Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Episode 68


__ADS_3

Derrick merasakan tubuhnya sudah terasa enakan, rasa sakit dan lemah pada tubuhnya perlahan sembuh. Setelah perawatan intensif di rumah selama kurang lebih dua minggu Derrick berusaha memulihkan kondisinya agar benar-benar pulih dan melanjutkan aksinya kembali jika dirasa sudah benar-benar sembuh.


Kini dokter sudah melepaskan alat-alat medis dari tubuhnya setelah kejadian pingsannya terakhir kali. Kartika dengan setia mendampingi putranya dalam masa-masa sulitnya.


"Kau sudah bangun nak?" sapa Kartika saat melihat putra sulungnya membuka matanya.


"Ma, lapar ma." ucap Derrick untuk pertama kalinya bangun.


"Mama ambilkan makanan dulu." Kartika bergegas ke dapur dengan wajah berseri-seri karena setelah beberapa waktu ini putranya sulit untuk makan, kini minta makan sendiri.


Derrick bangun menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah beberapa saat dia muncul dengan pakaian bersih.


"Kau tampan sekali nak?" ucap Kartika membelai pipi putranya.


"Makasih ma." jawab Derrick duduk di sofa kamarnya diikuti Kartika dan menerima uluran makanan yang dibawa Kartika dan memakannya dengan lahap.


Di benaknya banyak rencana yang akan dilakukannya setelah ini. Jadi, dia ingin melakukannya setelah ini.


"Kau mau kemana nak?" tanya Kartika cemas melihat putranya membawa kunci mobilnya.


"Mau ke rumah teman ma, lama aku tertidur, aku ingin keluar sebentar." jawab Derrick memakai jas mahalnya.


"Biar diantar sopir ya nak?" pinta Kartika masih merasa cemas. Dokter mengatakan ingatannya masih belum kembali.

__ADS_1


"Ma, kumohon! Aku akan pulang sebelum makan malam." ucap Derrick memelas.


"Tapi kau baru bangun dan baru sembuh. Mama mohon pergi dengan sopir ya?" pinta Kartika lebih memelas memohon pada putranya.


"Baiklah ma." jawabnya menghela nafas panjang.


**


Kehamilan Kalila sudah memasuki usia sembilan bulan, perkiraan dokter mungkin tinggal menghitung hari menunggu kelahiran. Theo semakin posesif terhadap istrinya. Theo tak mengizinkan istrinya melakukan pekerjaan yang berat, yang mungkin bisa mempengaruhi kehamilannya.


"Sayang, hati-hati... Kenapa kau tak panggil aku?" seru Theo berlari mendekati istrinya yang hendak turun tangga.


Kalila memutar matanya malas melihat keposesifan suaminya. Theo langsung membopong tubuh istrinya untuk turun ke bawah, tak diizinkannya istrinya menuruni tangga sendiri. Para pelayan dan pengawal yang selalu mengikutinya sudah berkali-kali melarang tapi tak digubris oleh nyonya besarnya itu.


"Turuti apa kata suamimu nak!" sela suara seseorang dari arah pintu depan membuat Kalila reflek berdiri.


"Ibu? Ibu datang." seru Kalila senang, dia menghampiri ibunya Shinta yang baru tiba membawa sesuatu di dalam kantong yang dibawanya.


"Hati-hati sayang." seru Theo lagi tak didengar istrinya.


"Ibu bawa apa lagi." tanya Kalila antusias melihat isi kantong yang dibawa ibunya.


"Ibu bawa makanan kesukaanmu." jawab Shinta mengeluarkan makanan dari kantong itu.

__ADS_1


"Wah, ini kan kesukaanku Bu." ucap Kalila antusias. Suaminya yang ikut duduk di sofa ruang keluarga geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanak-kanakan istrinya.


"Kau mau makan nak?" tanya Shinta. Kalila mengangguk-angguk.


"Akan ku ambilkan piring." sela Theo beranjak ke dapur.


"Biar ibu nak." sela Shinta langsung ke dapur, tempat yang sudah sering didatangi saat berkunjung ke rumah putrinya.


Shinta sering berkunjung ke rumah putrinya saat usia kehamilannya memasuki delapan bulan. Mungkin seminggu sekali untuk membawakan makanan kesukaannya. Tapi, saat kandungannya mendekati melahirkan dua hari sekali Shinta datang untuk menemani putrinya jika sewaktu-waktu melahirkan.


"Nak Theo nggak ke kantor?"


"Saya mengerjakan dari rumah lagi, apalagi kehamilan istri saya sudah tinggal menghitung hari." jawab Theo.


"Ah, tentu. Kau harus jadi suami siaga jika sewaktu-waktu istrimu melahirkan." jawab Shinta.


bersambung


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2