Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 14


__ADS_3

Pagi sekali Theo sudah tiba di rumah Kalila berpakaian rapi. Meski Kalila tak mengiyakan ajakan kencan Theo, tapi bagi Theo itu adalah jawaban iya. Pagi itu dia sudah bersiap di depan rumah Kalila hendak mengetuk pintu, tapi...


Ceklek...


Suara pintu rumah terbuka, muncul Aksa di balik pintu.


"Oh, Theo ada apa? Pagi-pagi sudah rapi." celetuk Aksa menatap penampilan rapi Theo dari atas hingga kaki Theo.


"Aksa, Mbak Kalila ada kan?"


"Mbak Kalila? Masih tidur? Kenapa? Inikan weekend, mbak Kalila masih molor jam segini," jawab Aksa keluar rumah sambil membuka pintu.


Pletak..


"Siapa yang molor! Sembarangan." seru Kalila dari belakang Aksa menjitak kepala Aksa.


Aksa mengusap kepalanya mengaduh, terkejut melihat Kalila sudah berdiri di belakangnya berpakaian rapi bukan pakaian kerja. Theo hanya tersenyum sendiri melihat kedua kakak beradik itu berdebat. Dia sudah sering melihat mereka berdebat saat dirinya sering main ke rumah Aksa.


"Tumben mbak sudah bangun? Biasanya masih molor?"


"Enak saja! Cerita kapan itu, jangan sembarang ngomong," sela Kalila yang tak mau terlihat buruk di mata Theo.


Padahal Theo sudah hafal kebiasaan Kalila sewaktu masih kerap menginap di rumah mereka. Theo masih senyum sendiri menatap mereka yang belum juga selesai berdebat.


"Mau kemana mbak? Jangan bilang kalau kalian...." Aksa tak meneruskan kalimatnya, segera disela Kalila.


"Ayo pergi Theo...!" ajak Kalila menarik pergelangan tangan Theo meninggalkan Aksa yang masih dipenuhi tanda tanya.


"Kita mau kemana?" tanya Kalila tapi Theo hanya tersenyum menyodorkan helmnya pada Kalila dan menerimanya tak bertanya lagi.


Motor Theo melaju kencang membelah jalanan ibukota hilir mudik para pengguna jalan yang belum masih begitu padat karena hari ini adalah weekend. Tak banyak yang beraktifitas bekerja, hanya orang pekerja freelance yang masih terlihat melakukan aktivitasnya karena mereka tak mengenal tanggal merah, mereka hanya berpikir setiap hari kerja, karena mereka tidak tau kapan rejeki akan datang bisa saja rejeki datang saat hari dimana semua libur weekend dirinya mendapat rejeki lebih.


Kalila mendekap erat tubuh Theo agar tidak jatuh, Theo melajukan motornya dengan sangat kencang tapi hati-hati. Kalila masih penasaran akan diajak kemana oleh Theo, kemarin Theo hanya menyuruhnya untuk memakai celana karena Theo akan bawa motor, Kalila tak masalah, toh dia sudah pamit orang tuanya. Dan kedua orangtuanya tau tentang hubungannya dengan Iwan yang sudah kandas karena Iwan menghamili rekan kerjanya semasa workshop.


Awalnya orang tua Kalila marah dan terlihat kecewa, tapi melihat Kalila baik-baik saja bahkan tidak terlihat frustasi itu membuat orangtuanya hanya menghela nafas pasrah.

__ADS_1


Orang tua, terutama ibunya tau, kalau Kalila tak begitu mencintainya, makanya saat Kalila ditanya tentang rencana pernikahannya dengan Iwan, Kalila tak pernah menjawab malah terkesan menghindar.


Tak cukup sampai disitu, setelah kabar putusnya dengan Iwan belum ada sebulan, Kalila mengatakan kalau ada seorang pria yang disukainya. Dan yang membuat lebih terkejut pria itu adalah Theo, Theo memaksa untuk mengatakan terus terang kalau dirinya serius dengan Kalila, Theo berusaha membujuk dan merayu orang tua Kalila agar merestui mereka.


Theo berjanji akan mencintai dan menjaga dengan tulus meski Kalila berumur jauh di atasnya. Karena orang tua Kalila sudah sangat mengenal Theo, orang tua Kalila merestui tapi dengan syarat jangan melampaui batasan, bagaimanapun Theo berumur jauh di bawah Kalila yang mungkin saja sifatnya masih labil dan kekanakan.


