
Derrick tak bisa menemukan Kalila di lantai atas, entah dia menginap dimana. Derrick segera turun, kembali ke restoran yang sudah dipesannya tadi. Tiba-tiba dirinya teringat dan langsung berjalan menuju lobi bagian informasi setelah keluar dari dalam lift.
"Permisi mas, bisa tanya sesuatu?" pinta Derrick memelas.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" jawab petugas bagian informasi itu ramah.
"Apa saya boleh tau kamar atas nama Theodore Bryan Harisson ada di kamar berapa ya?" tanya Derrick ragu mencoba membuat petugas informasi itu mau memberikannya informasi.
"Maaf tuan, data seluruh tamu hotel adalah privasi dan kami tidak bisa memberikan pada orang asing. Sekali lagi maaf." jawab petugas itu menundukkan kepalanya memohon maaf.
"Ah, saya kakaknya, saya ingin mengejutkan adik saya." ucap Derrick mencoba meyakinkan tapi petugas itu malah menatapnya penuh curiga.
Derrick segera mengeluarkan kartu identitasnya dan menyerahkan pada petugas itu untuk meyakinkan diri bahwa dia bukan orang asing atau orang sembarangan yang mencoba mencari-cari alasan.
Petugas itu membaca kartu identitas itu dan terkejut langsung menundukkan kepalanya berkali-kali memohon minta maaf.
"Maaf tuan saya tidak tahu, maaf sekali lagi, saya minta maaf." ucap petugas itu merasa bersalah.
"Tak apa, kau bisa memberikan saya informasi dia ada di kamar berapa?"tanya Derrick lagi.
"Tentu tuan. Sebentar..."
Petugas itu mengetik nama yang disebut Derrick dalam komputer itu.
"Ah, mereka berada di kamar presiden suite lantai teratas VVIP tuan?" ucap petugas itu.
Derrick tak bertanya lagi, dia tau hotel lantai paling atas cuman ada satu di hotel itu. Kamar itu tak bisa digunakan oleh orang sembarangan jika mereka tak reservasi beberapa bulan sebelumnya.
Derrick langsung pergi meninggalkan meja informasi menuju restoran, bukan sekarang dirinya menemui mereka. Perutnya merasa lapar setelah berlari-lari mencari keberadaan Kalila. Entah kenapa dirinya menjadi bersemangat, padahal tujuannya datang kesini untuk menghilangkan bebannya sejenak agar dapat melupakan Kalila.
Tapi, entah takdir apa malah membuatnya bertemu dengan Kalila tanpa sengaja disini. Derrick tersenyum senang, hatinya menghangat.
**
Kalila membuka matanya perlahan, terlihat wajah suaminya terbaring terlelap di sisinya. Tangan beratnya mendekap erat tubuhnya, seketika Kalila tersenyum bahagia. Ditatapnya wajah suaminya penuh kekaguman dan cinta, menelusuri seluruh wajah suaminya yang sangat menawan.
"Jangan menggodaku? Kau mau membangunkannya?" bisik Theo parau menahan hasratnya yang sudah kembali.
Ditindihnya tubuh istrinya intens masih dengan lutut menahan untuk tidak terlalu menekan tubuh Kalila.
"Morning sex..."bisik Theo membuat wajah Kalila memerah malu.
__ADS_1
"Sayang...itu..." tak sampai Kalila meneruskan kalimatnya, Theo kembali 'menyerang' bibirnya, ini entah sudah ke berapa sekian kalinya Theo tak melepaskan walau hanya sebentar.
Hingga percintaan panas mereka terjadi lagi.
"Semoga ada Theo junior disini." ucap Theo setelah menuntaskan hasratnya dan mengecup perut Kalila lama. Kalila hanya tersenyum senang.
**
Derrick berangkat ke perusahaan yang diurusnya, keinginannya untuk memberi kejutan pada adiknya dan adik iparnya harus sedikit ditunda, karena sopir yang menjemputnya kemarin di bandara sudah datang menjemputnya sesuai instruksinya kemarin.
Derrick berdecak kesal, dia sungguh lupa sudah memberikan pesan pada sopir perusahaan ini. Mau tak mau Derrick terpaksa mengikuti sopir itu mengurus pekerjaannya dulu.
**
"Sayang ... kita jalan-jalan dan beli oleh-oleh untuk semua keluarga di rumah." ucap Kalila setelah ganti baju melihat Theo baru keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk di pinggangnya.
Theo mendekap tubuh Kalila dari belakang menatap bayangan istrinya di cermin.
