
Sudah 2 minggu sejak Kalila putus dari Iwan, sejak itu pula Kalila menghindari untuk bertemu Theo, beruntung jadwal Theo padat untuk mengurus pembukaan cabang baru hotelnya, sehingga tidak menggangu aktifitas Kalila.
Sampai hari ini, kepala bagiannya menyuruhnya untuk mengantarkan berkas laporan keuangan yang dibuat Kalila ke ruang atasannya. Kalila mengerutkan alisnya berpikir lama, biasanya dia tak pernah sekalipun disuruh untuk mengantarkannya.
Itu tugas dari bu Kabag di timnya, dia bertugas membuat, kalaupun ada yang ditanyakan semua akan dibahas pada rapat meeting bulanan tim dan atasan bagian keuangan langsung bukan atasan utamanya.
Dan kini Kalila sudah berada di dalam lift menuju lantai paling atas tempatnya bekerja untuk mengantarkannya sekaligus ada yang mau dibahas mendesak dalam laporan itu dan tidak dapat menunggu sampai meeting akhir bulan.
Kalila berjalan mendekat meja dekat pintu ruangan Presdir meminta izin untuk mengantarkan laporan itu dan meletakkannya di meja itu tapi ditolak karena atasannya meminta mengantarkannya langsung ke dalam ruangannya.
"Masuk..." seru suara di dalam ruangan saat Kalila mengetuknya.
Dibukanya pintu perlahan, Kalila berharap tak bertemu Theo, selama ini dia sudah menghindar sebaik mungkin agar jangan sampai bertemu dengan Theo. Apalagi ini di kantor, Theo bisa saja membuat heboh gosip kantor tentang mereka, apalagi Kalila yang baru saja putus dengan Iwan.
Kalila masuk melihat Theo yang tampak gagah duduk di kursi kebesarannya, Ah, kita memang tak sebanding, jarak kita terlalu jauh, batin Kalila melamun tapi segera ditepisnya pikirannya.
Belum ada yang bicara, Theo terlihat sibuk memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di meja itu, berulang kali dilihatnya, Theo memang tampan apalagi jika sedang serius bekerja seperti itu.
"Tinggalkan di meja nanti aku periksa," kata Theo tanpa menoleh masih fokus pada pekerjaannya.
Cih, apa salahnya sih menoleh sebentar, sombong banget, sibuk sih sibuk tapi gak harus cuek juga kali walau kami pegawai rendahanmu setidaknya hargailah kerja keras kami, kami juga sudah berusaha sebaik mungkin, katanya tadi ada yang mau segera dibahas penting sehingga aku harus datang sendiri, cih, tapi apaan nih, melihat siapa yang datangpun tidak, omel Kalila mengumpat dalam hati.
"Saya permisi pak?" jawab Kalila sambil segera berlalu tapi,,
"Mbak Kalila?" Theo langsung menoleh begitu mendengar suara yang dihapalnya, orang yang selalu menghindarinya akhir-akhir ini, kesibukannya juga membuatnya sulit untuk bertemu.
Theo langsung meninggalkan pekerjaannya dan berdiri mendekati Kalila, dirinyalah yang meminta untuk Kalila mengantarkan laporan itu langsung.
"Sepertinya bapak sibuk, saya akan pamit undur diri dulu." kata Kalila bersikap formal hendak pergi. Tapi Theo menahan tangannya.
"Mbak jangan berani menghindar lagi? Atau aku akan nekat?" sela Theo dengan nada mengancam.
Kalila berhenti sejenak membalikkan tubuhnya menghadap Theo. Mereka berhadapan dengan wajah datar dan dingin Theo mendekat.
__ADS_1
"Apa maksud perkataan bapak? Saya hanya mengantarkan apa yang diminta oleh 'Bapak Wakil Presdir' yang terhormat.." ucap Kalila dengan penekanan kata di setiap kalimatnya.
"Jangan seperti ini mbak membuatku tak nyaman memanggilku seperti itu, aku masih tetap Theo sahabat Aksa mbak?" ucap Theo meyakinkan, dia tak mau dibilang pamer atas jabatan yang bahkan tidak diinginkannya kalau bukan karena papanya memaksa.
"Maaf apa perkataan saya salah pak?" tanya Kalila lagi masih bersikap formal.
"Kenapa mbak menghindariku, mbak janji akan mempertimbangkan perasaanku jika mbak tak punya hubungan dengan orang lain?" tanya Theo tak menghiraukan pertanyaan formal Kalila.
