Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Episode 67


__ADS_3

Theo mendekap erat tubuh istrinya yang sekarang sedang terlelap di dekapannya. Setelah kedatangan istrinya yang tiba-tiba menginginkan untuk duduk didekapannya ketika bekerja membuat Theo dengan senang hati mengabulkan keinginannya.


Dan kini tak sampai lima belas menit istrinya sudah terlelap di pangkuannya dengan tubuh mendekap erat tubuhnya. Theo menatap wajah istrinya yang terlelap, terlihat manis seperti seorang anak yang sedang tidur di pangkuan ibunya. Entah kenapa istrinya semakin menempel saja setelah percumbuan panas kami malam itu yang baru dia rasakan kembali pasca traumatik istrinya tentang kejadian buruk itu.


Permintaan papanya untuk kembali lagi ke perusahaan tidak diindahkan oleh Theo. Dan dengan alasan yang sama dengan tameng istrinya terpaksa Mr.Jhon tak memaksakan kehendaknya lagi. Mr.Jhon sedikit kuwalahan mengurusi perusahaan pasalnya Theo yang tak ada di tempat dan putra sulungnya Derrick yang sedang sakit.


Meski cidera fisik perlahan sembuh dan bekas lukanya sudah mulai hilang. Cidera mentalnya masih belum dikatakan sembuh, karena masih sering pingsan karena ingatan masa lalunya dan masa sekarang yang tumpang tindih.


Dan pengawalan dan pengawasan ketat pun dilakukan Kartika demi menjaga putra sulungnya agar tak nekat keluar rumah seperti beberapa waktu lalu. Derrick sempat meninggalkan rumah untuk menemui Kalila yang tentu saja dengan sedikit perjuangan untuk lolos dari rumah dari pengawasan dan pengawalan ketat Kartika.


Derrick berusaha mencari celah lolos diantara para pengawalnya. Namun belum jauh dari komplek tempat tinggal mereka Derrick keburu pingsan karena kecapekan untuk berusaha lolos dari pengawal. Dan saat terbangun lagi-lagi Derrick merasakan jarum infus tertancap di pergelangan tangannya karena tubuhnya yang melemah.


**


Theo membopong tubuh istrinya ke dalam kamarnya. Membaringkan di ranjang mereka perlahan berharap tidak membuat istrinya terbangun. Tapi, saat dirinya hendak kembali ke ruang kerjanya istrinya menarik jemari tangannya dan memohon untuk ditemani dengan mata berkaca-kaca penuh permohonan.


"Jangan pergi! Temani aku!" ucap Kalila lirih.

__ADS_1


"Kau ini sebenarnya tidur atau pura-pura tidur?" jawab Theo gemas membelai pipi istrinya lembut.


"Kau yang membangunkanku?" jawabnya.


"Aku memindahkanmu, takut kau tak nyaman tertidur di pangkuanku." hibur Theo masih mengusap rambut istrinya lembut penuh cinta.


"Maaf... mengganggumu.." lirih Kalila.


"Hei, apa yang kau katakan?" ujar Theo tak suka.


"Maaf, aku pasti mengganggu pekerjaanmu."


"Aku pasti merepotkanmu."


"Sayang, kumohon! Kau istriku, apapun yang kau inginkan, kau tetap nomer satu yang kudahulukan. Jadi, jangan katakan kau merepotkan atau kau menggangguku. Aku suka kau repotkan dan kau ganggu. Aku mencintaimu." Theo mendekap tubuh istrinya yang duduk bersandar di kepala ranjang.


"Terima kasih sudah menerimaku yang banyak kekurangan ini." Theo sontak menangkup kedua pipi istrinya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Dengarkan aku sayang, bagiku kau sempurna di mataku. Apapun kekuranganmu aku tak melihatnya sebagai kekurangan, aku melihatnya sebagai kelengkapan pada diriku yang masih kurang bisa menjagamu." ucapnya sendu di akhir kalimatnya.


Pikiran Theo teringat kejadian buruk itu, dia merasa gagal menjaga istri tercintanya hingga kejadian itu terjadi di ruangan kantornya sendiri. Theo terus saja meratapi kesalahan itu meski tak ditunjukkannya pada istrinya.


"Sayang." bisik Kalila lirih masih dalam dekapan tubuh suaminya.


"Ya." tanpa melepaskan dekapannya.


"Sesak." Theo spontan melepas dekapannya.


"Maaf..." mereka tersenyum senang.


bersambung


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2