Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 9


__ADS_3

"Bercandamu gak lucu," ucap Kalila.


"Aku gak bercanda," balas Theo. Kalila membenahi duduknya menatap Theo.


"Kau mau membuatku menjadi orang yang jahat?" tanya Kalila.


"Apa yang kulakukan?" tanya Theo tak mengerti.


"Kau tau kau berusaha merayu untuk merebut calon istri orang?" jawab Kalila.


"Baru calon belum istri, belum sah, juga masih ada kesempatan untuk merebutnya?Kalau aku mau!" ucap Theo lirih di akhir kalimatnya.


"Kau mau membuatku merasa bersalah menyakiti calon suamiku?" tanya Kalila masih belum berhenti mendebat.


"Lalu apa mbak juga tidak merasa bersalah padaku? Karena menolakku?"btanya Theo balik, menatap Kalila lekat. Kalila terlonjak.


"Kau yang terlambat datang.."


"Apa mbak berpikir untuk mempertimbangkan perasaanku lagi?"


"Aku tak mau menyakiti banyak hati lagi.." jawab Kalila setengah menunduk sebentar dan menatap Theo lagi.


"Apa mbak tak merasa juga telah menyakiti perasaanku...?"


"Maafkan aku..." lirih Kalila.


"Jika aku datang lebih cepat, apakah mbak mau mempertimbangkan perasaanku lagi?" desak Theo penuh harap. Kalila menatap Theo lama.


"Mungkin....tidak.." jawab Kalila sedikit ragu.


"Kenapa? Mbak bilang aku terlambat datang?"


"Aku tak mungkin memilih anak kecil sepertimu."


"Hei...aku sudah bukan anak kecil, aku sudah dewasa, umurku 25 sudah dewasa." teriak Theo tak mau kalah.


"Ya umurmu 25 sudah dewasa, sudah waktunya bersama pacar dan umurku 32 sudah tua, tak pantas orang dewasa bersama orang tua sepertiku." jawab Kalila merendah.


"Kenapa mbak mempermasalahkan tentang umur. Bagiku umur tak masalah selama kita nyaman dan saling mencintai." telak Theo.


"Kau bisa lihat kau masih 25 dan aku 32 selisih kita 7 tahun Theo 7 tahun. Kau bisa mencari orang yang seumur denganmu untuk menjadi pendampingmu bukan orang tua sepertiku."


"Aku tak peduli berapapun umur pendampingku nanti, asal aku mencintai orang itu, biarpun itu orang tua seperti mbak?"


"Kau memang masih kecil, masih banyak dan panjang hal yang harus kau lakukan?" ucap Kalila mengusak rambut Theo lagi gemas.

__ADS_1


"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, aku sudah katakan kalau aku sudah dewasa, aku bisa membuktikannya." balas Theo tak terima, Kalila semakin tertawa terbahak melihat wajah Theo cemberut.


"Oh ya, coba buktikan kalau dirimu sudah dewasa?" tantang Kalila semakin seru menggoda Theo yang merajuk seperti anak kecil.


"Di sini?"


"Ya, disini? Kenapa? Katanya sudah dewasa?Orang dewasa tak pernah takut di tempat umum?" ucap Kalila lagi masih menggoda Theo.


"Mbak gak akan menyesal ingin aku buktikan disini?"


"Kenapa mbak harus menyesal? Memang apa yang akan kau lakukan un..." ucapan Kalila tak dilanjut saat Theo mengangkat tubuhnya berlutut mendekati Kalila mencium bibir Kalila dan menekan tengkuk Kalila memperdalam ciumannya.


Kalila yang terkejut dan sadar segera mendorong tubuh Theo menjauh tapi Theo semakin memperdalam ciumannya. Semua orang di tempat makan itu serentak berteriak terkejut ada yang menutup mulut mereka, menutup mata dan bersorak.


Theo melepas ciumannya. Kalila menghirup udara sebanyak-banyaknya, ia tak siap dan kehabisan nafas saat Theo mencuri ciuman darinya. Wajahnya memerah menahan malu.


"Mbak yang mau aku membuktikannya disini dan orang dewasa tak akan takut dan malu untuk melakukan apapun. Kalau mbak mau aku membuktikannya bahwa aku sudah dewasa aku bisa melakukan yang lebih jika...mbak mau," ucap Theo mesum.


"Hei kau ya anak...ups mesum..."Kalila berteriak memerah malu hampir berdiri pergi tapi tangannya ditahan Theo.


"Mbak mau lari? Atau jangan-jangan mbak yang belum dewasa?" goda Theo membuat wajah Kalila semakin memerah malu.


"Si..siapa yang lari...aku mau ke toilet..." jawab Kalila yang sudah sangat malu berlari ke toilet tempat makan. Theo tersenyum puas melihat kegugupan Kalila.


Kalila masuk toilet terduduk di atas kloset duduk menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya. Sangat malu sekali, disentuhnya bibirnya perlahan mengingat kembali ciuman Theo tadi dan membuatnya memerah lagi.


