
Derrick terbujur lemah di rumah sakit dengan peralatan medis di tubuhnya. Setelah dipukuli Theo membabi buta, Derrick benar-benar pingsan tak sadarkan diri dan dalam kondisi kritis. Meski sudah melewati masa kritisnya, tapi sudah dua hari ini Derrick belum juga bangun dari pingsannya membuat semua keluarga cemas, terutama Kartika.
Saat diberitahu tentang keadaan yang terjadi di kantor membuat Kartika sedih sekaligus marah. Derrick putra sulungnya yang begitu penurut selalu mengiyakan apa kata orang tuanya tanpa banyak bantahan, hari itu berani melakukan pelecehan seksual terhadap adik iparnya sendiri dan itu dilakukan dalam keadaan sadar di ruangan kantor adiknya.
Kartika saat mendengarnya menjadi geram, bukan itu yang diajarkan pada putra-putranya tapi sekarang Derrick melakukan hal diluar batas. Tapi saat melihat kondisi putra sulungnya yang terbujur lemah dengan peralatan medis di tubuhnya, Kartika pun tak bisa marah.
**
Sedang Kalila masih tertidur pulas karena pengaruh obat penenang yang selalu diberikan saat dirinya sadar dan berteriak histeris saat mengingat kejadian pelecehan yang terjadi padanya. Dan itu entah sudah ke berapa kalinya dirinya berteriak histeris saat sadar dari shocknya.
Theo masih tetap setia menunggui istrinya dengan sabar. Meski saat istrinya berteriak histeris membuatnya mengepalkan tangannya erat mengingat perlakuan bejat kakaknya. Theo juga sudah melihat rekaman cctv ruangannya, bagaimana Derrick mulai melakukan kelakuan bejat itu. Theo memijat pelipisnya yang berdenyut saat otaknya tak sengaja mengingatnya.
Dia juga sudah tak peduli hidup dan matinya Derrick. Theo tak mau mendengar nama pria busuk itu disebut. Begitulah julukan kakaknya sekarang yang berani menyentuh istrinya.
Kalila membuka matanya perlahan, menatap sekeliling ruangan dengan pandangan mata kosong seperti menatap ruang kosong di depannya.
"Sayang... kau sudah sadar." tanya Theo lembut mendekati istrinya yang tersadar seperti orang linglung yang tak ingat apapun. Kalila menoleh ke arah suara menatap Theo lama, ingatan tentang pelecehan itu membuat kepalanya berdenyut dan tanpa sadar air matanya mengalir deras.
__ADS_1
"Maaf... maafkan aku yang sudah kotor ini. Maaf..." ucap Kalila parau menyesali kejadian itu.
"Tidak. Kau tak salah. Jangan salahkan dirimu sendiri. Bajingan itu yang salah." jawab Theo memeluk tubuh istrinya ikut menangis sedih.
Suara tangisan Kalila semakin pecah saat berada di pelukan tubuh Theo. Theo hanya mampu memeluknya dan ikut menangis.
Semakin lama Kalila tertidur pulas lagi dalam pelukan Theo. Saat Theo hendak melepaskannya, tangan istrinya mencengkeram erat tubuhnya, hingga dia mengurungkan niatnya untuk beranjak dari tempatnya.
"Maaf... maafkan aku yang tidak bisa menjagamu. Maaf..." bisik Theo lirih di telinga istrinya.
**
Sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu dia ingin membawa istrinya ke rumah baru mereka tapi kondisi tubuh istrinya yang tak memungkinkan ditinggal terpaksa Theo menundanya.
Dan kini jika istrinya sudah benar-benar sehat untuk dibawa pulang, Theo akan membawanya pulang ke rumah mereka yang tentunya dengan banyak pelayan dan penjaga rumah yang tidak sedikit. Theo tak mau kejadian seperti ini terjadi lagi. Atau dia tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri karena gagal melindungi istrinya atau dia akan benar-benar menjadi seorang pembunuh.
"Makanlah dulu, kau belum makan dan minum obat. Kasihan anak kita?" pinta Theo memelas menatap istrinya membujuknya dengan berbagai cara meski Kalila memakannya dengan terpaksa tapi tetap sedikit makanan yang masuk.
__ADS_1
"Aku sudah kenyang." jawab Kalila tak bersemangat membuat Theo semakin merasa bersalah.
"Makanlah nak, demi anak kalian?" bujuk Shinta yang ikut duduk di sisi lainnya dekat ranjang putrinya dirawat.
"Aku sudah kenyang Bu." jawab Kalila dengan tersenyum yang terlihat dipaksakan.
bersambung
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.