
Theo langsung mencium bibir istrinya dengan liar saat sudah berada di dalam kamarnya. Tak menunggu sampai ranjang, setelah pintu kamar ditutup Theo dengan tak sabaran menarik pinggang istrinya menempel padanya erat.
Mencium bibir itu dengan rakus, menghisap, mengecup dan mengulum dengan menjelajahkan lidahnya masuk ke dalam mulut istrinya. Kalila tak melawan, menikmati ciuman suaminya. Bahkan Kalila juga melakukannya dengan sedikit liar mengimbangi permainan suaminya.
Dan tanpa sadar baju mereka sudah berserakan. Theo menggendong tubuh mungil istrinya di depan, spontan Kalila reflek melingkarkan kakinya di pinggang Theo, tanpa melepas ciuman itu. Theo membawanya menuju ranjang, tapi 'adik kecilnya' merasa tak sabar dan langsung menghentakkan hingga Kalila menjerit nikmat.
Theo belum menurunkan tubuh istrinya ke ranjang, dia ingin menikmati sensasi bercinta dengan posisi berdiri. Kalila yang sudah merasakan tubuhnya melayang seolah tak menyadari bagaimana posisinya, dia hanya merasa nikmat.
Theo menyandarkan tubuh Kalila ke dinding, memberikan hentakan kuat membuat Kalila semakin mendesah kenikmatan. Tak ketinggalan Theo mencari kepuasan dengan bermain-main di dada istrinya.
**
Kalila tertidur pulas setelah suaminya mengerjainya tak cukup sekali dua kali, entah sudah berapa kali Kalila tak ingat. Theo seperti orang kesetanan saat memulainya hanya karena kecemburuannya terhadap kakaknya.
Theo menatap wajah istrinya yang terlelap di hadapannya. Bayangan mimpinya beberapa waktu lalu menghantuinya lagi, Theo mencoba mengontrol emosinya. Ditariknya istrinya masuk lebih dalam ke pelukannya.
Apapun yang terjadi, aku tak akan melepaskanmu sayang, kau adalah istriku, kau adalah milikku, hanya milikku.
Theo mengecup puncak kepala istrinya lama. Dia begitu mencintai istrinya, hanya Kalila, lebih baik dia mati jika sampai Kalila meninggalkannya.
"Jangan tinggalkan aku! Tetaplah berada di sisiku bersamaku, aku mencintaimu." bisik Theo mengecupi seluruh wajah sampai rambut istrinya penuh cinta.
"Hmm.." Kalila yang setengah sadar hanya menjawab dengan deheman saja. Mereka pun sama-sama terlelap.
**
Derrick duduk di meja bar club hotel itu. Suara Theo terngiang kembali di telinganya sore tadi. Kuharap Theo junior akan segera hadir di perut istriku.
__ADS_1
Tangan Derrick mengepal erat, diteguknya lagi minuman di gelas itu entah sudah gelas ke berapa, wajah Derrick sudah memerah karena mabuk. Meski wajahnya memerah tatapan mata sendu masih ada di sana. Seolah merindukan seseorang yang tidak bisa digapainya.
**
Kalila membuka matanya perlahan menatap ranjang tak ada siapapun di sampingnya. Entah kemana suaminya itu pagi-pagi sekali, biasanya dialah yang akan bangun terlebih dulu. Tapi kini suaminya tak ada.
"Sayang..." panggil Kalila mengucek matanya dengan selimut ditarik sampai ke dadanya menutupi tubuh polosnya.
"Kau sudah bangun sayang?" jawab suaminya balik tanya masih sibuk mengemasi barang-barang mereka ke dalam koper.
"Kita mau kemana sayang?" tanya Kalila setelah jiwanya terkumpul dari tidurnya melihat suaminya terburu-buru mengemasi barang-barang mereka.
"Kita akan pulang sayang?" jawab Theo tak banyak bicara masih terus mengemasi barang-barang mereka.
"Bukannya masih dua hari kita disini?" tanya Kalila bingung masih duduk di ranjang mempertahankan selimutnya agar tidak jatuh yang menutupi tubuh polosnya.
"Ah, aku ingat ada pekerjaan yang harus segera kuselesaikan. Kita bisa lanjutkan bulan madu kita di rumah." jelas Theo beralasan.
"Baiklah. Aku mandi dulu." kata Kalila berjalan menuju kamar mandi membersihkan diri.
Meski Kalila penasaran kenapa suaminya mempercepat kepulangan bulan madu mereka, Kalila hanya menurut. Tak banyak bertanya lagi. Mungkin benar-benar ada yang penting yang harus dilakukan. Lagipula bulan madu bisa mereka lanjutkan kapanpun dan dimanapun, toh mereka adalah pasangan resmi. Kalila mengedikkan bahu mempercepat mandinya tak mau lama-lama suaminya menunggu.
"Sarapan sudah siap, kita sarapan sama-sama." ucap Theo setelah melihat istrinya selesai siap-siap dengan dress warna cerah model sabrina dan tak lupa sedikit polesan natural di wajahnya.
"Kau yang masak sayang?" tanya Kalila melihat nasi goreng telur yang menggiurkan membuat Kalila lapar.
"Ah maaf... aku memesannya, kau ingin makan masakanku?" goda Theo tersenyum manis.
__ADS_1
"Pasti sangat enak?" jawab Kalila antusias menatap suaminya lekat.
"Sayangnya aku tak bisa masak... maaf..." sesal Theo membuat Kalila sadar kalau Theo menggodanya.
"Sayang... kau menyindirku?" ucap Kalila tersipu malu.
"Hahaha...haha..." tawa Theo membuat Kalila semakin cemberut pura-pura kesal menatap ke arah lain.
Theo menarik dagu istrinya membuat melihat ke arahnya. Mengecup bibir istrinya sekilas.
"Jangan berpaling dariku!" tegas Theo menatap istrinya intens, mengusap sudut bibir istrinya lembut dengan raut wajah serius.
Kalila tertegun melihat tatapan mata suaminya terlihat takut sesuatu dan hal itu Kalila yakini menyangkut dirinya.
"Makanlah! Nanti keburu dingin, penerbangan kita 2 jam lagi, kita harus bergegas." jelas Theo mulai makan makanannya sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Selamat makan." jawab Kalila juga mulai makan makanannya dengan pikiran yang berkecamuk di benaknya.
bersambung
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
__ADS_1
.
.