
Theo tiba tepat jam 7 malam di rumah Kalila untuk menjemputnya ke rumah mamanya. Setelah papanya mengatakan mamanya ingin bertemu calon menantunya lagi. Mamanya menghubungi Theo memastikan kalau pesannya untuk putranya benar-benar disampaikan pada putranya.
"Hai.." sapa Kalila sudah berdiri di depan Theo bersiap untuk menemui orang tua Theo lagi.
Theo meraih jemari tangan Kalila menautkan jemarinya menariknya untuk masuk ke dalam mobilnya setelah berpamitan pada orang tua Kalila.
"Sebenarnya ada apa tante ingin menemuiku?" tanya Kalila saat di mobil.
"Sampai kapan kau akan menyebut mamaku tante?" kata Theo tak menjawab malah ganti bertanya.
"Aku tidak mungkin... lagipula kita masih pacaran?" jawab Kalila.
"Mama pasti senang kau memanggilnya mama juga." jelas Theo masih fokus menyetir.
"Tidak... maksutku mungkin tidak sekarang." jawab Kalila masih ragu.
Tak sampai satu jam mereka tiba, Theo memarkirkan mobilnya dengan apik di halaman depan rumahnya.
Setelah membukakan pintu mobil untuk Kalila mereka masuk bersamaan. Rasa gugup masih saja menyelimuti Kalila jika memasuki rumah yang lebih mirip istana itu. Tak sengaja jemarinya meremas jemari tangan Theo. Theo merasakan kegugupan Kalila juga.
"Kau masih takut?"
"Tidak..aku.. hanya gugup," jawab Kalila.
"Kalila!!" sapa Kartika dari dalam melihat Kartika mama Theo menyambutnya dengan tersenyum senang. Menarik Kalila ke dalam pelukannya, cipika-cipiki pada Kalila. Kalila hanya menurut mengikuti tanpa menolak tersenyum senang.
"Masuklah! Ayo!! Theo papamu menunggu di ruang kerja, aku akan mengajaknya ke ruang baca." usir Kartika pada Theo, Theo hanya menurut tersenyum senang melihat mamanya menyukai Kalila.
"Bagaimana? Apa sudah diputuskan?" tanya Kartika begitu mereka duduk di sofa ruang baca dengan meja penuh camilan dan teh hijau kesukaan Kartika yang disiapkan pelayan.
"Ya? Maksud tante?" tanya Kalila bingung.
"Kenapa masih memanggilku tante?" tegur Kartika pura-pura cemberut tak suka.
"Ya?.....ah..sa..saya..."
"Panggil mama! Ok?" ucap Kartika menggenggam jemari tangan Kalila.
"Ah baik..tan...mama.." ucap Kalila masih sedikit ragu.
"Nah, begitukan bagus."
"Oh iya, minggu depan kakak Theo pulang dengan anak istrinya dan kami berencana untuk melamar ke rumahmu, apa keluargamu sudah siap?"
Uhuk...uhuk...
Teh hijau yang baru saja diseruput Kalila membuatnya tersedak, Kartika menepuk - nepuk punggung Kalila, meredakan Kalila yang tersedak hingga terbatuk, yang sebenarnya Kalila terkejut dengan perkataan Kartika.
"Apa maksud tan...eh mama?"
"Kenapa? Apa Theo tak mengatakan apapun?Theo janji pada kami kalau akan melamarmu saat kakaknya pulang?" tanya Kartika heran.
__ADS_1
"Ah, mungkinkah Theo ingin memberi kejutan untukku?" jawab Kalila balas bertanya.
"Ah, artinya tak jadi kejutan lagi ya?Maaf.." mohon Kartika mengelus tangan Kalila.
"Tak apa ma?" hibur Kalila balik mengelus punggung tangan Kartika.
"Kau tau aku ingin secepatnya mendapatkan menantu, menantu pertamaku langsung ke Belanda mengurus bisnis papanya disana?Jadi, sama saja tak punya teman di rumah dan aku ingin kau sering-seringlah di rumah kami agar aku punya teman di rumah," pinta Kartika sedikit lebay.
Kalila hanya mengangguk saja menganggap itu semua tidak serius, mungkin bercanda.
"Theo punya kakak?" tanya Kalila ragu, setahu Kalila Theo tak pernah bercerita tentang keluarganya, dengan orang tuanya pun baru beberapa hari sebelum dia memperkenalkan mereka. Setiap perbincangan mereka hanya membahas tentang hubungan mereka.
"Ya, Theo tak pernah cerita? Setelah menikah kakak Theo langsung ke Belanda dengan istrinya mengurus bisnis papanya."