Setelah satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai. Theo memarkir motornya, Kalila melepas helmnya sambil menatap kagum keindahan alam yang mereka datangi.


"Wah, indah sekali. Dimana kita?" tanya Kalila setelah mereka masuk dan duduk di pinggir tebing yang dikelilingi pagar yang sengaja dibuat sedemikian rupa agar bisa digunakan sebagai tempat wisata masyarakat sekitar.


Kalila merentangkan kedua tangannya menarik nafas dalam-dalam menikmati udara pegunungan yang sejuk. Theo mendekap tubuh Kalila dari belakang. Kalila yang tidak mengira apa yang dilakukan Theo tersentak menoleh ke belakang tak sengaja bibir mereka dekat hanya berjarak satu senti, Theo mencium bibir Kalila lembut.


Kalila membalikkan tubuhnya menghadap Theo tanpa melepas ciuman Theo mengalungkan tangannya ke leher Theo menikmatinya, Theo semakin mempererat dekapannya, tangan satunya menekan tengkuk Kalila memperdalam ciuman mereka mencumbu seluruh wajah Kalila serta lehernya.


Kalila segera tersadar dimana mereka berciuman dan melepas ciuman Theo. Theo yang sudah berkabut gairah menatap Kalila lekat dan mereka berciuman lagi.


Setelah cukup puas berjalan-jalan di sekitar tempat wisata itu dengan suasana yang sedikit canggung karena ciuman tadi. Siang itu mereka memutuskan untuk makan siang.


Mereka mencari warung makan di tempat wisata itu, makan siang itupun dilalui masih dengan canggung oleh Kalila, tapi tidak dengan Theo. Theo justru tersenyum senang dan bahagia bisa menatap Kalila yang malu-malu padanya.


"Aku juga akan ikut menemani." jawab Theo.


"Jangan!"


"Kenapa?" mereka saling menatap.


"Kita setuju untuk tidak memberi tahu mereka tentang hubungan kita? Lagipula kau putra Presdir kami, pasti semua akan heboh jika tau," tolak Kalila.


"Aku tak peduli, aku malah ingin memperkenalkanmu secara resmi sebagai pacarku pada mereka."


"Tidak!"


"Tidak? Mereka pasti akan membicarakanmu tentang hubunganmu dengannya dan aku tak mau mereka berpikir buruk tentangmu."


"Tidak apa. Sungguh, tak akan ada yang berani bicara apapun tentangku, toh kami berpisah secara baik-baik." jelas Kalila.

__ADS_1


"Kenapa keras kepala. Aku tak mau merahasiakan hubungan kita lagi," protes Theo tak terima.


"Theo, kumohon! Bersabarlah, bagaimanapun kau adalah putra Presdir dan aku hanya pegawai rendahan di kantormu, apalagi aku baru putus dari mas Iwan mereka pasti berpikir aku sudah menggoda putra Presdir." mohon Kalila.


"Itulah sebabnya kita harus mengumumkan hubungan kita agar tak ada yang berani merendahkanmu, lagipula tanpa digoda aku sudah tergoda padamu," senyum Theo menggoda membuat wajah Kalila memerah.


"Kumohon? Aku belum siap mereka tau?" mohon Kalila mengusap punggung tangan Theo mencoba membujuknya.


"Sampai kapan?" terlihat Theo menghela nafas masih belum terima keputusan Kalila.


"Setidaknya sampai aku siap."


"Kapan itu? Kapan tepatnya?" tanya Theo tak sabaran.


"Setidaknya tidak dalam waktu dekat ini?"


"Aku bilang kapan tepatnya, aku tak mau berlama-lama menunggu untuk menyembunyikan hubungan kita."


Kalila diam berpikir, entah apa yang diragukan Kalila, bagaimanapun Theo sudah membuktikan seberapa besar perasaannya pada Kalila, namun hati Kalila masih ragu, bukan ragu tentang perasaan Theo tapi ragu tentang hubungan mereka di masa depan.


Bagaimanapun umur mereka terpaut jauh lebih muda Theo dan Theo adalah seorang putra Presdir yang mungkin suatu saat nanti dia akan dijodohkan oleh orang tuanya. Kalila tak mau kecewa dan sakit seperti dulu lagi, ketika kekasihnya dulu yang sudah sangat dicintainya lebih memilih menerima perjodohan orang tuanya daripada mempertahankan hubungan mereka.


bersambung


Mohon like dan rate nya...


Makasih 🙏🙏


Sekalian sedikit vote nya..


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2