
"Agni!!" ngigau Edward yang masih terlelap.
Tubuhnya Edward bergerak gelisah tak karuan sehingga keringat membasahi sekujur tubuhnya. Dia merubah posisinya ke posisi telentang. Membuka kedua matanya secara perlahan. Mengerjapkan kedua matanya untuk menyesuaikan cahaya temaram yang masuk ke dalam kedua kornea matanya. Menduduki tubuhnya, lalu bersandar di kepala ranjang.
Melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. Menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi. Berjalan melewati pintu kamar mandi yang sudah terbuka. Membuka kran di westafel kamar mandi sehingga air mengalir. Beberapa kali membasuh mukanya dengan air yang mengalir. Mematikan keran air di westafel. Menatap wajahnya di depan cermin westafel.
"Raden Ajeng Mahiswara Agnibrata Candrawati Soerjosoemarno," gumam Edward bermonolog. "Kamu adalah istriku."
Edward yang sudah sembuh dari amnesia berjalan pelan keluar dari kamar mandi. Melewati pintu kamar mandi yang masih terbuka. Melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar. Membuka kunci pintu, lalu menekan handle pintu ke bawah. Menarik pintu kamar sehingga terbuka secara perlahan. Melanjutkan langkahnya menuju ke kamar milik Shafira. Tak sengaja Edward menemukan sosok Shafira di lorong lantai dua rumahnya Shafira.
"Shafira, bisa kita bicara sebentar," ucap Edward sopan setelah menghentikan langkahnya di depan Shafira.
"Bisa, kamu mau bicara apa?" ucap Shafira setelah menghentikan langkahnya.
"Aku sudah tahu siapa diriku."
"Alhamdulillah, siapa dirimu yang sebenarnya?"
"Nama asliku Edward Ganendra Middleton. Daddyku bernama Edgar James Middleton, sedangkan ibuku bernama Raden Ayu Wardani Gantari Pramudya Rusady. Istriku bernama Raden Ajeng Mahiswara Agnibrata Candrawati Soerjosoemarno," ucap Edward yang membuat hatinya Shafira ngilu.
"Raden Ajeng Mahiswara Agnibrata Candrawati Soerjosoemarno?" ucap Shafira antara percaya dan tidak percaya.
"Iya. Memangnya kenapa Shafira?"
"Dia sudah menikah sekitar sepuluh bulan yang lalu sama Raden Hardiyanta Kusuma Kartanegara. Kamu yakin dia itu istri kamu?"
"Iya. Kami menikah sebelum tragedi penyerangan mobil kami. Waktu itu Agni dibawa paksa sama gerombolan penjahat sedangkan aku sedang mempertahankan diri melawan sebagian dari mereka. Setahu aku, Hardi itu mantan kekasihnya Agni. Sekarang mereka tinggal di mana?"
"Setahu aku mereka tinggal di Oxford."
"Alhamdulillah, akhirnya Agni jadi kuliah di sana juga. Tapi kenapa mereka bisa menikah?"
"Tentang itu aku tidak tahu. Sebaiknya kamu hubungi ibu kamu."
"Baiklah, terima kasih atas bantuannya. Tanpa bantuan dari kamu, aku sudah tiada."
"Umur, hidup dan mati itu Allah yang ngatur. Semuanya sudah diatur sama Allah. Bersyukurlah kepada Allah karena Dia sudah melindungi dan menolong dirimu melalui diriku," ucap Shafira sambil menahan rasa sedih yang bergejolak.
"Kamu baru pulang dari rumah sakit?"
"Iya, aku mau mandi dulu. See you on tomorrow."
Edward hanya tersenyum manis menanggapi ucapan Shafira. Tak lama kemudian Shafira melanjutkan langkah kakinya menuju ujung lorong itu. Sedangkan Edward membalikkan badannya, lalu melanjutkan langkahnya ke kamar tamu. Dengan langkah yang lunglai, Shafira berjalan ke kamarnya. Menekan handle pintu ke bawah, lalu mendorongnya sehingga pintu terbuka secara perlahan. Dengan lesu, Shafira masuk ke dalam kamar. Menutup pintu kamar, lalu mengunci pintu kamarnya.
Melanjutkan langkah kakinya ke sofa. Menduduki tubuhnya di atas sofa. Membuka reselting tas selempangnya. Mengambil smartphone miliknya, lalu menyentuh beberapa ikon di layar smartphonenya untuk membuka galery foto. Melihat foto-foto dia bersama Edward di beberapa tempat. Tak terasa air matanya mengalir lembut di pipinya ketika melihat foto-foto itu. Dia sedih karena Edward telah memiliki seorang istri.
Tok ... tok ... tok ...
__ADS_1
"Shafira, are you ok?" ucap Edward khawatir.
Sontak Shafira menyeka air matanya, lalu berucap, "Yeah, I am ok Boy."
"Boleh aku masuk?"
"Ngapain kamu masuk?"
"Aku mau bicara sebentar sama kamu lagi."
"Tunggu sebentar."
Shafira menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan untuk menenangkan hatinya. Setelah merasa tenang, Shafira beranjak berdiri dari sofa. Melanjutkan langkah kakinya menuju pintu kamar. Menghentikan langkah kakinya, lalu membuka kunci pintu kamar. Menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya sehingga pintu kamar terbuka secara perlahan.
