
"Ma... Dimana Kalila ma?" guman Derrick menatap Kartika yang sedang berusaha menyuapi Derrick makan. Tapi masih terdengar oleh Kartika.
"Derrick..." Kartika tak kuat dan kembali menangis sesenggukan menutup mulutnya. Meletakkan makanan itu di meja samping ranjang tempat Derrick dirawat.
"Nyonya..." hibur seorang pelayan rumahnya yang sudah lama mengabdi di rumahnya yang diajaknya ke rumah sakit untuk menemaninya merawat putra sulungnya.
Kartika keluar kamar itu tak sanggup lagi mendengar gumaman rasa bersalah Derrick. Saat mendengar kabar pelecehan itu Kartika sempat shock dan terkejut. Apalagi wanita yang dilecehkan adalah adik iparnya yang diketahuinya sebagai wanita yang dicintainya sejak dia kuliah.
Kartika ingat dulu putranya pernah bercerita dengan antusias dan bersinar-sinar bahagia saat membahas wanita yang dicintainya itu. Tapi, dia langsung begitu shock dan terpukul saat Mr. Jhon mengatakan ingin menjodohkannya dengan putri rekan bisnisnya.
Derrick ingin melawan tapi teriakan papanya yang memaksanya untuk tidak membantah membuatnya urung untuk menolaknya. Dan saat Kartika menawarkan diri untuk bicara kembali dengan suaminya tentang perjodohan itu, Derrick menolaknya.
" Aku tak apa ma, aku mau menikah dengan wanita yang dijodohkan papa." jawab Derrick kala itu dengan raut wajah kesedihan yang disembunyikannya dalam senyumnya. Kartika memeluk tubuh putra sulungnya dan menangis.
"Maaf nak... maafkan mama..." bisik Kartika lirih dalam pelukan putranya.
Dan kini, pukulan bogeman mentah Theo yang membabi-buta serta tak sadarkan dirinya yang cukup lama. Membuatnya kehilangan ingatan sementaranya. Dia hanya ingat saat kuliah saja. Kejadian setelah kuliah tak diingatnya atau memang sengaja tak mau mengingatnya dan menyembunyikannya di bawah alam sadarnya. Bahkan pernikahan dan putrinya sendiri dia tak ingat.
"Ma... Kalila bilang kami mau kencan ma? Biarkan aku pulang ma? Kenapa aku disini ma? Aku nggak sakit ma?" ucap Derrick menatap Kartika antusias.
"Kalila... sudah menikah nak." jawab Kartika ragu dengan menahan kesedihannya.
"Nggak mungkin ma, nggak mungkin, dia bilang akan menungguku untuk bicara dengan kalian ma. Kalila berjanji hanya akan menikah denganku ma? Mama jangan bohongi aku ma?" rintih Derrick merasa dirinya terpukul mendengar perkataan Kartika.
__ADS_1
" Maaf nak... maafkan mama...maaf..." ucap Kartika menahan tangisnya menutup mulutnya agar tangisnya tak bersuara.
"Ma, aku mau menemui Kalila ma, aku harus bertemu dengannya ma?" pinta Kartika memelas memohon sambil menangis dengan menangkupkan kedua tangannya di dada seperti orang yang memohon.
Pengawal yang sengaja dibawa Kartika menahan tubuh Derrick yang berontak mau melarikan diri. Dokter yang sudah ditunggu segera datang dan memberikan suntikan penenang pada Derrick.
**
Theo memeluk tubuh istrinya yang tertidur pulas. Saat tertidur di gazebo tadi, Theo membopong tubuh istrinya ke kamarnya. Perasaannya campur aduk, sampai kapan terus seperti ini? Maaf... maafkan aku... batin Theo dalam pelukannya.
**
"Ya, bawa saja pekerjaanku ke rumah?"
"..."
"..."
"Kalau dia mau membatalkan, batalkan saja!" serunya mulai emosi.
"..."
"Aku tak peduli. Kau tau kenapa aku tak bisa pergi." bentaknya menutup ponselnya. Theo mengusap wajahnya kasar, menghela nafas dalam-dalam.
__ADS_1
"Sampai kapan seperti ini ya Tuhan... " bisiknya lirih.
Tok tok tok
Theo menuju pintu ruang kerjanya, setelah menerima panggilan telpon dari sekretarisnya.
"Ya?" menatap pelayan yang tadi mengetuk pintu dengan tatapan masih dingin dan tajam.
"Makan malam sudah siap tuan."
"Aku akan segera kesana!" seru Theo.
"Nyonya sudah menunggu di meja makan."
"Benarkah?" wajah Theo sontak berbinar dan langsung pergi menuju meja makan.
"Maaf sayang, menunggu lama ya?" tersenyum senang mengecup kening istrinya sekilas. Kalila hanya tersenyum senang.
bersambung
.
.
__ADS_1
.