
Mual Kalila semakin parah. Dia tak mau didekati Theo sama sekali, bau tubuhnya menyeruak membuat perut Kalila semakin mual dan muntah lebih banyak. Meski hanya cairan bening yang keluar dari muntahannya.
Sejak dinyatakan hamil. Nafsu makan Kalila semakin menurun, setiap makanan yang masuk ke dalam tubuhnya, selalu dimuntahkan kembali. Makanan apapun itu. Bahkan Theo sengaja membelikan makanan yang disukai istrinya tapi tetap saja langsung dimuntahkan juga.
Theo semakin frustasi, apalagi dirinya dilarang mendekat saat bangun ataupun tidur, Theo ditolak oleh istrinya. Karena setiap Theo berusaha mendekat, perut istrinya langsung mual dan muntah sampai dirinya lemas tak bertenaga dan pingsan. Theo panik, hingga dirinya membawa salah satu pelayan rumah mamanya untuk membantu istrinya di apartemen.
Kartika juga sering datang mengunjungi bergantian dengan Sinta, ibu Kalila, untuk membantu dan menemani di masa hamil Kalila trisemester pertama. Apalagi ini juga kehamilan pertama untuk pasutri itu.
"Kau lebih baik sayang?" tanya Sinta melihat Kalila berbaring lemah dan lemas karena sudah beberapa kali bolak-balik kamar mandi untuk muntah.
Sedang Theo yang ingin sekali menunggui istrinya terpaksa masuk bekerja. Ditunggui pun percuma jika istrinya semakin mual dan muntah jika didekatnya. Sudah beberapa minggu ini mereka tidur terpisah kamar.
Meski setiap malam Theo sering menyelinap masuk ke dalam kamar istrinya sekedar untuk mendekapnya sebentar saja. Theo sungguh tersiksa, dia begitu merindukan istrinya itu. Entah kenapa anak dalam kandungan istrinya begitu membencinya sehingga tidak mau didekatinya sama sekali.
"Iya ma." jawab Kalila lemah memejamkan mata.
Saat usia kehamilan memasuki 7 minggu. Badan Kalila semakin hari semakin kurus dan kekurangan asupan makan. Karena makanan masih belum bisa diterima tubuhnya. Pagi itu Theo hendak masuk mengambil pakaiannya setelah mandi di kamar mandi luar kamarnya.
Melihat istrinya terbaring lemah dengan mata cekung kurangnya tidur dan asupan makanan yang sangat kurang. Theo melihat istrinya semakin trenyuh tak tega hingga mendekatinya, membelai pipi dan rambutnya istrinya.
"Sayang... maafkan aku. Karena kau sedang hamil anakku, dirimu tersiksa seperti ini." ucap Theo dengan wajah sendu.
Theo membelai istrinya lama, biasanya istrinya segera bangun jika dibelai agak lama seperti itu tapi, istrinya bahkan tak bergerak atau menggeliat sama sekali. Pikiran Theo menjadi cemas. Dia panik mencoba membangunkan istrinya yang seperti orang mati saja.
__ADS_1
"Sayang, bangunlah?" tak bergeming sedikitpun.
"Sayang, kau tak apa, jangan menakutiku." seru Theo semakin tak sabaran. Dirasakan hembusan nafas dari hidung istrinya, masih bernafas. batin Theo. Didengarkannya detak jantungnya di dadanya. Masih berdetak, batin Theo.
"Sayang, buka matamu. Sayang..." serunya memanggil-manggil istrinya serta menggoyang-goyangkan tubuhnya, tapi tetap tak bergeming.
"Bibi.... Bantu aku!" seru Theo, bibi pelayan langsung masuk ikut panik mendengar teriakkan majikannya.
**
Brankar tempat tidur rumah sakit membawa tubuh Kalila menuju UGD, Theo yang panik sampai tak bisa berpikir jernih. Bajunya yang masih bercelana pendek boxer dan kaos oblong tipis membuatnya segera berlari membawa istrinya ke rumah sakit.
Bibi pelayan pun ikut juga menemani kedua majikannya ikut cemas. Theo mondar-mandir di depan ruang UGD bingung dan frustasi menunggu istrinya diperiksa dokter di dalam.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Theo pada dokter obgyn wanita itu.
"Syukurlah anda segera membawanya kemari. Kalau tidak, mungkin istri anda tidak dapat tertolong lagi." seketika tubuh Theo seperti terlempar ke jurang.
"Sepertinya mual dan muntah akibat kehamilan yang dialami istri anda sangat parah, sampai tidak bisa menerima makanan apapun. Sehingga tubuhnya sangat lemas tidak bertenaga seperti orang yang kelaparan. Jadi, saya memberikan obat pencegah mual yang aman untuk kandungannya dan untuk sementara dirawat dulu sampai kondisinya benar-benar pulih dengan bantuan infus sebagai ganti asupan makanan dan nutrisi untuk tubuhnya." jelas dokter panjang lebar, membuat Theo sedikit lega meski masih tersisa sedikit rasa bersalah.
"Terima kasih dok." ucap Theo pelan.
"Anda bisa menemui istri anda setelah perawat memindahkan ke ruang perawatan." ucap dokter itu lagi sebelum pergi dari hadapan Theo.
__ADS_1
Theo hanya mampu mengangguk mengiyakan perkataan terakhir dokter. Dirinya sudah bisa bernafas lega dan terduduk lemas di kursi tunggu depan ruang UGD menunggu istrinya dipindahkan ke ruang perawatan.
Mr. Jhon dan istrinya berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Setelah mendapat kabar pingsannya menantunya dari pelayannya yang sementara membantu di apartemen Theo. Mereka melihat Theo yang terduduk lemas tak bertenaga dengan tatapan mata kosong dan rasa bersalahnya.
Masih dengan celana boxer dan kaos oblong tipisnya terlihat seperti orang stres saja. Rambutnya yang berantakan, wajahnya yang kusut dan matanya yang memerah karena sempat menangisi saat istrinya pingsan.
Kartika sungguh kasihan melihat keadaan Theo yang begitu berantakan. Theo yang ditahunya adalah anak yang cinta kerapian dan kebersihan, tapi sekarang karena orang yang dicintainya pingsan apalagi saat sedang hamil anaknya menjadikan Theo kehilangan kewarasannya serta akal sehatnya yang membuat dirinya tentang kepribadiannya sendiri. Kartika langsung mendekap putra bungsunya itu, menyalurkan kehangatan untuk memberikan hiburan.
"Sabar nak... istrimu adalah wanita yang kuat." hibur Kartika membuat Theo kembali menangis sejadi-jadinya di dekapan mamanya, Theo selalu tak bisa mengendalikan dirinya di hadapan dua wanita itu yaitu mamanya dan istrinya. Theo seperti anak kecil saja saat bersama dari dua wanita itu. Mr. Jhon hanya menepuk-nepuk pundak Theo ikut memberikan semangat.
bersambung
Mohon dukungannya
Beri like rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1