
Seminggu setelah ciuman itu, Kalila tak bertemu Theo lagi, sengaja Kalila menghindari Theo dengan berbagai cara. Setiap pulang kerja Kalila memesan taksi online, sebelum taksi itu menghubungi Kalila dari luar gedung kantornya, Kalila tidak akan keluar gedung untuk pulang, menghindari kebetulan atau tidaknya Theo menghampirinya untuk mengajaknya pulang bersama, begitu juga waktu berangkat Kalila berangkat lebih pagi.
Semakin dipikirkan lagi tak mungkin pertemuannya setiap pulang bekerja hanya sebuah kebetulan sepertinya Theo sengaja menunggunya untuk pulang bersama atau menjemputnya. Kalila berusaha menepis perasaannya, ia tak mungkin mengkhianati kepercayaan Iwan , setidaknya selama Iwan tak ada disisinya apalagi Kalila belum menjawab lamaran Iwan tempo hari.
Genap sebulan Kalila main kucing-kucingan dengan Theo menghindarinya dengan berbagai cara, Kalila memergoki Theo beberapa kali menunggunya pulang di tempat biasa dirinya menunggu taksi. Kalila langsung beringsut menghindari sebelum Theo tahu, bahkan Kalila menawarkan diri untuk lembur di kantor.
Malam semakin larut menunjukkan pukul 9 malam, Kalila masih lembur menatap sekeliling sudah tak ada siapapun. Kalila segera membereskan mejanya, beranjak meninggalkan ruang kerjanya.
Dengan langkah ringan Kalila keluar gedung kantor terkejut menghentikan langkahnya menatap seorang pria yang sedang menatapnya dingin dan datar, tak ada senyuman manis seperti yang biasa diberikan untuknya dulu.
"Theo..." bisik Kalila lirih hampir tak terdengar.
Ya, pria itu adalah Theo, pandangan matanya yang tajam dan dingin membuat tubuh Kalila terpundur berusaha merubah arah tujuannya.
"Sampai kapan kau mau menghindariku?" seru Theo dengan bahasa informal.
Kalila menghentikan langkahnya diam tak menjawab atau berbalik dengan wajah menunduk.
"Apa kau berusaha menyangkal perasaanku?" seru Theo lagi.
"Apa aku harus mengatakan dulu bahwa aku mencintaimu!" seru Theo lagi tanpa menunggu jawaban Kalila.
Kalila mendongak terkejut dengan pernyataan cinta Theo. Tapi masih tetap dengan posisi membelakangi Theo. Theo mendekat perlahan menunggu reaksi Kalila. Melihat Kalila masih dalam posisinya yang tak juga berbalik. Theo lebih mendekat lagi hingga berjarak 2 langkah Theo berhenti Kalila masih belum berbalik.
"Apa kau pura-pura tak tahu perasaanku." lirih Theo masih terdengar Kalila.
Kalila menghela nafasnya, berbalik menghadap Theo, menatapnya dengan tatapan menghangat, tak ditemukan sorot mata Theo yang dingin dan tajam tadi, yang tersisa hanya pandangan mata teduh penuh cinta dan kerinduan pada seseorang di depannya.
"Aku harus pulang. Sudah malam, lagipula tubuhku sedikit capek karena terlalu banyak lembur akhir-akhir ini," ucap Kalila tak menghiraukan pernyataan cinta Theo.
Kalila berusaha menepis perasaannya yang tentu saja juga tak kalah bahagianya, tapi mengingat umur mereka yang terpaut jauh mengurungkan untuk tak berharap lebih pada hubungannya, apalagi mengingat lamaran Iwan yang belum dijawabnya.
Bagaimanapun sebelum Theo merasuki perasaannya, Iwan lah yang selalu ada untuknya saat itu. Iwan seniornya di kampus dulu hingga mereka dipertemukan kembali di kantor tempat mereka sama-sama mencari rezeki.
__ADS_1
Kalila pergi melewati sisi Theo, Theo yang geram sikap Kalila menarik pergelangan tangan Kalila, Kalila yang tak siap reflek membentur dada bidang Theo.
"Lepaskan Theo..." seru Kalila mendorong tubuh Theo yang kekar.
"Gak...sebelum kau menjawab pertanyaanku?" kata Theo mendekap erat tubuh Kalila yang berusaha mendorongnya.
"Banyak yang melihat," kata Kalila masih berusaha melepas pelukan Theo.
"Gak," Theo tetap pada pendiriannya.
