Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 55


__ADS_3

Derrick bangun dari tidurnya. Setiap pulang dia selalu dalam keadaan mabuk, entah apa yang dipikirkannya. Dia benar-benar tak memperhatikan anak istrinya.


Kekecewaannya saat melihat Kalila ditunggui adiknya membuatnya merasa kalah. Meski Derrick tau sekarang Kalila istri adiknya membuatnya semakin sedih. Antara ingin memperjuangkan cintanya, Kalila. Atau melupakannya dengan merelakannya bersama adiknya. Lalu, bagaimana dengan perasaannya?


Derrick menghela nafas panjang, semakin dirinya tak akan bisa mendapatkan kembali cintanya karena saat ini Kalila sedang hamil putra dari adiknya yang itu artinya akan menjadi keponakannya.


Derrick masuk kamar mandi, membersihkan dirinya.


"Papa..." sapa putrinya memasuki kamar Derrick. Derrick berbalik menatap putrinya yang takut-takut mendekatinya.


"Ya sayang..." sapa balik Derrick ramah, meneruskan memakai dasinya bersiap berangkat ke kantor. Putrinya yang bernama Rania tersenyum senang karena papanya tak berteriak saat dipanggilnya seperti biasanya.


"Ada undangan ke sekolah untuk papa." ucap Rania.


"Kenapa bukan mama?" tanya Derrick acuh.


"Khusus untuk ayah pa. Yang datang nanti hanya para ayah." jelas Rania.


"Benarkah?" menatap Rania tak percaya. Rania menyerahkan undangan itu pada Derrick.


Dia menerimanya dan membacanya. Memang benar khusus undangan untuk ayah. Sepertinya Derrick malas mengurusi urusan anaknya. Selain karena benci pada mamanya Kamila, Derrick sebenarnya sangat menginginkan anak-anak laki-laki. Tapi, ternyata Kamila melahirkan anak perempuan. Kekecewaan Derrick semakin parah saat melihat putrinya begitu mirip Kamila. Entah mulai kapan Derrick begitu membenci Kamila.


"Kita lihat nanti. Apa papa punya waktu untuk menghadirinya." jawab Derrick masih acuh.


**


"Sayang, kau tak ke kantor?" tanya Kalila melihat suaminya masih bermalas-malasan tidur di ranjang dengan berkas laporan yang lumayan banyak.


"Aku cuti ke kantor sampai kau melahirkan." jawab Theo enteng masih meneruskan pekerjaannya. Kalila ikut berbaring di samping suaminya. Menindihkan kakinya ke kaki suaminya dan tangannya memeluk lengan suaminya. Theo menatap senang, apalagi jika istrinya bermanja-manja seperti ini.


Ponsel Theo berdering.


"Ya."


"..."


"Ada apa?"


"..."


"Ya..."


"..."

__ADS_1


"Begitukah? Atasi sendiri dulu." jawab Theo gusar.


"..."


"Kau hubungi papaku atau kakakku."


"..."


"Akan kuusahakan." jawab Theo menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban dari seberang.


"Kenapa sayang?" tanya Kalila menatap suaminya yang sedang memikirkan sesuatu.


"Tak penting." jawab Theo santai meneruskan lagi mengecek dokumen tadi.


"Mereka membutuhkanmu?" tanya Kalila lagi.


"Siapa? Mereka selalu membutuhkanku."


"Apa itu penting?" tanya Kalila.


Theo menatap istrinya lekat, mengecup bibirnya sekilas.


"Bagiku kau lebih penting dari segala-galanya." jawab Theo dengan tatapan penuh cinta.


"Angkat saja sayang, siapa tau itu penting?"


"Tak penting." jawab Theo langsung. Meneruskan melihat dokumennya.


Kalila menglyahut ponsel suaminya.


"Halo."


"Sayang." seru Theo yang tak digubris istrinya.


"..."


"Papa." ucap Kalila.


"Papa?" Theo berbisik meraih ponselnya.


"Ya pa." jawab Theo pada papanya di seberang.


"..."

__ADS_1


"Aku tak bisa pa." jawab Theo.


"..."


"Papa kan tau alasanku cuti." jawab Theo panik.


"..."


"Jangan. Biar aku yang bicara sendiri." sahut Theo menutup ponselnya. Berdecak kesal karena papanya memaksa untuk datang ke tempat proyek itu.


"Ada apa dengan papa?" tanya Kalila melihat suaminya gusar.


"Tak penting."


"Sayang..." sudah mengeluarkan jurus andalannya memelas dengan wajah pupy eyes nya.


"Papa menyuruhku ke sana, melihat proyek itu. Selain aku katanya tak bisa." jelas Theo acuh. Kalila tampak berpikir.


"Bagaimana kalau kita kesana?"


"Tidak." jawab Theo langsung.


"Eh, apa maksudmu tadi sayang?" tanya Theo lagi, meyakinkan pendengarannya bahwa yang didengarnya sesuai pada pendengarnya.


"Kita kesana! Kau dan aku. Kau pasti akan lebih nyaman jika aku ikut. Benarkan?" ucap Kalila.


"Kau yakin ini aman?" tanya Theo lagi menunjuk perut buncit istrinya.


"Tentu saja. Lagipula kau lebih tenang jika mengajakku kan?" ucap Kalila.


"Baiklah." ucap Theo tersenyum senang.


bersambung


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2