Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 47


__ADS_3

"Kau mau kemana sayang?" tanya Kalila melihat suaminya hendak keluar kamar.


"Aku ingin makan masakanmu. Bisakah kau memasak untukku?" pinta Theo.


"Tentu. Kau ingin makan apa?" tanya Kalila duduk dari berbaringnya di ranjang itu.


"Apa saja, asal kau yang masak." jawab Theo mengedip-ngedipkan sebelah matanya.


"Sayang..."


"Aku ke ruang kerjaku dulu, aku ingat ada satu hal yang harus kuselesaikan." ucap Theo pergi ke ruang kerjanya. Dan Kalila mulai sibuk memasak di dapur.


Tidak lebih dari satu jam, masakan siap. Kalila hendak memanggil suaminya untuk makan bersama, tapi Theo sudah muncul di meja makan.


"Aku hendak memanggilmu." ucap Kalila melihat Theo datang dengan senyum manisnya.


"Aku mencium bau sedap masakanmu dan ternyata memang sudah siap. Pasti sangat lezat." jawab Theo pura-pura antusias.


Bagaimanapun juga hati Theo masih berdetak kencang karena membaca pesan di ponsel istrinya tadi. Theo juga langsung menghapus pesan-pesan itu dan juga memblokir nomer itu setelah mengirimnya ke nomer ponselnya.


Mereka duduk dengan tenang saat makan malam.


Kalila mencuci piring setelah mereka selesai makan. Dan bel pintu apartemen berbunyi, Theo yang sedang menatap istrinya mencuci piring dari belakang dan membayangkan saat Derrick mencuri ciuman saat istrinya sedang tidur. Tanpa sadar tangan Theo terkepal menahan amarahnya.


"Biar aku saja." ucap Theo melihat Kalila hendak berbalik menuju pintu depan. Kalila meneruskan cuci piringnya.


"Kiriman atas nama tuan Theodore?" tanya kurir itu.


"Ya benar." jawab Theo, menandatangani di buku kurir itu.


"Apa sayang?" tanya Kalila melihat Theo masuk membawa bingkisan.


"Oh, ponselku." jawab Theo santai duduk di sofa ruang tv. Kalila ikut duduk di sampingnya.


"Ponsel. Kau pakai jasa kurir?" tanya Kalila keheranan.


"Kurir perusahaan, lagipula mbak Dewi yang mengirimkan.


"Oh..." jawab Kalila kembali tenang.


Kalila menatap suaminya mengutak-atik ponselnya setelah membuka bungkus dan memasang kartu simnya.

__ADS_1


"Sayang..." ucap Kalila ragu ingin bicara sesuatu.


"Ya?" jawab Theo tanpa menoleh menatap istrinya masih sibuk dengan ponselnya, dia ingin segera menyelesaikan masalahnya.


"Aku ingin bicara sesuatu yang penting." ucap Kalila menatap suaminya meski suaminya belum menoleh menatapnya.


Theo langsung menoleh menatap istrinya serius. Theo tau saat nada bicara istrinya ingin bicara sesuatu yang serius atau tidak.


"Apa... sangat penting?" tanya Theo balik.


"Entahlah... bagiku mengatakan hal ini adalah penting, tapi tak tau, apa itu juga penting untukmu atau tidak." jelas Kalila sedikit ragu.


"Katakan!" perintah Theo menghadapkan tubuhnya lurus pada istrinya. Menatap wajah istrinya serius. Kalila menelan ludahnya kasar.


"Tapi, kau berjanjilah tak akan marah?" pinta Kalila.


"Ingatkan aku jika aku berani marah padamu. Aku akan menyesal setelahnya. Entah kenapa saat aku bicara kencang padamu membuatku merasa bersalah, bagaimana aku bisa marah padamu. Aku terlalu mencintaimu. Jadi, jika sampai aku marah dan berbuat kasar padamu, cegah aku dan ingatkan aku?" pinta Theo balik membelai pipi istrinya lembut menatap wajah istrinya penuh cinta. Mengecup sekilas bibir istrinya.


