Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 56


__ADS_3

Kalila kini ditinggalkan di ruangan kerja Theo. Suaminya itu langsung meeting begitu sampai di depan ruangannya. Sekretarisnya langsung mengatakan untuk datang ke ruang meeting karena sudah ditunggu di sana. Dan kini Kalila mau tak mau masuk sendiri ke ruang kerja suaminya yang jika dia butuh sesuatu ada asisten sekretaris Theo yang akan melakukan apa yang diinginkannya.


Kalila masuk ke dalam ruangan kecil pribadi di sebelah kursi kerja suaminya. Kalau tidak dilihat dengan seksama memang pintu kamar pribadi itu tidak terlalu kentara. Hanya beberapa orang saja yang tahu. Theo selalu beristirahat di ruangan itu jika terlalu capek.


Kalila menatap sekeliling ruangan pribadi itu terdapat ranjang yang lumayan besar meski tak sebesar di apartemen mewah mereka, tapi cukup untuk tidur berdua, mungkin?


Kalila mencoba duduk di ranjang, ranjang dan ruangan yang didominasi dengan warna abu-abu dan hitam terlihat maskulin sesuai kepribadian suaminya yang dingin dan datar. Kalila tersenyum saat melihat sekeliling ruangan itu teringat suaminya.


"Tuan, ada apa?" tanya asisten sekretaris itu saat melihat Derrick hendak menyelonong masuk ke dalam ruangan bosnya yang sedang tidak ada di ruangannya.


"Aku mau mengambil suatu berkas untuk rapat hari ini dan ini darurat." jawab Derrick langsung masuk tanpa menunggu jawaban asisten sekretaris itu.


Derrick mencoba mencari-cari berkas di lemari arsip dekat pintu, tapi tak ditemukan. Dan mencari dekat lemari arsip dekat meja kerja Theo. Tak ditemukan juga apa yang dicarinya. Derrick kembali mencari di laci-laci di bawah meja dengan berjongkok mencari satu persatu. Derrick sudah sering mencari tanpa permisi karena tau Theo sedang cuti entah apa alasannya.


Kalila yang tertidur jadi terbangun karena mendengar suara berisik di luar ruangan. Dia pun bangkit dari tidurnya dan keluar melihat mungkin suaminya sudah kembali dari meetingnya.


"Sayang, kau sudah selesai meeting?" ucap Kalila yang muncul tiba-tiba dari balik kursi kerja Theo dan bersamaan dengan Derrick yang berdiri setelah jongkok terlalu lama membuat punggungnya kaku.


"Aa..." Kalila reflek menutup mulutnya terkesiap saat tahu siapa yang ada di ruangan itu. Orang yang harus dihindari karena permintaan suaminya.


"Kalila..." sahut Derrick pun juga terkejut, Kalila ada di ruangan itu juga dan muncul tiba-tiba dari kamar di belakang kursi.


Mereka saling diam, saling menatap, tak ada yang memulai bicara. Hingga Derrick menatap ke bawah pada perut Kalila yang agak buncit.


"Selamat atas kehamilannya." ucap Derrick memulai pembicaraan. Kalila reflek mengelus perutnya.

__ADS_1


"Ah, makasih." jawab Kalila mengalihkan pandangannya.


"Kau... semakin cantik saja." basa-basi Derrick meski hatinya seperti dicubit. Wajah Kalila memerah, menjadi salah tingkah.


"Terima kasih kak.." jawab Kalila gugup.


"Kau masih tetap sama ya, tersipu malu saat aku mengatakan kalau kau cantik." ucap Derrick lagi menatap Kalila lekat yang berusaha menghindari tatapannya.


"..." Kalila terdiam tak menjawab, dia merasa tak enak hati dengan perkataan Derrick, yang membuatnya tak nyaman.


"Aku mau keluar..." alih Kalila beranjak menuju pintu keluar yang melewati Derrick, yang entah kenapa tangan Derrick reflek menarik pergelangan tangan Kalila hingga tubuh Kalila membentur dada bidang Derrick yang mengeratkan pelukannya pada tubuh Kalila.


