Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 42


__ADS_3

Theo bergerak gelisah di ruangannya. Menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 6 sore. Ajakan pulang bersama istrinya ditolaknya. Dirinya masih bimbang antara akan menemui kakak iparnya atau tidak. Theo ingin mengatakan yang sebenarnya pada istrinya tapi Theo takut dengan reaksi marah istrinya.


Theo tau betul, jika istrinya marah, dia akan diam untuk waktu yang lama dan tak mau bicara apapun padanya. Itu seribu kali lebih sakit saat istrinya mendiamkannya, labih baik istrinya berteriak, marah-marah atau memukulnya sehingga tau, reaksi istrinya seperti apa. Tapi, jika istrinya diam saja, Theo tak akan tau dan mengerti apa maksud istrinya.


"Pak..." ucap sekretarisnya mengejutkannya.


"Ya? iya..." jawab Theo.


"Sudah waktunya pulang. Saya mau pamit. Bapak masih ada pekerjaan yang bisa saya bantu?" tawar sekretaris yang bernama Dewi itu.


"Tidak. Terima kasih. Saya juga sedang siap-siap untuk pulang." jawabnya agak gugup.


"Baiklah. Saya permisi pak." pamit Dewi pergi meninggalkan ruangan Theo.


Theo menghela nafas menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya. Mengendurkan sedikit dasinya yang membuatnya seperti tercekik, padahal setiap hari itulah yang dirasakannya.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Ting... tanda bunyi pesan di ponsel Theo.


Theo langsung membacanya.


'Jangan sampai kau bertemu istrimu di lobi hotel XX, karena jika kau tak datang, istrimu yang akan datang. Isi pesan chat itu yang ternyata dari Kamila.


Theo mengumpat kesal, dia harus melakukan sesuatu. Sampai kapanpun dia tak mau mengkhianati kepercayaan istrinya. Dengan susah payah dirinya dulu mendapatkan kepercayaan tentang perasaannya pada istrinya dulu, dan Theo tak mau menghancurkan dengan sekejap mata.


Theo harus tegas pada Kamila dan akan jujur pada istrinya setelah menemui Kamila.


Theo masuk ke kamar mandi kantornya dan membersihkan diri. Tak lupa dia mengganti pakaiannya dengan pakaian ganti yang sengaja disiapkan istrinya di kamar dekat ruangannya agar jika sewaktu-waktu dia membutuhkan gampang untuknya.


Dia bukan berdandan untuk menemui Kamila, tapi ingin menunjukkan kalau dirinya akan mengakhiri dramanya dengan Kamila.

__ADS_1


**


Theo tiba tepat jam 9 malam di hotel XX yang dimaksud Kamila. Setibanya di lobi, Theo hendak bertanya pada resepsionis tapi segera dihampiri oleh petugas room service yang sepertinya sudah dibayar oleh seseorang untuk menjemputnya di lobi hotel.


"Permisi, dengan tuan Theodore?" sapa petugas itu.


"Ya." jawab Theo singkat menatap petugas itu penuh dengan tanda tanya.


"Mari, saya antar tuan!" ajak petugas itu.


Theo mengikuti petugas pria itu menuju lift hotel sampai ke lantai tujuan mereka, lantai 10. Theo tak banyak bertanya atau bicara, dia hanya mengikuti kemanapun petugas itu melangkah. Hingga tiba di sebuah pintu kamar yang menunjuk angka 1020. Petugas itu membunyikan bel kamar itu.


"Nyonya, saya sudah mengantar orang yang anda maksud." teriak petugas itu yang tidak lama kemudian muncullah Kamila memberikan tips yang lumayan pada petugas itu dan langsung beranjak pergi meninggalkan Theo bersama Kamila.


Kamila dengan hanya menggunakan jubah mandi dan rambut yang basah, sepertinya habis mandi.


"Masuklah! Kukira kau tak akan datang. Ternyata kau masih takut istrimu ya?" ucap Kamila tertawa sambil masuk ke dalam kamar dengan tawa mengejek.


