
"Kau sendiri mbak?" tanya Aksa begitu melihat kakaknya datang sendiri sambil melirik ke belakang Kalila.
"Sendiri? Kenapa?" tanya Kalila agak ketus.
"Nanya doang, kok sewot. Kalau mbak capek pulang aja, aku bisa sendiri." ucap Aksa.
"Terus, mau aku merasa bersalah sama ibu, karena gak bisa jaga kamu sementara ibu ada urusan bentar?" sahut Kalila berkacak pinggang di depan adiknya.
"Ih, makin sewot, orang cuma ngomong juga." jawab Aksa menatap arah lain meski keduanya cuma bercanda.
Kalila meletakkan tasnya dan duduk di sofa kamar Aksa. Menghela nafas panjang, tanpa sadar sudah berkali-kali Kalila menghela nafas.
"Mbak, Theo udah tau mbak ada disini?" tanya Aksa menatap kakaknya yang terlihat ada masalah.
"Udah, aku hubungi ponselnya gak angkat, aku kirim pesan belum di read." jawab Kalila sambil mengupas apel.
"Udah coba telpon kantor, kali aja meeting, ponselnya tertinggal." ucap Aksa lagi.
"Oh, my god... aku kok gak berpikir kesana ya?" jawab Kalila langsung mengambil ponselnya.
Aksa hanya menggelengkan kepalanya melihat kecerobohan kakaknya.
"..."
"Ini saya mbak Dewi." ucap Kalila tersenyum canggung karena sudah dua kali dalam sehari menanyakan suaminya lewat sekretarisnya ini.
"..."
"Maaf mbak, ngrepotin lagi, suami saya masih di kantor mbak?"
"..."
"Sudah pulang? Tapi masih jam segini... Ah, ponselnya apa ketinggalan lagi ya mbak?" tanya Kalila tentang hal lain, tak mau bertanya hal pribadi.
"..."
"Oh, begitu ya. Makasih mbak."
"..."
Kalila menutup ponselnya masuk lagi ke dalam ruangan adiknya dirawat.
"Gimana mbak?" tanya Aksa melihat wajah kakaknya semakin mendung.
__ADS_1
"Gak papa." jawab Kalila duduk lagi meneruskan mengupas apel yang ditinggalkannya begitu saja tadi.
**
Theo baru sampai di apartemennya, tidak ada siapapun. Istrinya belum sampai rumah. Padahal tadi Theo melihatnya naik taksi, Theo mengira istrinya pulang dulu ke apartemen mereka. Apalagi ponsel Theo sedang rusak, dia bingung menghubungi dari mana.
Theo masuk ke kamarnya, membersihkan tubuhnya, melepas lelah sejenak. Hingga pukul 7 malam Theo terbangun dari tidurnya yang tak sengaja ketiduran di ranjang. Theo menatap sekeliling kamarnya, masih gelap, lampu belum menyala, itu artinya istrinya belum pulang juga.
Theo berbaring kembali, tak ada niat untuk bangun atau menyalakan lampu kamar atau semua apartemennya.
Suara pintu kamar terbuka, Kalila masuk menatap sekeliling apartemen dan kamarnya masih gelap.
"Kau baru pulang?" tanya Theo yang membuat Kalila terkejut sontak mengelus dadanya.
"Sayang, kau di rumah? Kenapa tak menyalakan lampu?" seru Kalila, mencari saklar lampu dan menyalakannya.
Theo enggan bangun, dia masih malas-malasan di ranjang, menatap istrinya yang mondar-mandir di kamar meletakkan tasnya di meja rias, masuk kamar mandi.
Dalam waktu 15 menit sudah berdiri di depannya membelakanginya karena duduk di meja rias memakai piyama tidurnya yang seksi. Tubuh bawah Theo menggeliat melihat tubuh mungil istrinya yang seksi. Tapi, Theo tetap tak bergeming, tetap berbaring di ranjangnya tapi menatap istrinya lekat. Meski menginginkan istrinya tapi Theo sengaja menahannya.
"Sudah makan malam? Mau kumasakan sesuatu sayang?" tanya Kalila melihat suaminya hanya tidur malas-malasan seperti orang sakit.
Kalila mendekati suaminya, menyentuh dahinya, mencoba merasakan apa suaminya sedang tidak enak badan.