"Terima kasih. Aku juga sangat mencintaimu. Hari ini, besok dan seterusnya." jawab Kalila tersenyum penuh cinta pula. Menyerukkan wajahnya menempelkan pipinya pada bahu suaminya mencari kehangatan pada tubuh suaminya dengan bersandar padanya.


"Kak Derrick adalah mantan pacarku." ucap Kalila. Membuat tubuh Theo menegang yang segera dapat dikendalikan. Theo diam tak menjawab. Kalila menunggu reaksi kata-kata suaminya.


Theo masih diam berusaha mengendalikan emosinya. Dia memang sudah tau dan mendengarnya, tapi entah kenapa sakit hatinya masih sakit saat mendengar istrinya berterus terang menceritakan masa lalunya.


"Dulu kami saling mencintai, mempercayai dan berharap suatu saat kami akan menikah." cerita Kalila lagi masih dalam dekapan tubuh suaminya.


"Dan sekarang?" tanya Theo balik sudah tak sabaran. Kalila bangun dari sandaran dada suaminya tapi, kepalanya ditahan oleh suaminya agar tetap bersandar padanya.


"Bagaimana perasaanmu sekarang padanya?" seru Theo mulai emosinya naik, dadanya berdegup kencang, berdebar-debar, dan sesak. Kalila merasakan itu dan balik mendekap tubuh Theo erat mencoba menenangkan suaminya.


"Hanya kamu yang aku cintai sekarang. Aku hanya milikmu, aku sekarang hanya mencintaimu." ucap Kalila. Theo mengeratkan pelukannya. Entah kenapa air matanya menetes.


"Aku tak bermaksud membohongimu, kukira memang hubungan kami berakhir dan tak mungkin bertemu lagi. Dan kamu tau apa yang membuatku terkejut?" tanya Kalila di akhir kalimatnya.


"Apa?" jawab Theo serak diantara sedihnya.


"Dia adalah kakakmu." ucap Kalila.


"Lalu? Sekarang apa perasaan akan berbeda, jika ternyata aku adalah adik mantanmu?" tanya Theo emosi.


Kalila melepas dekapannya menatap suaminya lekat yang menangis.

__ADS_1


Kalila membelai pipi suaminya, menghapus air matanya.


"Kau menangis?" tanya Kalila ikut sedih.


"Aku... sudah tau. Dan entah kenapa meski sudah tau, hatiku sakit saat mendengar ceritamu langsung." jawab Theo dengan tubuh bergetar. Kalila langsung mendekap kembali tubuh suaminya memenangkan dirinya.


"Maaf... maafkan aku, aku tak bermaksud menyembunyikan darimu." hibur Kalila.


"Bahkan dia mencoba mendekatimu lagi?"


"Tapi aku tak menghiraukannya. Dia sudah punya keluarga sendiri dan aku pun sudah punya dirimu." jelas Kalila dalam pelukannya.


"Tapi dia terang-terangan ingin mengambilmu dariku, dia...dia bahkan...." Theo tak sanggup meneruskan kalimatnya. Tubuhnya bergetar panik. Kalila masih mendekapnya erat. Mama Theo Kartika pernah bercerita.


**


"*Boleh mama minta sesuatu padamu?" tanya Kartika saat Kalila ke rumah Kartika saat diberi gelang warisan keluarga besarnya.


"Ya ma?" jawab Kalila yakin.


"Saat Theo sedang sedih, tubuhnya akan menegang dan gemetar. Saat hal itu terjadi, jangan kau tinggalkan dia sendiri atau dia akan mengamuk?" jelas Kartika yang membuat Kalila semakin bingung.


"Jangan bicara dan jangan bertanya kenapa? Cukup kau ada di sisinya dan dekap dia akan membuat dia lebih baik." ucap Kartika lagi.


"Apa mama bisa menjelaskan?" tanya Kalila lagi.


"Mama tak bisa mengatakan padamu. Biarkan Theo yang cerita sendiri padamu. Biar dia sendiri yang menjelaskannya padamu. Juga tentang tubuhnya yang memegang karena sentuhan wanita padanya. Kecuali kita." jelas Kartika panjang lebar. Kalila yang kebingungan hanya diam tak bertanya lagi*.


bersambung


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2