
Dilike ya guys 😁
Dikomen ya guys 😊
Divote ya guys 😁
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Arakan awan cumulus yang berbentuk seperti gumpalan kapas menghampar secar horizontal di langit biru sehingga menampilkan pemandangan yang indah dan menawan. Cahaya sang surya di siang hari bersinar cerah menyinari kota Jakarta. Udara panas di musim kemarau menyelimuti segala kegiatan masyarakat kota Jakarta, termasuk Hardi.
Hardi melakukan perjalanan dari airport ke rumah sakit, tempat dirawatnya Batara. Roda - roda dari mobilnya Hardi menggilas aspal jalan raya yang mulai berputar mengikuti arah setiran pengemudinya. Mobil yang ditumpangi oleh Hardi terjebak macet. Suara bising dari bunyi klakson beberapa kendaraan yang ditekan oleh para pengemudinya mengudara.
Kemacetan di jalan raya telah memacu emosi para pengguna jalan raya sehingga membunyikan klakson. Antrian kendaraan berada di wilayah ini membuat kemacetan yang panjang. Ada sesuatu yang membuat jalan raya macet. Salah satu yang membuat kemacetan adalah lampu merah. Hardi menoleh ke jam tangannya yang menunjukkan pukul satu siang.
Hardi mengambil smartphone miliknya yang berada di dalam kantong celananya. Menyentuh beberapa ikon untuk memeriksa email pribadinya. Satu persatu Hardi memeriksa email yang masuk. Dia melihat ada email dari salah satu bodyguardnya Agni. Dia membuka email itu. Hardi melebarkan kedua matanya sambil mengepalkan telapak tangan kirinya ketika melihat tiga buah foto Agni bersama Edward. Hardi melihat punggung telapak tangan kanannya Agni dicium oleh Edward dengan penuh kelembutan.
****, dasar wanita munafik!"
Ucap Hardi di dalam hati.
"Pak, saya tidak jadi ke rumah sakit dulu karena saya kelelahan. Tolong antarkan saya ke apartemen mutiara indah," ucap Hardi sambil melihat melihat email yang lain.
"Baik Pak."
"Nanti bapak pulang aja ke rumah Mbah."
"Baik Pak."
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Bunyi dering dari smartphone milik Hardi. Hardi memasang wajah boring ketika melihat tulisan istriku di layar smartphone miliknya. Hardi ragu untuk menjawab panggilan telepon itu. Akhirnya Hardi menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo, assalamu'alaikum Mas," ucap Agni ceria.
"Wa'alaikumussalam," ucap Hardi datar.
"Mas sudah sampai di Jakarta?"
"Baru sampai. Ni, udah dulu ya teleponnya. Nanti kamu jangan telepon lagi ke aku sebelum aku telepon ke kamu," ucap Hardi kesal.
"Memangnya kenapa Mas? Mas kesal sama aku? Kenapa Mas kesal sama aku?" rentetan pertanyaan dari Agni.
Aku kasih tahu nggak ya soal foto itu? Sebaiknya jangan dulu.
Batin Hardi.
"Mas, are you ok?"
"I am tired. I wanna sleep."
"Ok, I am sorry. Bye Mas, assalamu'alaikum."
Agni menjauhkan benda persegi panjang miliknya dari telinga kirinya. Menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Agni menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi Sri. Menggeser ikon hijau untuk menghubungi Sri, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo, assalamu'alaikum," sapa Agni.
__ADS_1
"Hallo, wa'alaikumussalam, iya sayangku, ada apa Nak?" ucap Sri ramah.
"Beberapa bulan yang lalu Tante pernah bertemu dengan Mas Edward di rumah sakit Bahtera Bogor, tapi waktu itu Tante belum yakin bahwa orang itu adalah Mas Edward, lalu Tante memberitahu soal itu ke aku, ke Mbah dan Mas Hardi. Terus beberapa hari kemudian Tante bilang ke aku bahwa orang itu bukan Mas Edward setelah bicara dengan dokter Shafira. Ternyata orang itu adalah benar - benar Mas Edward Tante. Kemarin dia datang menemuiku dan dia menjelaskan semuanya Tante. Dokter Shafira telah menutupi bahwa Mas Edward adalah salah satu pasiennya. Mas Edward ditemukan oleh dokter Shafira di pinggir kali Ciliwung dalam keadaan tidak sadar. Lalu Mas Edward dibawa ke rumah sakit Bahtera oleh dokter Shafira. Setelah sadar dan mengalami amnesia, Mas Edward dirawat oleh dokter Shafira. Waktu Tante ketemu dia di rumah sakit bahtera, dia masih amnesia. Setelah dia sembuh dari amnesia, dia pulang ke rumahnya dan datang menemuiku."