"Maaf, lebih baik kita tidak bicara tentang masalah pribadi di kantor.." sahut Kalila masih bersikap formal.
"Lalu kapan? Mbak selalu menghindariku jika aku mendekati mbak, bahkan semua chat dan teleponku tak kau angkat, kapan kita bisa bicara? Apalagi aku semakin sibuk mempersiapkan pembukaan hotel baru, sekretaris itu benar-benar menyita waktu pribadiku, beruntung aku gak nekat datang ke rumah mbak," seru Theo mulai tak sabaran.
Kalila menatap Theo yang berwajah kusut, padahal tadi terlihat gagah dan menawan saat duduk di kursi kebesarannya. Kalila menghela nafasnya berlahan.
"Baiklah kita bertemu setelah pulang kerja di taman dekat kota, aku akan kesana 'sendiri'" ucap Kalila menekankan kata sendiri yang artinya tak perlu jalan berdua.
"Gak!! Aku tunggu di apartemenku!" titah Theo telak.
"Kenapa? Mbak takut aku ngapa-ngapain mbak, tadi mbak bilang gak ingin ada orang lain tau, bisa saja nanti ada yang melihat kita berdua," seringai Theo.
Kalila tampak berpikir dan menganggukkan kepalanya.
"Kalau aku sih tak masalah orang lain tau tapi mbak kan..."
"Iya baiklah aku akan datang, tapi kita berangkat sendiri-sendiri." putus Kalila setelah berpikir.
"Baiklah...aku akan menunggu mbak disana, jika mbak tidak datang jangan sampai aku berbuat nekat mbak? Aku bisa melakukan apa saja?" kata Theo tersenyum menyeringai yang tidak dilihat Kalila.
Kalila hanya mengangguk pasrah, dirinya segera keluar dari ruangan wakil Presdir dengan menghela nafas membawa kembali berkas laporan yang dibawanya. Sekretaris wakil Presdir yang melihatnya terlihat prihatin dengan wajah kasihan menyemangati Kalila yang salah paham tentang pertemuan Kalila dan wakil Presdirnya.
Kalila tiba di ruangannya, disambut antusias oleh para rekannya.
"Gimana ketemu wakil Presdirnya, tampankan, gantengkan, ah,aku juga mau..." lebay Dina menghampiri Kalila yang belum juga duduk.
__ADS_1
Kalila hanya senyum-senyum menggelengkan kepalanya melihat Dina.
"Oh ya tadi ada undangan, tapi kok....." tanya Dina menggantungkan kata-katanya, berusaha menahan diri.
Kalila mengangkat bahunya dengan maksud bertanya.
"Maksutku...hubunganmu dengan pak Iwan gak papa Kal?" Ah, begitu ya ternyata, batin Kalila sudah paham maksud pertanyaan Dina.
Diraihnya undangan pernikahan yang dilihatnya di atas mejanya yang ia juga mendapatkannya, tertulis nama Iwan dan Reni. Kalila menghembuskan nafas perlahan.
Ah, akhirnya mereka sudah menentukan tanggal ya? batin Kalila. Semua rekan satu ruangannya yang tau kejadiannya menatap kasihan pada Kalila yang dikira dikhianati.
Pulang kerja, seperti janjinya Kalila pergi menuju ke apartemen Theo. Kalau Kalila tak mengingat kenekatan sifat Theo, Kalila juga tak akan bersedia datang. Terlalu malas dirinya membahasnya karena Kalila yakin Theo akan membahas tentang perasaan cintanya yang digantung Kalila.
Dihembuskan nafasnya perlahan, menekan bel pintu apartemen Theo. Tak lama Theo muncul di balik pintu.
"Masuk mbak? Kukira mbak gak dateng," sapa Theo tersenyum manis.
"Ah apa harus di dalam ya?" tanya Kalila sebelum masuk ke dalam.
"Ya gak mungkinlah kita ngobrol di pintu atau di luar? Mbak gak mau ada orang tau tentang kita kan?" kata Theo menggoda. Kalila mendelik.
"Emang apa hubungan kita, gak lebih sekedar teman adikku kok kamu?" seru Kalila nyelonong masuk.
Theo tersenyum saat berhasil memancing Kalila untuk masuk. Theo ikut masuk ke dalam.
bersambung
.
.
.
__ADS_1