Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 37


__ADS_3

Di bandara, Theo meminta sopir keluarganya untuk dijemput dan sudah datang 15 menit sebelum pesawat mendarat. Sopir meletakkan koper-koper mereka ke bagasi dan Kalila masuk ke dalam terlebih dulu menunggu suaminya yang menerima telpon entah dari siapa.


"Ya... aku akan segera kesana, biarkan aku pulang dulu." seru Theo dengan nada tinggi.


Aku menoleh menatapnya, dia pun balas menatap tersenyum meraih jemariku erat, masih dengan berbicara pada orang yang di seberang entah pada siapa. Kalila memejamkan mata setelah mobil bergerak meninggalkan bandara.


"Sayang... kau mau kugendong sampai kamar kita?" bisik Theo di telinga Kalila yang tak membuat Kalila bergeming.


Sepertinya terlalu lelah duduk di dalam pesawat. Theo membopong tubuh istrinya menuju kamarnya, sedang koper-koper mereka sudah dibawa sopirnya ke dalam apartemennya. Theo membawa Kalila ke apartemennya, mereka akan tinggal disana sementara rumah baru mereka masih di renovasi.


Theo merebahkan tubuh istrinya di ranjang kamar mereka yang membuat tidur Kalila semakin nyenyak saja. Theo mengecup kening istrinya sayang dan masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri.


**


"Sayang, kau pagi-pagi sudah rapi mau kemana?" tanya Theo pagi itu saat melihat istrinya sudah berdandan rapi bersiap untuk pergi.


Kalila menatap suaminya dari balik cermin melanjutkan riasannya.


"Mama menghubungiku, menyuruhnya kesana." jawab Kalila enteng melanjutkan kegiatannya.


"Mama? Mama Kartika?" tanya Theo tak yakin.


"Hmm... sarapan sudah kusiapkan di meja makan, aku akan ke rumah mama." ucap Kalila.


"Aku akan mengantarmu." seru Theo bangkit dari tidurnya masuk kamar mandi meski dengan tubuhnya polos dan menyembulkan kepalanya lagi menatap istrinya tajam.


"Aku antar, tunggu aku. Jangan membantah!" tegas Theo masuk kembali ke kamar mandi.


Tak lama Theo sudah muncul dari dalam kamar mandi dengan hanya berbalut handuk di pinggangnya dan tangan lain memegang handuk mengusap rambutnya yang basah.


"Ya, dia sedang mandi ma mungkin sebentar lagi." jawab Kalila pada ponselnya dan dia membuka pintu kamarnya terlihat suaminya sedang memakai celana yang telah disiapkannya tadi, Kalila langsung berpaling mengalihkan pandangan ke arah lain masih mendengarkan ucapan Kartika di seberang.


"Iya ma, sampai jumpa." Kalila menutup ponselnya.

__ADS_1


"Mama?" tanya Theo yang telah selesai merapikan pakaiannya dan menghampiri istrinya.


"Ah, iya sayang. Mama menyuruhku untuk segera kesana. Sebenarnya mama memintaku datang sendiri tanpa perlu kau antar." sesal Kalila.


"Kenapa? Kau tak suka aku mengantarmu?" ucap Theo tak suka.


Selain dirinya tak mau istrinya ke rumah mama sendiri, Theo tak mau membuat Kalila bertemu dengan kakaknya. Theo masih belum siap. Tapi Theo tak bisa menolak keinginan mamanya.


"Mama yang meminta sayang, bukan aku...?" rayu Kalila bergelayut di lengan suaminya menenangkan suaminya yang merajuk meski Kalila tau maksud suaminya adalah serius.


Theo masih menatap istrinya, kalau istrinya sudah berbuat manis, itu membuat Theo luluh. Theo menarik dagu istrinya mengecup bibirnya sekilas.


"Aku percaya padamu." ucap Theo, Kalila tak menjawab, entah kenapa dia merasa bersalah.


"Baiklah. Ayo kita berangkat!" ajak Theo menarik lengan istrinya.


**


"Sebenarnya siapa sih yang anak mama?" ucap Theo pura-pura cemberut.


"Mama mau mengajak menantu mama arisan ibu-ibu, mau mengenalkan menantu-menantu mama yang cantik. Kenapa kau juga ikut-ikutan?" omel Kartika lagi menarik lengan Kalila masuk ke dalam rumah mempersiapkan arisan ibu-ibu yang diadakan di rumahnya.


"Mama juga gak bilang kenapa istriku pagi-pagi disuruh kesini." jawab Theo tak suka.


Theo masuk ke kamar lamanya, mau melanjutkan tidurnya. Theo tak ingat jika kakaknya masih di pulau B. Percuma aku cemas tadi, kakak kan masih di pulau B. batin Theo melanjutkan tidurnya lagi.


Theo sudah hanyut dalam mimpinya, pintu kamarnya terbuka, dia memang tak menguncinya berharap istrinya akan datang jika dirinya ada di kamarnya.


Pintu kamar Theo dibuka perlahan mengendap-endap seseorang masuk dan mengunci pintunya. Mendekati ranjang dan menatap Theo yang tertidur pulas telentang di ranjang.


Dia naik ke atas ranjang, membuka satu persatu kancing kemeja Theo. Saking ngantuknya Theo sampai tak bangun saat seluruh kancing bajunya lepas dan kemejanya teronggok di lantai samping ranjang.


Dia mengelus dada Theo yang membuat siapa saja wanita yang melihatnya tergiur menelan ludah. Dada bidang Theo yang lebar, berotot dan perut sixpack nya membuatnya untuk terus membelainya. Mengecupi setiap inci dada itu.

__ADS_1


Theo bukannya terbangun malah mengerang kenikmatan, melenguh dalam tidurnya, seolah dia sedang bermimpi istrinya sedang mencumbuinya. Elusan jemari itu terus ke atas, ke leher Theo yang membuat kepala Theo spontan mendongak menerima reflek sentuhan yang membuat 'adik kecilnya' bangun.


"Sayang, kau nakal ya..." bisik Theo saat bibirnya dikecup mesra oleh bibir kenyal itu, entah kenapa rasanya beda.


Theo membuka matanya perlahan ingin lebih dari istrinya. Saat matanya terbuka, Theo terbelalak.


"Kak Kamila..." seru Theo langsung beringsut mundur menjauhi ranjang.


Pikiran buruk langsung menghantuinya. Dilihatnya dadanya telanjang tapi celananya masih utuh pada tempatnya. Itu artinya Kamila belum melakukan semuanya terlalu jauh.


"Apa yang kakak ipar lakukan?" ucap Theo tak mau berteriak hingga akan memancing kehebohan rumah.


"Pergilah!" ucap Theo berbalik membelakangi Kamila.


Kamila bukannya pergi malah memeluk tubuh Theo dari belakang. Theo langsung tersentak, tubuhnya menegang dan beringsut melepaskan pelukan itu hingga mendorong tubuh Kamila meski tak sampai jauh. Theo meraih kemejanya dan memakai kembali.


"Aku... menginginkanmu Theo." bisik Kamila lirih menatap Theo lekat, dengan pandangan mata memohon.


"Apa maksud kakak? Seharusnya kakak mengatakan itu pada suami kakak?" ucap Theo.


bersambung


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote


Makasih yang udah mendukung 🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2