
Sebulan sudah Kalila di rumah, selama itu pula Theo selalu berada di sisinya, dia mengerjakan semua pekerjaan perusahaan dari rumah. Sekretarisnya mengantarkan pekerjaannya ke rumah.
Meski sudah tidak terlalu takut bertemu orang asing tapi tubuhnya masih sering menegang dan gemetaran. Seolah Kalila memaksakan diri untuk bisa menemui orang asing. Tapi Theo tak pernah membiarkan hal itu terjadi.
Theo sering memanjakan istrinya itu agar bisa melupakan traumanya. Meski Theo harus sering melakukan solo seorang diri di kamar mandi. Karena Kalila selalu tegang dan gemetar bahkan kadang tak sadar berteriak saat Theo mulai setengah jalan. Theo menghela nafas panjang, merasa terpukul dan bersalah. Hingga dalam seminggu terakhir ini Theo tak berani menyentuh istrinya secara intens saat berduaan di kamar mereka.
Kalila merenungi nasibnya, siang itu dia duduk di gazebo samping rumahnya. Duduk melamun menatap kolam renang yang ada disana. Sambil memikirkan kembali kejadian malam itu.
Suaminya yang sudah berkabut gairah mulai menelusuri lekuk tubuhnya. Meski Kalila mengatakan tak apa-apa pada suaminya tapi ketegangan dan gemetaran tubuhnya tak bisa dibohongi. Saat suaminya hendak memulai intinya, entah kenapa mulut Kalila tiba-tiba refleks berteriak minta tolong sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya masing-masing. Dan seketika membuat nafsu Theo yang sudah di ubun-ubun hilang sudah dan langsung mendekap erat tubuh istrinya.
"Maaf... maafkan aku, aku terlalu memaksakan kehendakku, maaf... maaf..." dengungan permintaan maaf dari bibir suaminya membuatnya menangis menjadi-jadi.
Untung saja kamar mereka kedap suara sehingga pelayan tidak berlari menuju kamarnya demi mendengar teriakan majikannya seperti orang ketakutan. Dan sejak malam itu Theo tak berani mendekati istrinya terlalu sering dan terlalu intens, selain dirinya yang takut kebablasan, dia juga tak mau membuat istrinya kembali teringat kejadian buruk itu.
__ADS_1
Dokter psikolog dan psikiater pun juga sudah diundang ke rumah untuk memeriksa keadaan istrinya secara berkala demi menghilangkan trauma buruknya.
"Silahkan nyonya!" ucap seorang pelayan sambil meletakkan minuman dan camilan di meja dekat gazebo itu.
"Terima kasih." jawab Kalila tersenyum tak berminat untuk mencicipinya.
Kalila masih terus melamun sambil bersandar di gazebo itu. Hingga kedatangan suaminya tak disadarinya dan entah kapan para pelayan yang sejak tadi berdiri di sekitarnya yang seolah menjaganya. Theo menatap lekat wajah istrinya yang melamun entah menatap kemana.
Pandangannya kosong, istrinya yang dulu ceria dan banyak bicara kini sudah tak ada lagi. Bahkan bicara pun jika dia diajak bicara. Kalau pun bicara dan tersenyum seolah itu semua dipaksakan untuk melakukannya.
Saat menoleh ke samping, dirinya terkejut mengelus dadanya. Gemetaran tubuhnya kembali muncul, tapi dia berusaha mengendalikan gemetarnya. Theo yang menyadari itu langsung memeluk tubuh istrinya.
"Maaf... maafkan aku..." Kalila kembali menangis dalam pelukan suaminya hingga tertidur pulas dan membopongnya ke kamar tidur mereka.
__ADS_1
**
"Kau sudah sadar nak?" tanya Kartika perlahan menatap wajah Derrick yang seperti mayat hidup. Pucat, kurus dan wajahnya sungguh tak terawat.
Entah apa yang terjadi pada rumah tangganya. Istrinya Kamila menuntut cerai saat mendengar perbuatan yang dilakukan suaminya. Kesabaran Kamila sudah diambang batasnya. Awalnya dirinya tak masalah dijadikan fantasi seks oleh suaminya meski suaminya sering menggumankan nama wanita lain, toh suaminya tak pernah kedapatan berselingkuh.
Tapi sekarang saat dia mendengar suaminya melakukan pelecehan terhadap wanita yang selalu digumankannya dalam fantasinya itu membuat Kamila sudah tak sanggup lagi untuk melanjutkan rumah tangganya. Apalagi sosok Revan yang benar-benar dekat dengannya saat ini memilih untuk memperjuangkan dirinya bersamanya membuatnya semakin membulatkan tekadnya untuk melanjutkan perceraian.
Derrick masih belum menjawab, menatap ke depan dengan pandangan kosong. Entah apa yang dipikirkannya. Kartika berusaha mengajak bicara tapi hasilnya nihil. Derrick tetap tak bergeming untuk menjawabnya. Bahkan panggilan dan tepukan punggung tak mampu membuatnya bergeming.
Bersambung
.
__ADS_1
.
.