"Kita bicara di luar saja." tegas Theo tetap berdiri di depan pintu tanpa masuk ke dalam.


Theo melangkah masuk ke dalam, dia terpaksa masuk. Karena yang dikatakan Kamila benar adanya. Dia tak mau istrinya salah paham tentang dirinya dari orang lain tentang keberadaan di hotel jika dia mendengar nanti.


"Katakan!" tegas Theo duduk di sofa jauh di depan Kamila duduk.


"Sabarlah! Kau harus sedikit bersabar." ucap Kamila santai.


"Jika tak ada urusan lain. Aku pergi." Theo berdiri dan hendak pergi tapi tubuhnya seketika menegang, Kamila mendekapnya dari belakang dan dapat dirasakan tubuhnya tak dibalut apapun, entah kemana jubah mandinya tadi. Theo segera menepis dekapan itu meski tidak cukup mudah, tapi malah memberikan kesempatan pada Kamila untuk mendekap tubuh Theo dari depan.


"Aku menginginkanmu, sejak aku merasakan sentuhanmu saat itu, aku menjadi lebih menginginkanmu masuk dalam diriku." rintih Kamila masih mendekap Theo yang kini di depannya.


Theo memejamkan matanya, tubuhnya menegang, merinding terhadap sentuhan Kamila.

__ADS_1


"Lepaskan aku!" bisik Theo meski tak berteriak tapi nada bicaranya tajam dan dingin, menakutkan.


Kamila sempat merinding ketakutan mendapati tatapan Theo seperti tatapan mata orang lain. Theo mencekik leher Kamila kuat, sedang Kamila yang kesakitan memukul-mukul lengan Theo karena tak bisa bicara karena cekikan tangan Theo di lehernya.


"Jangan mencoba memancingku, jika kau tak mau celaka. Aku bisa melakukannya lebih dari ini asal kau tau..." cekikan tangan Theo semakin kencang dan Kamila hampir kehabisan nafasnya.


Suara ponsel Theo yang kencang mengejutkan Theo, karena Theo hapal betul nada panggilan itu dari istrinya, Kalila. Theo segera melepas tangannya dari leher Kamila dan mengangkat panggilan ponsel itu.


Kamila yang didorong saat melepas cekikan itu hanya terduduk terbatuk-batuk menghirup udara sebanyak-banyaknya dan hampir saja dia kehabisan nafas dan nyawanya melayang.


Kamila sungguh terkejut dengan diri Theo yang tak diketahui siapapun itu. Theo pun tak mau, dirinya kembali pada dirinya yang dulu.


"Hapus video itu! Jangan macam-macam lagi terhadapku maupun istriku. Aku bisa lebih kejam lagi dari ini. Kau diselamatkan oleh istriku hari ini, jika tidak, kau akan pulang hanya tinggal nama. Camkan itu!" ucap Theo pergi meninggalkan kamar hotel itu dan menerima panggilan ponsel istrinya.


**


"Selamat malam." sapa Kalila di depan pintu apartemen, menyapa suaminya yang entahlah sepertinya sedang melamun meski terlihat menatapnya.


"Sayang..." sapa Kalila lagi yang langsung ditubruk Theo yang 'menyerang' istrinya membabi buta dengan banyak ciuman dan kecupan di seluruh wajah dan bibirnya yang diciumnya lama dengan *******, hisapan.


Bohong jika tubuh Theo tak bereaksi saat dirinya dipeluk Kamila dengan telanjang tadi. Theo hanya ingin menuntaskan hasratnya dengan istrinya. Kini mereka sudah tak mengenakan apapun, Theo menggendong tubuh istrinya di depan sambil masih terus menciumi bibir istri turun ke leher dengan meninggalkan jejak yang tak hanya sedikit. Membawanya ke kamar mereka dan melanjutkan apa yang sudah terjadi tadi.


bersambung


Mohon dukungannya


Beri like rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2