Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 26


__ADS_3

Hari pernikahan, Kalila sudah dirias sejak pagi di dalam kamarnya. Kalila memilih dirias di kamarnya sendiri meski MUA yang dikirim Theo meminta merias di salon, tapi Kalila menginginkan untuk berangkat dari rumahnya menuju gereja tempat mereka mengikrarkan sumpah sehidup semati.


Semalaman Kalila sulit tidur memikirkan esok harinya merupakan hari bersejarah dalam kehidupannya. Dirinya sudah meyakinkan dirinya bahwa cintanya hanya untuk Theo, ntah godaan apapun dari masa lalunya yang tiba-tiba datang mengatakan masih menginginkan Kalila, Kalila tak ambil pusing.


Dirinya pun sudah meyakinkan diri bahwa dirinya tak mau menjadi orang ketiga dari rumah tangga mantan kekasihnya. Apalagi dirinya kini memiliki seseorang yang begitu mencintainya apa adanya. Bahkan keluarganya menerimanya meski perbedaan umur mereka terpaut jauh.


"Kak, sudah waktunya."ucap Aksa yang bertugas untuk menjemput kakaknya menuju gereja tempat pemberkatan pernikahan Kalila.


"Ya." Kalila tak menampik kegugupan dirinya.


Bagaimana pun ini pernikahannya sekali seumur hidup dengan orang yang dicintainya. Ya, dia mencintai Theo hanya Theo, masa lalu tetaplah masa lalu. Sekarang dia harus melangkah ke depan.


**


Papanya menangis terharu saat menatap putri semata wayangnya memakai pakaian pengantin putih yang menutupi seluruh tubuhnya. Dengan kerudung transparan yang menutup wajah cantiknya.


"Papa..."lirih Kalila ikut menangis terharu melihat papanya meneteskan air matanya.


"Kau sudah siap?"tanya papanya berusaha mengendalikan emosinya.


"Papa..." lirih Kalila memeluk papanya menangis terharu.


Papanya balas memeluk.


"Jangan menangis, pengantin harus tersenyum bahagia."ucap papanya membuat Kalila semakin menangis. Papa mengusap air mata Kalila, setelah menangis di bahunya.


"Sudah saatnya." ucap seseorang WO pernikahan yang menunggu di luar pintu tempat ruang rias pengantin.


Kalila digandeng papanya dengan jas hitam yang serasi dengan baju pengantin Kalila, berjalan menuju altar pernikahan dengan Theo berdiri di tengah dekat meja pendeta bersiap menikahkan mereka.


Theo yang tampan dengan balutan kemeja putih dan jas putih begitu menawan dan seksi. Dada bidang dan bahu lebarnya mengingatkan Kalila saat dirinya dipeluk di kamarnya kemarin lusa, wajah Kalila langsung memerah mengingat hal itu


Dirinya membuang pandangannya ke arah lain dan tanpa sengaja matanya menatap sosok yang dikenalnya berdiri dekat dengan papa mertuanya. Mata Kalila membelalak melihat siapa pria yang berdiri di dekat papa mertuanya.

__ADS_1


Begitupun pria itu diapun juga tersentak terkejut seolah melihat hantu, melihat siapa wanita yang berjalan dengan anggun dan cantik yang mampu menaklukkan hati adiknya yang fobia seorang wanita selain mamanya.


"Kak Fredy..."bisik Kalila lirih.


Kesadaran Kalila kembali saat papanya menyerahkan tangannya yang diterima oleh Theo. Kalila sempat tersentak, lamunannya buyar seketika dan dia menatap Theo yang memandangnya dengan tatapan tak dapat diartikan.


Entah kenapa Kalila merinding melihat tatapan tajam Theo. Theo menarik pinggang Kalila posesif saat sumpah janji sudah selesai diucapkan dan dilanjut dengan ciuman sah sepasang suami istri. Theo ******* bibir Kalila kasar, mengingat tatapan Kalila sesaat ke arah lain yaitu menatap kakaknya Derrick.


