
Kalila bergerak gelisah di dalam kamarnya, dia mondar-mandir di dalam kamar seperti setrika. Pertemuannya dengan Fredy tapi membuatnya merasa bersalah pada Theo. Ya, Fredy menciumnya saat Kalila membalikkan tubuhnya ingin menghibur pria itu. Bahkan pria itu juga memeluknya erat.
Flashback on
"Kurasa ...."belum selesai Kalila bicara, Fredy menubruknya, mencium bibir Kalila kasar dan rakus, Kalila berusaha mendorong tubuh Fredy yang besar tapi tak bergeming.
Kepala Kalila bergerak ke kanan dan ke kiri menghindari ciuman itu. Suasana taman yang sedang sepi seolah mendukung kelakuan bejat Fredy.
"Auw..."jerit Fredy melepaskan ciuman itu karena Kalila menggigit bibirnya, dirasakan asin di mulutnya ternyata bibirnya mengeluarkan darah karena gigitan Kalila.
Tak cukup sampai di situ, telapak tangan Kalila melayang di pipi kanannya.
Plak
"Kau brengsek kak..."seru Kalila segera pergi dari tempat itu dengan menahan air matanya.
Fredy hanya terbengong tak mengira akan mendapat tamparan dari mantan kekasihnya yang masih sangat dicintainya.
Flashback off
Prank..
Suara gelas yang dipegang Theo jatuh melewati pinggir meja makan, seingatnya tadi dia sudah menaruhnya agak ke tengah, apa karena efek rasa senangnya menjelang pernikahannya yang tinggal lusa? batin Theo tersenyum senang.
"Ada apa Theo?"tanya Kartika mendekati meja makan mendengar suara benda pecah.
"Tak apa ma, hanya tak sengaja kesenggol." jawab Theo. Pelayan mendekati tempat gelas pecah dan membersihkan pecahan-pecahan itu.
"Hati-hati. Kau ini kenapa? Apa kau segitu gugupnya menjelang pernikahanmu?"goda Kartika membuat Theo tersipu malu.
Dirinya memang tak sabar ingin segera membawa Kalila menjadi miliknya seutuhnya.
"Mama..."
"Ya sudah, tidurlah! Istirahatlah yang cukup tinggal beberapa hari saja."hibur Kartika tersenyum senang.
"Iya ma.."jawab Theo tersenyum bahagia.
Theo berjalan ke kamarnya, tapi dadanya entah kenapa sesak, seperti merasa tak nyaman perasaannya.
__ADS_1
Apakah sayangku baik-baik saja, entah kenapa aku mencemaskanmu? batin Theo menepuk-nepuk dadanya menghilangkan kegugupannya.
Sebenarnya Theo ingin pulang ke apartemennya, dia akan bisa diam-diam menemui Kalila, tapi sepertinya mamanya mencium gelagat Theo, hingga benar-benar tak mengizinkan Theo keluar selangkah pun dari rumah, bahkan semua pekerjaannya sudah diatasi oleh kakaknya sementara waktu ini.
Theo sungguh frustasi dipingit seperti ini. Ingin dia berlari menuju rumah Kalila. Tapi saat kata-kata mamanya terngiang apa alasannya untuk dilakukan pingitan, untuk memperlancar pernikahannya, katanya 'pamali' pengantin bertemu sebelum pernikahan, bisa jadi pernikahan itu bisa batal, entah apapun alasannya.
Theo hanya menghela nafas malas saat mamanya membahasnya, entah kenapa mamanya masih percaya tahayul di era jaman sekarang.
Dering ponsel Theo berbunyi nyaring, membuat segera berlari untuk mengangkat panggilan itu. Tertera nama 'my love' dan terselip gambar hati dibelakangnya. Perasaan Theo jadi menghangat melihat siapa yang menghubunginya saat dirinya sedang galau.
"Ya sayang..."
"..."
"Kau belum tidur?"tanya Theo basa-basi.
"..."
"Dari mana?"
"..."
"Aku merindukanmu..." gombal Theo lebai.
" ..."
"Aku ingin bertemu sekarang."rengek Theo membuat Kalila tertawa, Theo membayangkan tawa Kalila yang menggemaskan membuatnya semakin tak dapat mengendalikan rasa rindunya.
"..."
"Tunggu aku!" teriak Theo, dia segera mengendap-endap keluar rumahnya.
**
Tok tok tok
Suara jendela kamar Kalila diketuk.
Siapa? batin Kalila, tak mungkin kan Theo.
__ADS_1
Kalila mendekat balkon kamar dan membukanya. Saat seseorang mendekapnya, Kalila spontan hendak berteriak tapi Theo segera menutup mulut Kalila dengan bibirnya.
"Ini aku."bisik Theo, Kalila membelalak.
"Apa yang kau lakukan? Kau naik kesini?" tanya Kalila berbisik pula. Theo hanya mengangguk.
"Itu sangat berbahaya sayang?" ucap Kalila khawatir.
"Aku merindukanmu, biarkan aku menginap disini malam ini." rengeknya.
"Tidak. Kau lupa pesan mama? Kita dilarang bertemu sebelum pernikahan?"jelas Kalila panik.
"Tapi aku sudah tak tahan, hanya tidur, tidak lebih? Kau tau aku sangat takut."
"Kenapa?" Theo langsung mendekap tubuh Kalila. Kalila yang terkejut hanya membiarkan perlakuan Theo.
"Kau tau... perasaanku sejak tadi tak enak, entah kenapa aku langsung berpikir terjadi sesuatu terhadapmu?"
Deg
Detak jantung Kalila di dada berdegup kencang membuat Kalila tersadar sesuatu, apa dia merasakan perasaan buruk saat ciuman tadi, batin Kalila. Entah kenapa dada Kalila berdetak kencang dan gugup seketika.
Dikendalikannya tubuh tegangnya yang masih belum disadari oleh Theo, karena dekapan tubuhnya tak ditolak lagi oleh kekasihnya.
"Hanya malam ini? Aku harap kau pergi pagi-pagi sekali sebelum orang-orang rumah sadar dan bangun."final Kalila akhirnya, dirinya merasa bersalah dan ingin menebusnya dengan mengizinkan Theo menginap malam itu.
"Benarkah?"tanya Theo tak percaya melepas dekapannya dan menatap Kalila lekat meyakinkan pendengaran tidak salah. Kalila mengangguk.
"Terima kasih sayang, aku mencintaimu."ucap Theo, diikuti ciumannya pada bibir Kalila yang sangat dirindukannya beberapa hari ini. Yang hanya dilihatnya lewat video call ponselnya.
bersambung
Mohon dukungannya 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1