
Sang mentari mengintip di antara arakan awan memancarkan sinarnya yang menerangkan bumi dan seisinya. Cahayanya telah mengusik tidur lelapnya Agni.
Secara perlahan kedua kelopak mata milik Agni terbuka. Dia mengedipkan kedua matanya agar bisa menyesuaikan bias sinar matahari yang menyeruak ke kornea kedua matanya Agni.
Mengeluarkan tangan kanannya untuk membuka reselting sleeping bag. Mengeluarkan badannya dari sleeping bag. Samar - samar dia mencium aroma makanan yang sedang dibakar ketika dia merapihkan sleeping bagnya. Menengok ke sumber aromanya. Dia melihat Edward sedang membakar lobster dan ikan.
Asap beraroma dari lobster yang sedang dibakar melewati indera penciumannya, Agni langsung memasukkan lipatan sleeping bagnya ke dalam bungkusan dengan gerakan cepat. Beranjak berdiri, lalu berjalan menghampiri Edward. Edward menengok ke sebelah kirinya. Melihat Agni yang sedang berdiri dengan mengenakan hotpants dan kaos crop.
Menatap intens ke Agni yang terlihat menggoda di kedua matanya sehingga menimbulkan nafsu birahinya sebagai laki - laki normal. Namun segera mungkin dia menepis sebelum dede kecil terbangun karena dia tidak mau berendam lagi di pantai untuk meniduri dede kecilnya. Edward mengalihkan pandangannya ke lobster dan ikan yang sedang dibakar.
Agni menduduki tubuhnya di sebelah kirinya Edward. Edward menengok ke Agni. Edward tersenyum manis ke Agni. Edward mengambil salah satu lobster yang berada di atas daun pisang sebelah kanannya sambil membakar ikan dan lobster. Memberikan lobster itu ke Agni. Agni menerimanya dengan senang hati karena dia sangat menyukai lobster.
"Terima kasih, kamu kok tahu, aku suka lobster?" tanya Agni sambil membelah tubuh lobster, lalu membuang bagian kepala lobster di api unggun.
"Karena aku sudah merasakan chemistry denganmu," ucap Edward sambil menaruh ikan dan dua lobster yang baru selesai dibakar di atas daun pisang sebelah kanannya.
"Pagi - pagi udah gombal," ucap Agni sambil mengambil mengambil daging lobster.
"Aku nggak gombal kok."
"Mas sudah mencari kotak hitam pesawat itu?" ucap Agni sambil mengunyah.
"Sudah."
"Kotak hitamnya sudah ketemu?" ucap Agni sambil menengok ke Edward.
"Belum. Aku yakin tempat jatuhnya pesawat itu jauh dari sini."
"Terus gimana caranya untuk menemukan orang yang telah mencelakai kita?"
"Semoga pihak berwajib menemukan kotak hitam itu karena mereka memiliki peralatan yang canggih."
"Aamiin Ya Robbal Alamiin. Ini lobster jenis apa ya? Kok lebih enak dagingnya?"
"Lobster mutiara. Lebih enak dari lobster yang lain ya?"
"Iya."
"Laut di sini banyak lobsternya," ujar Edward.
"Mas sepertinya bukan orang Indonesia asli ya?"
__ADS_1
"Iya, Daddyku orang Inggris dan Mommyku orang Indonesia. Daddy dan Mommy bercerai ketika aku berusia tiga tahun."
"Mas punya saudara?"
"Iya, aku punya kakak laki - laki tapi dia sekarang tinggal di London. Setelah bercerai, aku ikut Mommy, sedangkan kakak ikut Daddy. Mommy dan aku datang ke Indonesia ketika aku berusia empat tahun. Kalau kamu punya saudara kembar kan?"
"Iya, namanya Adi."
"Kalau nggak salah adikmu namanya Aya kan?" ucap Edward yang ingin memastikan apakah semalam dia salah dengar atau tidak.
"Iya."
"Kamu masih ingat siapa aja penumpang di dalam pesawat itu?"
"Eyang Kung, Ayah, Aya, Adi, Mbak Inem, Mbak Dewi dan aku."
"Kemungkinan dalang dari kecelakaan itu, Pak Hendra, Bu Sri, dan Bu Marina. Banyak pelaku kejahatan yang merupakan orang terdekat dari para korban."
"Kamu jangan berburuk sangka dulu tanpa ada buktinya, itu tidak baik. Oh ya, kapan kita cari kayu dan mushollanya Mas?"
"Nanti aja, setelah aku bangun tidur. Aku mau tidur dulu.
"Ya udah nanti jam sepuluh tolong bangunin aku ya, lumayan tidur empat jam setengah. Oh yah tadi aku sengaja menaruh pakaian kita di atas salah satu daun pisang supaya cepat keringnya. Habisi ikan, kelapa dan lobsternya."
"Iya Mas," ucap Agni sambil menengok ke pakaian mereka yang sedang dijemur.
Waduh, pakaian dalamku sudah dilihat dan dipegang olehnya. Apakah dia tidak risih melihat dan memegang pakaian dalamku?
Batin Agni.
Tak lama kemudian Edward beranjak berdiri. Berjalan pelan melewati Agni yang sedang duduk. Melangkahkan kakinya menghampiri daun pisang yang tidak ada pakaian yang dijemur dan makanan. Merebahkan tubuhnya di atas daun pisang itu. Agni menengok ke Edward yang sedang tidur miring ke kanan. Agni merasa tidak enak hati melihat Edward tidur di atas daun pisang.
