dengan kakaknya. Theo menyayangi kakaknya lebih, mungkin apapun akan dilakukannya untuk kakaknya. Tapi jika dia harus melepas Kalila untuk kakaknya apa Theo akan bisa? Theo menghela nafas berat.


"Hai bro... pengantin baru kenapa disini?"sapa salah satu teman kampusnya satu angkatan menepuk bahunya yang baru saja datang dengan beberapa teman Theo lainnya termasuk Aksa.


Memang mereka sepakat untuk berpesta melepas masa lajang Theo, meski rencana itu awalnya ditolak mentah-mentah oleh Theo, entah kenapa hari ini anak ini benar-benar datang. Aksa mengernyit heran, Theo tak mungkin menjadi seperti ini jika tidak sedang ada yang dipikirkannya. Aksa menepuk pundak Theo, teman yang tadi menyapa merasa peka dan pergi memberi waktu kepada dua sahabat yang sekarang menjadi ipar.


"Mau nambah lagi?"tawar Aksa menuangkan gelas Theo dengan minuman dari botol.


Theo menghela nafas berat, menerima tuangan minuman itu tanpa banyak bicara dan meneguknya.


"Kau tak merasa menyesal kan?"tanya Aksa setelah meneguk minumannya.


Theo reflek menoleh ke arah Aksa mengerti maksud perkataannya dengan pandangan tak suka.


"Apa maksudmu?"seru Theo. Aksa ikut menoleh menatap Theo tajam.


"Baguslah kalau kau tidak merasa begitu." ucap Aksa kembali meneguk minuman itu lagi.


"Aku tak pernah merasa menyesal dengan keputusanku. Aku bukan orang yang pantang menyerah dengan keputusanku."ucap Theo marah meneguk lagi minumannya.


"Apa... sesulit itu untuk bicara?"tanya Aksa lagi tanpa menatap Theo. Theo menghela nafas kasar.


"Aku... aku takut."ucap Theo lirih menundukkan wajahnya. Aksa sontak menoleh mendengar suara Theo bernada keputus asaan.


"Aku takut mendengar kejujurannya. Aku belum sanggup untuk mendengar kenyataan." ucap Theo lagi.


Aksa menepuk punggung Theo mencoba memberi kekuatan pada sahabatnya meski dirinya belum paham maksud perkataan Theo.


"Pria masa lalunya datang, mengatakan kalau dia masih mencintainya, mencintai istriku yang baru sah menjadi istriku beberapa jam lalu." jelas Theo dengan nada sedih, wajahnya terlihat mendung, apalagi dengan meneguk minuman yang makin menambah mendung suasana.


Aksa terbelalak, Aksa tau siapa masa lalu kakaknya.

__ADS_1


"Kak Fredy?"ucap Aksa.


Theo sontak menoleh, sekarang Aksa paham kegalauan hati sahabatnya. Aksa kenal siapa Derrick, mantan terindah kakaknya, pria pertama yang pernah dibawa pulang kakaknya meski belum mengenalkan sebagai kekasihnya tapi kakaknya Kalila sangat mencintai dan mengagumi pria itu.


Dirinya dulu sempat kagum tapi saat tau keputusan Derrick memilih untuk meninggalkan kakaknya, Aksa yang saat itu belum dewasa menghampiri Derrick menghadiahinya bogeman mentah. Tapi belum sampai Aksa puas, Kalila datang menahannya untuk tidak ikut campur.


Aksa yang sedang dilanda emosi sungguh tak mengerti jalan pikiran kakaknya, hingga dirinya memilih mengalah pergi.


"Kau mengenalnya?"tanya Theo penasaran.


"Tentu saja. Bahkan aku dulu sempat mengaguminya sebelum dia meninggalkan kakakku." ucap Aksa menggeram kesal mencoba mengontrol emosinya.


"Dia kakakku."ucap Theo lirih meneguk lagi minumannya.


"APA?"teriak Aksa spontan berdiri dari kursinya dengan wajah memerah menahan emosi menatap wajah Theo yang terlihat santai.