"Kita tak perlu membeli oleh-oleh untuk mereka. Mereka sudah punya semuanya." jawab Theo mengecupi leher Kalila mesra dan tentu saja membuat nafsunya kembali lagi segera dicegah Kalila.
"Jangan mulai lagi, kau sudah berjanji akan mengantarku membeli oleh-oleh untuk semua keluarga." ucap Kalila mendorong tubuh Theo menjauh darinya.
Suaminya sudah bercerita kalau Savira adalah tetangga masa kecilnya saat di Belanda tempat asal papanya. Setelah pindah kemari Theo tak pernah bertemu baru kemarin mereka bertemu kembali.
**
"Theo... kau masih disini?" sapa seseorang yang ternyata adalah Savira, seperti biasa dia memeluk suaminya meski tak ditanggapi antusias oleh Theo tapi Kalila tetap cemburu, bagaimanapun juga sekarang Theo adalah suaminya, Kalila tak mau suaminya disentuh-sentuh sembarangan oleh orang lain apalagi seorang wanita.
"Savira..." sapa Theo balik.
"Kau mau makan siang? Bagaimana jika kita makan siang bersama?" ajak Savira yang langsung bergelayut mesra tangannya di lengan Theo, Theo langsung mendapat tatapan tajam dari istrinya dengan menggelayutkan lengannya pada lengan Theo yang lain. Theo berusaha melepas tangan Savira, dirinya risih dan merinding saat Savira menyentuhnya.
"Maaf kami sudah makan siang dan ingin jalan-jalan berdua saja." jawab Kalila menyela tanpa menunggu Theo menjawab. Kalila langsung menarik lengan Theo menjauh dari Savira, hati Kalila serasa diremas melihat sok akrabnya Savira pada Theo, dan itu membuat Kalila tak suka. Theo hanya tersenyum senang melihat istrinya cemburu.
"Aku ambil mobil dulu, tunggulah di lobi hotel." ucap Theo berbelok ke arah parkiran mobil yang disewanya saat tiba di pulau ini.
Kalila hanya mengangguk mengiyakan. Dirinya duduk di sofa lobi menunggu suaminya. Karena cuaca panas Kalila memakai dress model sabrina berwarna putih bergaris hitam membuat bahu putih Kalila terlihat mulus, dan tak lupa topi pantai untuk menutupi teriknya matahari siang itu.
"Kalila..." sapa seorang pria yang baru tiba dan menghampiri Kalila yang terlihat sendiri.
Kalila mendongak menatap ke arah pria yang menyapanya.
__ADS_1
"Revan."jawab Kalila menyapa balik.
"Kau menginap di hotel ini juga?"tanya Revan basa-basi yang ternyata Kalila mengingat dirinya.
"Ah iya, kami menginap disini,ehm kau juga?" tanya Kalila balik.
"Ah benar, ada bisnis yang harus saya urus disini, kami mau bertemu klien disini dan sudah setengah jam lebih sepertinya dia akan terlambat." ucap Revan dengan wajah yang dibuat menyesal sambil menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ah begitukah...."
Tin tin
Suara bel mobil di luar gedung hotel membuat semua orang mau tak mau menoleh menatap mobil itu yang ternyata Theo, menatap dirinya tajam dan dingin.
"Ah maaf, sepertinya suamiku sudah datang. Permisi." pamit Kalila sambil menundukkan kepalanya dan berjalan menuju mobil Theo.
"Sudah kukatakan jangan bicara dengan orang asing." seru Theo emosi, Theo melihat Kalila tersenyum pada orang asing apalagi seorang pria membuatnya tak suka.
Dirinya berdecak kesal dan cemberut di sepanjang jalan menuju tempat tujuan mereka.
"Sayang ... dia Revan, yang kita temui kemarin. Dia hanya menyapa saja. Lagipula dia ada di sana karena janji dengan kliennya." jelas Kalila agar tidak membuat suaminya salah paham tapi karena Theo yang sudah terbakar cemburu tak mau penjelasan apapun.
Sepanjang perjalanan dia masih tetap cemberut mendiamkan istrinya. Kalila menghela nafas. Meraih jemari tangan Theo yang bebas mengecup punggung tangannya.
"Maaf..." ucap Kalila lirih mengalah saja menunjukkan wajah puppy eyes nya, membuat Theo luluh dan tersenyum membelai rambut Kalila penuh cinta.
"Jangan lakukan lagi. Kau tak perlu menanggapi mereka yang mengajakmu bicara apalagi orang asing." ucap Theo lembut tersenyum penuh cinta ganti mengecup punggung jemari tangan Kalila lembut.
bersambung
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih 🙏🙏🙏
.
.
.
__ADS_1