Kalila yang tak mengira Derrick menariknya dalam pelukannya reflek menyentuh dada bidang Derrick untuk menjauhkan tubuhnya dari tubuh Derrick. Seketika Kalila merasa ketakutan dan bersalah seolah dirinya sedang selingkuh memeluk tubuh pria lain yang jelas-jelas itu ketidak sengajaan karena Derrick dengan tiba-tiba menariknya hingga Kalila terjerembab masuk ke dalam pelukan dada bidang Derrick.


"Seperti ini saja, sebentar. Kumohon..." bisik Derrick lirih.


"Tapi, kak...ini salah... aku tak mau membuat... suamiku marah...dan salah paham..." bisik Kalila lagi masih berusaha mendorong dada bidang Derrick yang tentu saja tenaganya kalah besar dengan tubuh Derrick yang tinggi besar dan kekar, apalagi tubuh Kalila yang mungil hanya sebatas di bawah leher Derrick.


"Tak adakah sedikitpun kesempatan untukku?" bisik Derrick dengan nada parau menahan dirinya karena sakit hatinya atas penolakan Kalila.


"Kakak harus ingat, aku adalah adik iparmu kak, istri adikmu, dan hubungan kita sudah lama berakhir." balas Kalila berbisik.


"Lalu, bagaimana dengan perasaanku, yang masih tetap sama sejak dulu. Apakah tak bisa kau pertimbangkan lagi?" bisikan Derrick semakin kencang dan pelukannya semakin erat membuat Kalila sesak nafas.


"Sesak kak, aku... tak bisa bernafas..." Derrick mengendurkan pelukannya. Dia merasakan ketenangan pada pelukan Kalila sesaat. Derrick menatap Kalila lekat yang masih mencoba mendorong tubuh Derrick menjauhinya meski Derrick tak membuatnya lepas.

__ADS_1


"Kak, kumohon lepaskan aku!" pinta Kalila memelas menatap Derrick mendongak karena tubuh tinggi Derrick.


Derrick sampai tak bisa fokus pada permohonan Kalila, dia menatap bibir mungil merah milik Kalila. Derrick mencium bibir Kalila dengan sedikit memaksa. Kalila mencoba mendorong, melepaskan dan memukuli dada Derrick memohon dilepaskan.


Tapi Derrick terus saja menciumnya brutal, hingga Kalila menghindarkan kepalanya ke kiri dan ke kanan tak juga mempan karena Derrick mencengkeram kedua pipinya. Tak terasa air mata Kalila menetes, tapi Derrick tak melepaskan, kini ciumannya turun ke bawah ke leher Kalila.


Kalila langsung berteriak meminta tolong tapi ruangan Theo kedap suara, sehingga tak terdengar keluar. Kalila yang mendapat serangan yang tak dikiranya membuat kehilangan tenaga, karena kedua tangannya dicengkeram dan ditahan oleh satu tangan Derrick ke atas kepalanya.


Derrick semakin menelusuri seluruh lekuk tubuh Kalila dari leher hingga turun ke bawah sampai ke dadanya, dan Derrick menyobek blouse Kalila dan bermain di dada Kalila. Derrick yang sudah kesetanan kalap tak mampu mendengar rintihan, jeritan dan tangisan pilu Kalila. Kalila pasrah, demi anak dalam kandungan dan kelemahannya tak mampu melawan lagi.


Dan dengan bodohnya suara desahan tanpa sengaja keluar dari mulutnya yang membuatnya menggigit bibir itu merasa bersalah. Derrick semakin bernafsu saat mendengar desahan dari bibir Kalila.


Dia meninggalkan banyak jejak di dada Kalila, terus menyusuri dada itu, menjilat, menghisap mencium aleora itu dengan nafsunya yang sudah di ubun-ubun. Kalila menggerakkan kakinya mencoba melawan lagi, tapi Derrick mengunci kakinya.


"Theo, tolong aku..." bisik Kalila yang sudah mulai menyerah atas pelecehan yang dilakukan Derrick, berharap suaminya muncul menolongnya.


bersambung


Mohon dukungannya 🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2