Entah kenapa perasaan Theo tak enak melihat keduanya menatap intens, seolah tatapan mereka ingin menelanjangi masing-masing.


Dan hati Theo panas, katakanlah Theo sesaat cemburu hingga ciumannya semakin liar dan sorakan para tamu undangan berseru, hingga malu sendiri melihat Theo yang begitu bernafsu.


Pukulan tangan Kalila di dadanya menyadarkan Theo akan dimana tempat mereka saat ini. Theo langsung menoleh menatap para tamu bersikap biasa saja, sedang Kalila wajahnya memerah menahan malu.


Derrick kakak Theo mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras melihat siapa suami Kalila yang ternyata adiknya sendiri, adik kandungnya.


Candaan dan godaan para tamu undangan langsung diarahkan pada Theo, karena merasa tak sabar akan malam pertama. Membuat Theo hanya berdehem.


"Kau capek?"tanya Theo melihat wajah Kalila kesakitan.


"Tak apa, hanya.. high heels ini menyiksaku?" bisiknya lirih di telinga Theo.


"Kita istirahat sebentar."ajak Theo memapah Kalila masuk ke ruang peristirahatan VIP.


"Istirahatlah."ucap Theo berjongkok melepas high heels Kalila, menatap telapak kaki belakang Kalila memerah karena memaksa memakai high heels.


"Kenapa kau memakainya? Lihatlah kakimu memerah pasti sakit sekali."ucap Theo.


"Kau yang mengirimkan sepatu ini dengan baju pengantin ini."ucap Kalila tak mau disalahkan.


"Seharusnya kau bisa memakai sepatumu sendiri yang lain, yang tidak terlalu tinggi kan?" jawab Theo lagi, sambil memijit dan membelai kaki Kalila yang memerah.


"Aku tak mau menyia-nyiakannya. Bagaimana pun juga ini pernikahan kita, kau pun... sudah menyiapkan semuanya... aku ingin pernikahan kita istimewa." Theo mendongak menatap Kalila haru, mengusap sudut bibir Kalila.

__ADS_1


Mereka saling menatap, Theo mencium bibir Kalila lembut. Kalila membalasnya dengan lembut juga.


"Tuan, ada.... maaf..."suara pelayan yang diminta papa Theo Mr. Jhon memanggilnya membalikkan tubuhnya saat melihat apa yang dilakukan sepasang pengantin itu membuat wajah pelayan memerah malu.


Theo berdecak kesal karena kesenangannya diganggu, sedang wajah Kalila memerah malu memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Ada apa?"teriak Theo galak menatap pelayan itu tajam.


Pelayan yang sudah berbalik menatap wajah Theo bergidik ngeri yang menatapnya tajam dan dingin.


"Tuan besar meminta anda menemuinya... karena banyak tamu... klien perusahaan yang.. masih ingin bertemu anda tuan..." ucapnya agak gugup ketakutan.


Theo mengesah kesal.


"Pergilah! Aku tak apa sendiri. Bagaimana pun mereka adalah tamu penting perusahaan." bujuk Kalila mengelus lembut lengan Theo.


"Aku akan segera kesana!"teriak Theo lagi pada pelayan.


"Iya tuan."jawab pelayan itu segera undur diri sebelum tuannya berteriak padanya lagi.


"Aku tak ingin pergi."ucap Theo lembut mengecup punggung tangan Kalila lembut bergantian.


"Aku akan menunggumu."ucap Kalila lebih lembut mengecup bibir Theo sekilas memberi semangat. Theo tersenyum manis balas mengecup bibir Kalila bertubi-tubi seolah tak rela melepaskannya. Kalila terkekeh geli, Theo pun tersenyum dan berlalu meninggalkan Kalila.


bersambung


Mohon dukungannya 🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2