
Derrick terduduk di kursi gazebo belakang rumahnya, sudah seminggu dia di rumah. Banyak pikiran yang terlintas di benaknya. Tentang ingatan yang simpang siur. Derrick bingung ingatan siapa yang terlintas di benaknya itu.
Dia benar-benar tak ingat pernah melakukan hal itu. Derrick berusaha mengorek ingatannya tentang masa lalu yang terlintas tak sama dengan yang diingatnya bahkan ada seseorang berteriak minta tolong dari paksaan seseorang yang hendak melecehkannya.
Derrick merasakan berdenyut di pelipisnya mengingat kejadian itu tapi dia benar-benar tak ingat. Derrick memejamkan mata guna mengendalikan dirinya. Nafasnya memburu, ngos-ngosan, matanya berkunang-kunang. Derrick mencoba menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi itu.
"Kau tak apa sayang?" tegur Kartika yang melihat putranya bersandar seperti sedang kelelahan.
"Tak apa ma, hanya sedikit pusing."
"Apa? Pusing? Kalau begitu cepat masuk ke kamarmu, tidur dan Istirahatlah!" Kartika menarik tangan Derrick namun ditolak halus oleh Derrick.
"Aku sumpek ma di kamar terus. Biarkan aku duduk disini sebentar." pinta Derrick.
"Tapi kau bilang sakit nak?" cemas Kartika.
"Sungguh ma tak apa, toh aku hanya disini tak akan kemanapun." hibur Derrick. Kartika menghela nafas panjang dan ikut duduk di samping putra sulungnya.
__ADS_1
**
Theo sedang mengerjakan pekerjaannya di ruang kerjanya bersama sekretarisnya. Dia mengantarkan berkas-berkas laporan itu setiap satu minggu sekali kecuali jika berkas itu mendesak, dia akan segera mengantarkan ke rumah bosnya.
Dan semua pertemuan yang bisa dihendel sekretarisnya dia lakukan. Kalau terpaksa mau tidak mau dia akan melakukan meeting online lewat apli**si tertentu.
Entah kenapa Kalila sangat merindukan suaminya siang itu. Dia beranjak menuju ruang kerja suaminya masih dengan diikuti beberapa pelayan dan pengawal yang menjaganya.
"Kalian pergilah, aku mau menemui suamiku. Aku sudah tak apa jika bersama suamiku." ucapnya pada pelayan dan pengawal itu.
Mereka tak menjawab dan tak bergeming dari tempatnya. Dan itu artinya ucapan Kalila tak dihiraukan mereka. Mereka hanya menurut pada kata-kata suaminya. Kalila menghela nafas berat, masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Akhir-akhir ini moodnya buruk dan ingin sekali mendekat pada suaminya kalau perlu dia akan menempel sepanjang hari.
Theo tersentak pintu ruangannya tiba-tiba terbuka karena dirinya saat itu tengah membicarakan hal serius dengan sekretarisnya. Theo hendak mengumpat, tapi saat tahu istrinya yang muncul. Dia mengurungkan niatnya malah tersenyum melebar karena istrinya berinisiatif menghampirinya sendiri seperti kemarin.
"Sayang, ada apa? Kau butuh sesuatu?" tanya Theo dengan nada lembut. Kalila berhenti di depan keduanya hendak mengurungkan niatnya mendekati suaminya yang sepertinya terlihat sedang membicarakan hal penting.
"Tidak ada. Kau membutuhkan sesuatu atau kau ingin sesuatu?" tanya Theo bertubi-tubi. Kalila menatap suaminya dan beralih menatap sekretarisnya yang menunduk di depannya. Sedang pelayan dan pengawal yang mengikuti Kalila tadi hanya berjaga di depan pintu.
__ADS_1
"Apa kau sedang sibuk? Apa aku mengganggumu?" tanya Kalila merasa bersalah.
"Tentu tidak. Kau kembalilah ke kantor, nanti aku akan menghubungimu." usir Theo pada sekretarisnya itu.
"Baik tuan." diapun undur diri.
"Tutup pintu sekalian." teriak Theo. Yang hanya dijawab dengan anggukan kepala. Theo hendak pergi menghampiri istrinya.
"Stop!" teriak Kalila pada suaminya. Theo mengurungkan niatnya untuk berdiri dan duduk kembali.
"Aku yang ingin kesana." ucap Kalila mendekati kursi suaminya dan naik ke pangkuannya dan memeluknya erat.
"Aku merindukanmu. Aku... ingin seperti ini. Sebentar saja." pinta Kalila mendekap erat tubuh suaminya yang kebingungan karena tak seperti biasanya istrinya sangat manja hari ini.
bersambung
.
__ADS_1
.
.