"Kau mau melihat kamar pribadi Theo? Kau pasti belum pernah melihat kamarnya kan?" tawar Kartika, Kalila mengangguk antusias tersenyum. Dan mereka menuju kamar Theo yang ada di lantai 2 rumah ini.
"Masuklah dulu nak, aku ingin menemui suamiku,"
"Iya ma."
Kalila masuk ke kamar Theo terdapat ranjang ukuran king size yang sangat lebar dan meja belajar serta sofa dan meja di sebelah ranjang. Kamar yang dominan warna abu-abu dan hitam sangat khas dengan karakter Theo yang dingin dan datar.
Tapi selalu hangat saat bersama dirinya. Kalila menatap sekeliling ruangan banyak foto di dinding berderet memenuhi dinding. Banyak juga sertifikat dan piagam penghargaan dari sekolah dasar sampai di perguruan negeri kota.
Theo memang sedikit jenius sejak kecil, itulah sebabnya papanya memintanya untuk mengurus bisnis papanya di sini daripada bisnis papanya di luar negeri. Karena semasa kecil Theo pernah mengalami sedikit trauma ditinggalkan oleh seseorang membuatnya jadi pendiam, itulah sebabnya orang tuanya melarang untuk jauh dari mereka.
"Dimana Kalila ma?" tanya Theo begitu mamanya datang tanpa Kalila di ruang kerja papanya saat dirinya sedang dengan papanya.
"Apa?" Theo segera beranjak dari tempat duduknya berlari ke kamarnya.
Kalila menatap foto di dinding seperti mengenali foto seseorang dalam pigura itu, Kalila semakin mendekat memastikan foto itu.
"Kau masuk tanpa izin? Aku harus menghukummu." bisik Theo di telinga Kalila, menggigit telinga Kalila, memeluk dari belakang. Kalila yang tak fokus terkejut dan mengerang saat Theo menggigit telinganya.
Theo semakin melancarkan serangannya ke tengkuk Kalila, mendengar erangan Kalila yang membuatnya semakin bernafsu. Theo memutar tubuh Kalila menghadapnya, mendekap erat pinggang Kalila, mencium lembut bibir Kalila. Kalila membalasnya.
Hingga tubuh Kalila terdorong dan terbaring di ranjang Theo. Theo semakin melancarkan aksi penyerangannya. Mengabsen setiap leher, dada hingga bagian sensitif Kalila. Kalila hanya mengerang nikmat, menikmati kecupan mesra Theo.
Theo melepas kancing baju atas Kalila. Semakin liar dan tak sabaran, mencari kepuasan di antara dada Kalila.
**
"Shit..." Theo mengumpat nikmat dan berlari ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya bermain solo di dalam kamar mandi.
Kalila tertawa kecil melihat tingkah Theo yang sangat menjaga dirinya. Itulah yang membuat Kalila percaya sepenuhnya pada Theo, bahwa dia akan menjaganya sampai mereka menikah nanti.
Kalila merapikan pakaiannya, duduk di tepi ranjang menunggu Theo membersihkan diri.
Cklek...
Pintu kamar mandi terbuka, hanya memakai handuk di pinggangnya, wajah Theo memerah menahan nafsu yang terpaksa harus dituntaskan sendiri. Menatap Kalila yang tersenyum penuh cinta padanya. Theo mengecup sekilas bibir Kalila.
__ADS_1
"Aku ke kamar mandi dulu," Theo mengangguk mencari baju santainya masuk walk-in closet.
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Kita pamit mama dulu!" ucap Kalila keluar kamar bergandengan tangan mesra menuju ruang kerja papanya untuk pamit.
**
"Mama mengatakan sesuatu?" ucap Kalila saat di dalam mobil perjalanan pulang.
"Apa?"
"Aku ingin dengar langsung darimu."
"Apa itu?" goda Theo membuat Kalila cemberut kesal, melengos menatap jendela pintu.
Theo menarik dagu Kalila hingga Kalila balik menatapnya.
"Jangan berpaling dariku!" seru Theo masih fokus menyetir sesekali menoleh menatap Kalila.
"Kau menyebalkan." keluh Kalila semakin cemberut kesal.
"Maaf..." Theo tersenyum.
"Mama benar, setelah kakakku pulang aku akan datang ke rumahmu untuk melamarmu!" ucap Theo membuat Kalila tersenyum.
"Kapan kakakmu pulang?"
"Minggu depan. Aku harus menjemput mereka di bandara nanti."
"Artinya kau akan melamarku setelah itu?"
"Tentu."
"Bagaimana jika kakakmu tak jadi pulang? Kau juga tak jadi melamarku?"
"Tentu tidak. Dari awal aku memang berniat untuk melamarmu minggu depan, tapi kebetulan kakakku pulang pas waktu itu."
Kalila tersenyum.
bersambung
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.