"Mas pakai aja sleeping bagnya."
"Iya terima kasih, tapi aku sudah biasa kok tidur seperti ini di alam terbuka," ujar Edward.
Agni mengalihkan pandangannya. Menoleh ke daun pisang yang di atasnya ada dua ikan bakar, satu sisir pisang Lampung dan tiga lobster bakar berukuran besar. Mengambil salah satu lobster. Memotong tubuhnya Lobster. Membuang kepala lobster ke api unggun. Memakan daging lobster itu, walaupun tidak menggunakan bumbu, lobster itu sudah lezat dari sananya.
Setelah memakan daging lobster itu. Agni beranjak berdiri karena ingin membuang air kecil. Agni mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari tempat pembuangan air kencingnya. Pandangannya tertuju ke pantai setelah beberapa detik mencari tempat pembuangan yang terdekat. Akhirnya Agni membuka celana dan kain segitiga, lalu menaruhnya di tempat jemuran.
Berlari cepat ke pantai. Berjalan cepat ke tempat lebih dalam hingga permukaan air laut sepinggangnya. Agni membuang air kencingnya. Tiba - tiba dia merasa paha kanannya digigit oleh binatang. Agni menoleh ke paha kanannya. Agni terkejut melihat ular belang berukuran kecil berenang melewati kakinya, lalu pergi begitu saja. Rasa panik menyelimuti dirinya, tapi harus dia minimalisirkan rasa paniknya itu
__ADS_1
"Tolong!!!" pekik Agni.
Sontak Edward membukakan kedua matanya, lalu berdiri. Mengedarkan pandangannya sambil mencari sumber suara. Edward mendapati Agni yang sedang berdiri di pantai sambil melambaikan tangan kanannya ke dirinya. Edward berlari cepat menghampiri Agni karena khawatir takut terjadi apa - apa. Edward menghentikan langkahnya di depan Agni.
"Ada apa Agni?" tanya Edward khawatir.
"Paha kananku digigit ular laut."
Sialan ular playboy, tahu aja target yang menggiurkan. Semoga dry bites gigitan ular itu.
Batin Edward.
Edward menggendong tubuh idealnya Agni ala bride style, tapi posisi kakinya lebih rendah dari badannya. Sontak Agni mengalungkan kedua tangannya Berjalan menghadang ombak menuju tepian pantai sambil menahan desiran lembut di hati mereka yang sejak kemarin mereka rasakan. Agni menatap intens ke Edward yang memancarkan aura kepanikan.
Edward menduduki tubuhnya Agni di atas pasir ketika berada di tepi pantai. Edward menelan salivanya ketika tak sengaja melihat gua milik Agni yang tidak tertutup. Agni melihat tatapan Edward yang ke area inti tubuhnya. Sontak Agni menutupnya dengan kedua telapak tangannya, lalu merapatkan kedua kakinya.
Edward menengok ke Agni, lalu berkata, "Kalau begini aku tidak bisa menolongmu."
"Aku malu," ucap Agni.
"Kamu lebih mementingkan rasa malumu dari pada nyawamu?" ucap Edward sambil menatap wajah cantik alami milik Agni. "Percaya sama aku, aku tidak akan macam - macam. Aku hanya ingin melihat luka gigitan itu," lanjut Edward.
Mau tak mau Agni membuka selangkangannya. Edward menepis segala hal yang membuat dedenya terbangun. Edward memfokuskan pikirannya ke hal yang positif. Edward memperhatikan luka gigitan ular itu yang berada di paha kanannya Agni dekat pangkal paha. Edward berdiri, lalu berlari cepat ke kopernya. Dari kejauhan Agni dapat melihat Edward membuka kopernya, lalu mengambil sebuah kotak.
Setelah mengambil kotak obat - obatan, Edward berlari kencang menghampiri Agni. Menduduki lagi tubuhnya, lalu membuka kotak obat - obatan itu. Mengambil perban kecil dan perekat. Menaruh perban itu di atas luka gigitan dengan lilitan yang kencang. Agni merasakan sensasi yang berbeda di sekujur tubuhnya ketika Edward tak sengaja memegang pangkal pahanya dan paha kanannya ketika Edward melilitkan perban. Sedangkan Edward menahan gejolak nafsu ketika menyentuh bagian tubuhnya Agni yang berada di sekitar gigitan ular. Mengambil plester micropore, lalu memotongnya. Menempelkan plester itu di ujung perban.
"Kamu jangan bergerak dulu."
"Tapi aku harus pakai celana," ucap Agni sendu.
"Nanti aku pakaiin," ucap Edward serius.
"Nggak ah!" ucap Agni sedikit kesal.
"Kamu tuch susah banget dikasih tahu, kalau kamu bergerak, racun ular itu bisa menyebar lebih luas lagi," ucap Edward, lalu dia merapihkan kotak obatnya.
"Terus sampai kapan aku di sini?"
"Semenit lagi, jika kamu merasa sesak nafas, kakimu bengkak dan tubuh nyeri semua, aku akan memberikan suntikan anti racun ular. Jika tidak aku akan memberikanmu suntikan tetanus dan obat Paracetamol."
"Semoga itu semua tidak terjadi pada diriku."
__ADS_1