"Alhamdulillah, Edward masih hidup. Berarti feeling kamu benar Nak," ucap Sri senang." "Tapi kenapa waktu itu dokter Shafira tidak menceritakan bahwa dia menemukan Edward di pinggir kali dalam keadaan tidak sadar ke Tante?"
"Kata Edward, dokter Shafira mencintai dia sampai waktu itu dokter Shafira belum ikhlas menceritakan semuanya tentang itu ke Tante. Tapi Tante, kenapa Mbah dan Mas Hardi tahu dan yakin bahwa Mas Edward masih hidup setelah Tante memberitahu mereka?"
"Mereka telah menyewa detektif untuk mencari tahu apakah benar orang itu adalah Edward."
"Kenapa mereka menutupi itu?"
"Mungkin mereka ingin menjaga pernikahan kamu dengan Hardi Sayang. By the way, apakah Edward ngajak balikan?"
"Iya Tante."
"Terus respon kamu apa?"
"Aku menolaknya Tante."
"Kenapa kamu menolaknya?"
"Karena aku ingin menepati janjiku di hadapan Allah dan ingin menjaga pernikahan ini."
"Good. Bagaimana respon dia setelah kamu menolak ajakannya?"
"Dia menerimanya dengan ikhlas."
"Apakah sekarang kalian berteman?"
"Kamu sudah kasih tahu soal kamu kemarin bertemu dengan Edward?"
"Belum Tante, niatnya tadi aku memberi tahunya, tapi dia sedang kelelahan karena baru sampai di Jakarta."
"Oh Hardi sekarang berada di Jakarta?"
"Iya Tante."
"Sampai kapan dia berada di Jakarta?"
"Sampai kondisi Mbah membaik. Bagaimana keadaan perusahaan?"
"Alhamdulillah so far so good. Kamu tenang aja, perusahaan berjalan aman. Kalau Hardi udah di wisuda?"
"Belum Tante, kata Mas Hardi bulan depan."
"Kamu sekarang sudah di semester berapa?"
"Baru semester enam. Aku targetnya tahun depan lulus."
"Semoga target kamu tercapai."
"Aamiin Ya Robbal Alamiin. Udah dulu ya Tante, aku mau masak."
"Iya sayang, assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam."
Tak lama kemudian Agni menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menaruh smartphone miliknya di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Tak lama Agni merapikan tempat tidur. Setelah merapikan tempat tidurnya, dia berjalan menuju pintu kamar. Membuka kunci pintu kamar.
Menekan gagang pintu kamar ke bawah, lalu menariknya sehingga pintu terbuka. Berjalan menuju dapur. Tak sengaja Agni melihat Jennifer sedang minum susu di meja makan. Agni tersenyum ramah ke Jennifer, lalu Jennifer menganggukkan kepalanya. Agni melebarkan kedua matanya karena terkejut melihat aneka makanan di atas meja makan.
"Semua makanan ini dari siapa?"
"Dari mantan suamimu," ucap Jennifer santai sambil menaruh gelas di atas meja makan.
"Ngapain juga dia membelikan semua makanan itu?"
"Mana aku tahu, coba kamu tanyakan saja ke Mas Edward."
"Nggak perlu," ucap Agni sambil menduduki kursi yang berada di hadapan Jennifer.
"Kapan datangnya?"
"Pas kamu telepon suamimu yang tercinta," ucap Jennifer setengah ngeledek. "Kamu sudah ngomong soal pertemuan kamu dengan Edward?"
"Belum, dia masih kecapekan karena baru sampai di Jakarta."
"Terus tadi kenapa kamu lama di dalam kamar?"
"Setelah telepon Mas Hardi, aku telepon Tante Sri."
"Kamu ceritain semuanya tentang Edward yamg selama ini mengalami amnesia?"
"Iya."
"Respon Tante kamu apa?"
"Dia senang karena Edward masih hidup."
Kamu ceritain nggak soal kamu menolak Edward untuk balikan?"
"Iya."
"Respon Tante Sri apa?"
"Dia ngedukung dengan semua keputusanku."
"Tapi, aku heran sampai detik ini, kenapa kamu masih mau mempertahankan pernikahanmu dengan Hardi, sedangkan kamu tidak mencintai Hardi dan hanya karena ingin menepati janji di hadapan Tuhan? Emangnya nyaman pernikahan seperti itu?"
"Kalau kita ikhlas menjalaninya, nyaman - nyaman aja. Ini sudah takdirku, jadi ikhlaskan saja."
"By the way, nanti di kampus kamu ada yang ganteng nggak?"
"Ada, tapi udah aki - aki," ledek Agni.
"Idih ngapain juga aku cuci mata ke aki - aki, mendingan aku cuci mata ke Edward, mumpung dia masih jomblo, aku mau ah jadi istrinya," ledek Jennifer.
"Jangan!" teriak Agni kesal secara spontan.
"Wah, ada yang cemburu," ledek Jennifer.
__ADS_1