Seluruh tamu di club itu spontan menoleh ke arah Aksa termasuk teman-teman mereka yang berkumpul dalam satu meja tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Aku percaya Kalila, tapi tidak dengan kakakku!" ucap Theo parau.


"Lalu apa yang sekarang kau lakukan disini, kau tak berusaha menjauhi kakakku karena hal ini kan?"tanya Aksa emosi menatap Theo galak. Theo mengernyit menatap Aksa.


"Lalu apa yang kau lakukan? Sekarang dia istrimu. Kau memiliki seutuhnya dirinya. Apa kau akan membiarkan kakakmu merebutnya padahal dirinya sudah memiliki keluarga sendiri?" desak Aksa.


Theo melongo mendengar perkataan Aksa.


"Bagaimanapun juga kau menang segalanya atas kakakku, kau berhak melakukan apapun padanya. Miliki dia! Kau berhak mempertahankan Kalila. Kau sekarang suaminya. Jangan biarkan siapapun merebutnya. Jangan biarkan Kalila goyah, buat dia mencintaimu agar tak bisa pergi meninggalkanmu."ucap Aksa panjang lebar, berharap membuka sebagian hati dan mata Theo.


Aksa benar, Kalila sekarang adalah istrinya, miliknya, tak akan ada yang bisa merebutnya dariku. Akan kubuat Kalila semakin mencintaiku lebih lagi .


**


Disinilah Theo sekarang terduduk di tepi ranjang kamar hotelnya yang disewa untuk bulan madu. Jam dinding menunjukkan pukul 3 pagi. Ditatapnya Kalila lembut, matanya bengkak, dia sungguh sangat menyesal telah membuat wanita yang dicintainya menangis.

__ADS_1


Bukan maksud Theo seperti itu tapi hatinya benar-benar takut mengetahui kenyataan itu. Bahkan baju pengantin sejak semalam masih belum dilepas, membuat hati Theo semakin teriris, sekejam itukah dirinya kemarin. Batinnya sakit.


Diusapnya pipi Kalila lembut yang terlelap kelelahan karena resepsi pernikahan semalam yang memang sangat menguras tenaga.


"Theo, kau sudah kembali? Apa ini sudah pagi?" tanya Kalila menahan kantuk di matanya yang masih setia menggelayuti matanya menatap keluar jendela tapi masih gelap.


"Maaf... kau terbangun?"ucap Theo lembut merasa bersalah.


"Tidak. Aku memang menunggumu tapi aku ketiduran, maaf... aku mandi dulu."ucap Kalila hendak melangkah ke kamar mandi tapi ribetnya gaun pengantinnya membuatnya sedikit kesulitan untuk membuka resleting gaunnya yang tak bisa dijangkau tangannya.


"Kau butuh bantuan?"tawar Theo melihat Kalila kesulitan mencapai resleting gaunnya di belakang.


"Ah, bisakah?"pinta Kalila ragu tersenyum canggung. Theo mendekati Kalila menatap gaun itu menyentuh resletingnya membuat 'adik kecilnya' menggeliat bangun, Theo sungguh menginginkan Kalila, sungguh bodoh dirinya kemarin begitu meragukan Kalila.


Kalila menyibakkan rambutnya ke depan, membuat Theo kembali meneguk ludahnya kasar, menatap leher mulus istrinya.


Cup


Tanpa sadar Theo mengecup leher Kalila bernafsu. Tubuh Kalila menegang merasakan darahnya berdesir merinding, tapi dirinya suka dan menginginkan lebih. Ciuman Theo merambat ke bahu, mengecupi seluruh leher, bahu dan telinga Kalila. Menggigit cuping telinga Kalila pelan, hembusan nafasnya menerpa tengkuk Kalila membuatnya mendesah kenikmatan.


Theo memeluk tubuh Kalila dari belakang masih sambil mengecupi seluruh leher dan tengkuk mulus Kalila meninggalkan jejak kepemilikannya tak hanya di satu tempat.


"Aku menginginkanmu."bisik Theo parau, serak menahan hasratnya yang membara.


bersambung


Mohon dukungannya 🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2