Saat Kalila bergerak, niat untuk menggoda suaminya dengan baju tidur seksi. Nyatanya suaminya tak bergeming dengan godaannya, makanya Kalila mengira apa suaminya sedang sakit?
Biasanya tanpa digoda dulu, suaminya langsung menyerangnya, tapi sekarang. Kalila teringat kejadian di ruangan kantor Theo tadi, Kalila menghela nafas sejenak.
"Aku dari rumah sakit. Ibu mau pulang dulu ada urusan, makanya menyuruhku untuk datang. Lagipula aku minta izin untuk pulang cepat juga." jelas Kalila yang hanya ditatap oleh suaminya tanpa membalas ucapan apapun.
"Aku berusaha mengirim pesan padamu dan menghubungimu, tapi kau tak mengangkatnya." ucap Kalila lagi. Suaminya hanya diam, tak berusaha menjawab masih menatapnya lekat.
"Mbak Dewi bilang ponselmu rusak." ucap Kalila tersenyum manis menatap suaminya lekat juga.
Kalila menghela nafas, suaminya sama sekali tak menjawab. Kalila berdiri hendak ke dapur ingin membuat makan malam, dia sangat lapar sekali. Ibunya menawarinya makan, tapi Kalila menolak, ingin segera sampai di rumah dan istirahat berharap suaminya sudah pulang. Dan ternyata memang sudah pulang tapi tak mau bicara apapun. Tapi, wajahnya tidak menunjukkan ngambek. Lebih ke malas bicara.
Theo menarik tangan istrinya hingga jatuh ke dada bidangnya, Theo memutar tubuh istrinya ke sisinya dan memeluknya masuk ke dalam pelukannya. Theo memejamkan mata hanya diam masih tak bicara apapun. Kalila semakin mengeratkan pelukannya.
Kruk...
Suara perut Kalila yang kelaparan membuat Theo melepaskannya. Tersenyum.
"Pesan saja." ucap Theo masih memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
"Aku akan memasak saja, hanya sebentar." jawab Kalila menatap suaminya.
"Kau pasti capek, pesan saja. Aku tak apa." ucap Theo tersenyum manis.
"Pesanlah! Kau ingin sesuatu?" tanya Kalila mengeratkan pelukannya masuk ke dada bidang suaminya.
"Ponselku rusak." jawab Theo singkat.
"Pakai ponselku." saran Kalila masih dalam dada suaminya.
Theo melirik nakas samping ranjangnya. Mengambil ponsel istrinya, saat terdapat begitu banyak pesan yang belum dibaca istrinya. Bahkan ponselnya tidak ada kode kunci. Salah satunya grup kantor, grup sekolah dan terakhir nomer baru. Theo membuka pesan itu, entah kenapa dia sedikit curiga dengan pesan itu.
'Kau tak apa? Theo tak melakukan apapun kan padamu?' isi pesan itu.
'Maaf... aku tak bisa mengendalikan diriku.' isi pesan itu berikutnya.
'Maaf... aku telah lancang menciummu saat dirimu tidur.' isi pesan berikutnya.
'Maaf... sekali lagi maaf...aku akan menjelaskan yang sebenarnya pada Theo.' isi pesan berikutnya.
'Tolong balas pesanku... agar aku tau kau memaafkanku.' isi pesan berikutnya lagi.
'Sekali lagi maaf... aku tak bermaksud membuat kau mengkhianati suamimu.' isi pesan terakhir.
Theo langsung mencari kontak nomer kakaknya Derrick yang sudah dihapalnya di buku kontak istrinya. Terblokir, Theo bernafas lega melihat istrinya tak menanggapi pesan mau telpon kakaknya.
Tapi, dada Theo semakin sesar, berdebar-debar. Wajahnya memerah menahan amarahnya. Apalagi saat membaca pesan yang berisi mencium istrinya yang sedang tertidur. Wajah Theo semakin dingin dan tajam.
"Sudah pesan?" tanya Kalila yang tak mendengar suaminya bicara apapun setelah memegang ponselnya. Mendongak menatap wajah suaminya yang terdiam tapi wajahnya terlihat dingin menahan amarahnya.
"Kenapa sayang?" tanya Kalila bangun dari berbaringnya.
bersambung
Mohon dukungannya
Beri like rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.