"Baiklah kita bicara tapi lepaskan aku dulu, aku janji kita bicara baik-baik, tapi lepaskan dulu," pinta Kalila.
"Janji, kau tak akan lari?"
"Aku janji," seru Kalila.
Theo melepas pelukannya perlahan mengantisipasi Kalila menghindarinya lagi. Kalila mundur merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari-jari tangannya.
"Lupakanlah apa yang terjadi waktu itu, anggap saja tak pernah terjadi apapun," ucap Kalila akhirnya setelah hampir 10 menit tak ada perkataan. Theo menatap Kalila tajam.
"Ah dan juga bagaimanapun kau lebih muda dariku tak pantas kata-katamu memanggilku seperti tadi, hormati aku yang sudah seperti kakakmu," ucap Kalila lagi tak menjawab Theo.
"Aku hanya menganggapmu sebagai adik tidak lebih, jadi jangan terlalu banyak berharap dan malam itu anggap sebagai suatu kesalahan karena mungkin aku..." ucap Kalila lagi tanpa memberi kesempatan pada Theo.
"Kesalahan maksutmu, kesalahan yang dilakukan oleh keduanya yang sama-sama tanpa paksaan, sama-sama saling menikmati dan ..."
"Stop! Stop! Stop!" seru Kalila menutup mulut Theo memotong kata-kata Theo.
Theo hanya diam dia tersenyum senang tangan Kalila berada di bibirnya.Theo memeganginya.
"Mungkin karena aku terlalu merindukan mas Iwan sehingga aku melampiaskannya padamu," kata Kalila menarik tangannya dari bibir Theo. Theo mendelik kesal mendengar ucapan Kalila.
"Apa maksudmu pelampiasan, apa ciuman seperti itu...?"
__ADS_1
"Cukup Theo, aku tak punya perasaan apapun padamu, aku hanya menganggapmu adik seperti Aksa lagipula aku sudah punya kekasih yang aku sayangi dan kami....akan segera menikah," sela Kalila menatap Theo lekat.
"Bahkan kau tak memakai cincin lamaran itu," ucap Theo mengejek.
"Ah, kau bagaimana kau tau aku....?"
"Aku disana saat dia melamarmu, mengawasimu, membuntutimu dan melihatnya memberikan sebuah cincin padamu," kata Theo semakin merendahkan suaranya.
Saat melihat Kalila di restoran bersama kekasihnya, Theo merasa sakit hati dan cemburu, membuntutinya masuk ke restoran duduk di sudut meja tak jauh dari meja Kalila.
"Ah....." Kalila menutup mulutnya tak percaya sejauh itu perasaan Theo padanya padahal sebelum itu Theo cuek padanya.
"Aku berencana memakainya saat dia pulang dan menerima lamarannya," ucap Kalila menundukkan wajahnya ke samping, tak berani menatap Theo takut perasaannya goyah. Theo meraih tangan Kalila cepat.
"Lalu, kau anggap aku apa? Kau anggap apa perasaanku? Setelah ciuman itu begitu mudahnya kah melupakannya dan kau bilang kesalahan, lalu perasaanku juga kesalahan?" bisik Theo lirih menatap Kalila yang masih tertunduk menyamping tak berani menatapnya.
"Maaf... maafkan aku... tapi begitulah yang kurasakan... tak ada perasaan lebih dari seorang kakak terhadap adiknya..." jawab Kalila lirih masih belum bisa menatapnya.
Pegangan tangan Theo mengendur, hatinya terhempas, wanita di hadapannya yang dianggap juga memiliki perasaan yang sama dengannya karena juga membalas dan menerima ciumannya malam itu dianggap kesalahan.
Hanya sebagai seorang adik, batin Theo. Matanya memerah, menahan tangis, tak mau dianggap cengeng sebagai seorang pria.
Di kamarnya, entah kenapa air mata Kalila mengalir tak mau berhenti, membanjiri selimutnya yang digunakan menutupi tubuhnya, terisak lirih didalam selimut. Setelah pertemuannya dengan Theo menolak pernyataannya cintanya, Kalila pulang dengan taksi online, Theo juga tak memaksanya untuk mengantar pulang.
Kalila merasakan hatinya sakit, saking sakitnya air matanya mengalir deras, menyesal telah menolak perasaan Theo yang ternyata juga dirasakan sangat mencintainya. Sama perasaannya dulu yang sangat mencintai pria masa lalunya yang
meminta putus dengan alasan yang tidak jelas, saat perasaannya lagi sayang-sayangnya dia meminta untuk putus.
bersambung
.
.
__ADS_1
.