
Derrick membuka matanya perlahan, menatap sekeliling kamar masih bernuansa putih bersih. Masih di rumah sakit? batin Derrick menoleh ke sisi ranjang, mamanya tertidur di sofa terlihat raut wajah lelah dan sedih.
Derrick menatap kasihan dan tak tega. Meski ditemani beberapa pelayan juga, kelelahan terlihat jelas di wajahnya.
"Maafkan Derrick ma, merepotkan mama." bisiknya lirih tersenyum miris.
"Kau sudah bangun nak, mau makan?" ucap Kartika sontak mendekati putranya saat melihat putranya sudah duduk bersandar.
Derrick mengangguk mengiyakan, dia sungguh tak tega menolaknya. Kartika tersenyum puas, karena Derrick tak menolaknya.
"Kapan aku bisa pulang ma?" tanya Derrick setelah selesai sarapan dan minum obat.
Meski perban di kepalanya sudah dilepas karena banyaknya pukulan yang sudah membiru, plester masih ditempel di setiap sudut luka di wajah tampannya.
"Kita menunggu keputusan dokter ya nak?" hibur Kartika membuat Derrick tersenyum terpaksa.
Sebenarnya dia sudah bosan tidur-tiduran di rumah sakit, apalagi dia sudah lebih baik dari sebelumnya. Diapun sudah berjalan kesana-kemari tanpa pincang meski luka memar masih ada di wajah tampannya. Tapi mamanya terlalu over protektif jadi jika dia bergerak sedikit saja, mamanya langsung meneriakinya dan ngomel panjang lebar.
Dia juga ingin mencari tahu tentang perkataan mamanya yang katanya Kalila kekasihnya sudah menikah. Derrick ingin membuktikan hal itu salah, karena setahunya Kalila tak mempunyai orang lain yang dicintainya, dia juga sangat mencintainya.
__ADS_1
Dokter berkunjung datang ke kamar tempat Derrick dirawat, memeriksa dengan detail tubuh Derrick, dan permintaan Derrick pun diiyakan oleh dokter karena memang dia sudah sembuh meski masih ada memar di wajahnya.
Derrick tersenyum senang meski Kartika masih belum setuju dengan keputusan dokter. Kartika pun terpaksa menyetujui keinginan pulang Derrick dan dokterpun hanya menyarankan untuk beristirahat yang cukup. Karena hari sudah sore, dokter menyarankan untuk pulang besok pagi saja.
**
Theo tersenyum menatap wajah istrinya yang terbaring kelelahan di sampingnya. Theo benar-benar tak melepaskan istrinya hingga pagi menjelang. Dan sekarang istrinya tertidur pulas karena kecapekan melayani nafsu suaminya yang sangat liar dan tanpa batas.
Mungkin karena sudah beberapa bulan ini dia tak mendapat kepuasan dari sang istri karena kondisi kesehatannya. Theo menelusuri seluruh wajah istrinya dengan lembut, tatapan penuh kasih dan penuh cinta terpancar di matanya. Dia sungguh puas dan senang karena istrinya berinisiatif untuk sembuh dan memberikan kepuasan padanya.
"Tidurlah sayang...!" bisiknya lirih mengecup dahi istrinya lama.
"Aku mencintaimu sayang... sangat... meski kau sakit, tak ada niatan untukku mencari kepuasan pada orang lain. Bagiku cukup kau yang berhak untukku." bisiknya. Dan nafas Theo perlahan mulai teratur, diapun ikut terlelap.
**
Paginya, Derrick tiba di rumah besar orang tuanya. Diikuti Kartika dibelakangnya yang menuntunnya tapi ditolak Derrick karena dia sudah tak sabar untuk ke kamarnya mencari ponselnya. Ingin menghubungi Kalila, memastikan kebenaran tentang Kalila yang sudah menikah.
"Papa..." sapa seorang gadis kecil yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
__ADS_1
Derrick menatap gadis kecil itu bingung, dia menoleh ke belakang hanya ada mamanya. Dia kembali menatap gadis kecil itu lagi. Kartika lupa memperingatkan pelayan di rumah untuk menjauhkan putri Derrick sementara tapi mereka terlanjur bertemu.
Setelah Kamila meminta bercerai, Kamila meninggalkan putrinya bersama keluarga besar Derrick, gadis kecil itu akan lebih terjamin hidup dan kasih sayangnya jika tinggal bersama Derrick.
Apalagi kedua orang tua Derrick sangat menyayangi gadis itu. Derrick berjongkok di depan gadis kecil itu mensejajari tubuhnya.
"Dimana papamu nak?" tanya Derrick ramah mengusap rambut gadis kecil itu lembut, dan entah kenapa terlintas dalam ingatannya dia pernah melakukan hal itu juga.
Sesaat Derrick tersentak dan langsung berdiri. Wajahnya berubah pias dan mencoba mengingatnya tapi semakin dia mengingatkan semakin kepalanya berdenyut sakit.
"Kau tak apa nak, ayo istirahat di kamarmu!" hibur Kartika melihat Derrick kesakitan. Kartika langsung memberikan kode pada pengasuh putri Derrick untuk membawanya pergi dulu.
bersambung
.
.
.
__ADS_1