Edward terenyuh melihat aura kesedihan yang terpancar dari wajahnya Shafira. Sontak Edward mendekap tubuhnya Shafira. Shafira tak kuasa menahan buliran bening yang keluar dari kedua matanya. Shafira mengalir lagi di pipinya sehingga dia menangis terisak-isak. Edward mengusap punggung Shafira dengan lembut untuk memberikan ketenangan.
"Kamu kenapa? Apakah kamu sedih karena aku sudah memiliki seorang istri?"
Kok dia bisa tahu? Aku tidak mau dia tahu yang sebenarnya terjadi di dalam hatiku.
Batin Shafira.
"Hiks ... hiks ... hiks ... bukan Boy, tapi aku bahagia hiks ... hiks ... hiks ...." ucap Shafira berbohong.
"Setahu aku, kalau kamu bahagia tidak menangis."
"Apakah itu benar?" ucap Edward sambil melepaskan dekapannya.
"Hiks ... hiks ... hiks ... iya. Oh ya, kamu sudah menghubungi keluarga kamu hiks ... hiks .... hiks ... ?" ucap Shafira sambil mengadahkan wajahnya sehingga tatapan mata mereka bertemu.
"Telepon Agni, nomornya sudah tidak aktif dan telepon Ibu tidak diangkat. Sebaiknya kamu menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan berulang kali supaya kamu berhenti menangis. Aku tak kuasa melihat seorang wanita menangis," ucap Edward lembut sambil menyeka air matanya Shafira.
Tak lama kemudian Shafira mengikuti ucapan Edward sehingga tangisannya berhenti walaupun hatinya masih tetap sedih. Shafira membalikkan badannya, lalu melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur. Edward mengikuti langkah kakinya Shafira. Shafira menghentikan langkah kakinya di tepian tempat tidur. Membalikkan badannya sehingga mereka saling berhadapan. Edward menghentikan langkah kakinya di depan Shafira.
"Oh ya, besok kamu buka praktek nggak?" ucap Edward.
"Nggak. Memangnya kenapa?" ucap Shafira lirih sembari merasakan debaran di hatinya.
"Tolong antarkan aku ke rumah ibuku. Aku mau pulang ke sana."
"Ok, jam berapa kamu mau ke rumah ibumu?"
"Jam sembilan pagi."
"Ok. Maaf Boy, bisa kamu tinggalkan aku sendiri?"
"Kamu baik-baik saja kan?" ucap Edward yang masih khawatir dengan keadaan Shafira.
__ADS_1
"Iya, aku baik-baik aja."
"Baiklah kalau begitu."
Sedetik kemudian Edward membalikkan tubuhnya. Melanjutkan langkah kakinya menuju pintu kamar. Berjalan keluar dari dalam kamar. Menarik pintu kamar sambil sekilas melihat Shafira yang sedang berjalan lunglai ke kamar mandi. Menutup pintu kamar itu. Edward merasakan kebahagiaan karena dia telah menemukan jati dirinya. Membalikkan tubuhnya, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar tamu.
Masuk ke dalam kamar melalui pintu kamar yang masih terbuka. Berjalan menghampiri nakas sebelah kanan tempat tidur. Mengambil smartphone miliknya yang merupakan hadiah dari Shafira. Menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi Wardani. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. Beberapa kali mendengar nada sambung dari panggilan telepon itu. Akhirnya panggilan telepon itu dijawab.
"Hallo assalamu'alaikum," ucap Wardani dengan nada suara yang serak.
"Wa'alaikumussalam, Ibu ini Edward Ganendra Middleton, putra semata wayang ibu."
"Benaran kami Edward, putra Ibu?" ucap Wardani terkejut.
"Iya, Bu."
"Alhamdulillah kamu masih hidup. Kamu sekarang lagi di mana Sayang?" ucap Wardani bahagia.
"Aku lagi di rumah Bu Dokter Shafira Bu, dia yang telah menolong diriku dan yang telah menyembuhkan aku dari amnesia."
"Kenapa kamu bisa kena amnesia?"
"Nanti aku ceritakan Bu. Oh ya besok jam sembilan pagi Ibu ada di rumah?"
"Ada sayang. Kamu pulang ya ke sini."
"Iya Bu, aku mau ke sana besok. Aku diantar sama Bu Dokter Shafira."
"Kamu atau Bu Dokter Shafira sudah melapor ke pihak berwajib mengenai dirimu?"
"Kalau soal itu aku tidak tahu Bu."
"Sebaiknya kamu ngomong soal itu ke pihak berwajib. Nanti Ibu bantuin kamu untuk membuat KTP barumu."
"Bu, bagaimana keadaan Agni?"
"Sayang, sebaiknya kita membicarakan soal Agni di rumah aja. Kamu sudah bilang terima kasih ke Bu Dokter Shafira?"
"Aku sudah bilang terima kasih atas bantuannya. Udah malam Bu, besok kita lanjutkan lagi."
"Iya Sayang. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. Edward menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menaruh smartphone miliknya di tempat semula. Menduduki tubuhnya di tepian tempat tidur. Tak sengaja dia melihat foto Shafira bersama anak-anak dan dirinya di frame samping smartphone miliknya. Di dalam foto itu mereka tampak sangat bahagia.
"Shafira, kamu benar-benar seorang wanita yang sangat baik. Aku pasti akan membalas semua bantuanmu."
__ADS_1