Kalila keluar dari bilik toilet menuju wastafel dan mencuci wajahnya menatap wajahnya yang masih sedikit memerah, Kalila mencoba mengontrolnya.


Kalila kembali ke meja tempatnya makan, pesanan mereka sudah datang.bSemua pelanggan tempat makan itu tersenyum menatap Kalila yang mengetahui kejadian tadi.


"Kenapa lama sekali mbak?vAyo makan, keburu dingin" ajak Theo merasa tak bersalah membuatnya tak nyaman.


Memang karena siapa aku seperti ini?batin Kalila menatap tajam Theo. Theo hanya tertawa mengerti arti tatapan Kalila.


"Mbak mau lagi kah?" goda Theo.


"Theo ...ya!" teriak Kalila dan Theo semakin terbahak saja.


Saat di parkiran. Theo mengambil motornya.


"Lebih baik aku naik taksi, kau tak usah mengantarku." tolak Kalila mengembalikan helm Theo yang baru diterimanya. Theo menarik pergelangan tangan Kalila menahannya.


"Kenapa mbak? Mbak mau menghindar lagi?"


"Tidak. Tapi kurasa setelah ini kita tak akan bisa nyaman." jawab Kalila gugup.

__ADS_1


"Kurasa yang tidak nyaman hanya mbak?vAku nyaman kok? Dan aku juga gak menyesal telah mencium mbak tadi? Aku juga tak menganggap ciuman tadi adalah kesalahan seperti yang dulu?"


"Theo itu..."


"Kenapa mbak?"


"Itu..."


"Apa mbak tak mau memikirkan perasaanku kembali? Aku bisa menunggu? Aku akan menunggu dengan sabar..."


"Ah...kurasa kita harus menghentikannya, pembicaraan ini sudah terlalu jauh," Kalila hendak berbalik dan ditahan Theo.


"Aku tetap akan memperjuangkan cintaku mbak, sebelum mbak sah menjadi istrinya aku tak akan menyerah terhadap mbak? Apapun akan kulakukan untuk membuktikannya, jadi persiapan diri mbak?" ucap Theo yakin sambil berjalan mendekati motornya.


"Theo..." panggil Kalila merendahkan suaranya, Theo berbalik lagi.


"Apa....menurutmu.... seandainya...ini seandainya... seandainya kita berhubungan pun apa menurutmu hubungan kita bisa berhasil kedepannya? Bagaimana dengan orang lain?" tanya Kalila ragu dan tergagap.


"Kenapa mbak harus memikirkan pandangan orang lain? Kita yang menjalani? Kita yang melakukan? Kenapa harus memikirkan pendapat orang lain? Kita hanya perlu membuat hubungan kita berhasil?"


jawab Theo yakin sambil menatap Kalila lekat.


"Orang tuamu bagaimana? Seandainya hubungan kita terjadi bagaimana dengan orang tuamu? Apa kau berpikir mereka mau menerimaku, yang sudah tua ini?" Theo menatap mata Kalila penuh selidik, sedikit terpancar kesedihan, hanya sebentar.


"Aku akan memperjuangkan cintaku,"


"Jika mereka tak merestui?"


"Aku tetap bertahan memperjuangkan cintaku."


"Bagaimana jika orang tuamu menjodohkanmu dengan orang lain? Untuk kepentingan bisnis mungkin? Kalian orang kaya biasanya pernikahan hanyalah formalitas saja untuk memperbesar bisnis mereka?" Theo menatap penuh selidik, masih menanggapi semua pertanyaan Kalila tanpa bantahan.


"Aku akan menolak dan membuktikan bahwa cinta yang kupilih tidak salah dan akan terus memperjuangkannya."


"Kau yakin bisa melakukan terhadap orang tuamu? Bagaimanapun mereka orang tua kandungmu, orang tua yang melahirkan dan membesarkanmu? Kau tak takut hal itu akan mengecewakan mereka?" tanya Kalila masih belum berhenti.


"Jika mereka memaksaku aku tak akan menikah selamanya. Daripada menikah dengan orang yang tidak kucintai lebih baik aku mati. Bagiku seperti kematian menghampiri jika kita harus merelakan cinta kita sedang hal itu bisa kita perjuangkan." jawab Theo meluap-luap menatap Kalila lekat.


"Aku tak yakin...biasanya saat kita dihadapkan pilihan untuk memilih diantara orang tua kita, kita akan lemah untuk tidak melakukan keinginan mereka, bahkan mereka bisa meninggalkan segalanya demi orang tua kita..." jawab Kalila melemah.


Ya, dulu orang yang sangat dicintainya yang katanya akan berjuang dengan segala cara apapun pernah mengatakan tapi saat dihadapkan pilihan itu, kata-kata yang sering diucapkan itu seolah tak pernah diucapkan.


bersambung


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2