
Dilike ya guys 😁
Dikomen ya guys 😊
Divote ya guys 😁
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Arakan bintang - bintang kecil di langit yang gelap dan sinar rembulan di malam hari sehingga menampilkan pemandangan yang indah dan menawan. Pemandangan langit malam yang indah itu menyelimuti segala kegiatan masyarakat kota Jakarta, termasuk Agni.
Agni melakukan perjalanan dari bandara Soekarno Hatta menuju mansion milik Batara. Roda - roda dari taksi yang ditumpangi oleh Agni menggilas aspal jalan raya yang mulai berputar mengikuti arah setiran pengemudinya. Taksi yang dikendarai oleh Agni terjebak macet. Suara bising dari bunyi klakson beberapa kendaraan yang ditekan oleh para pengemudinya mengudara.
Kemacetan di jalan raya telah memacu emosi para pengguna jalan raya sehingga membunyikan klakson. Antrian kendaraan berada di wilayah ini membuat kemacetan yang panjang. Ada sesuatu yang membuat jalan raya macet. Agni melewati sebuah mobil yang rusak di pinggir jalan. Mobil yang menjadi penyebab kemacetan lalu lintas. Sekilas dia melirik mobil itu. Agni kembali menoleh ke depan sambil memikirkan sesuatu.
Sepertinya itu mobil Mas Hardi.
batin Agni.
Setelah menelusuri jalan raya yang penuh dengan kendaraan, taksi yang ditumpangi oleh Agni berhenti di depan pintu utama mansion milik Batara. Agni membuka seat belt, lalu menoleh ke layar yang menunjukkan angka argo taksi. Membuka resleting tas selempangnya, lalu mengambil beberapa lembar uang yang sudah dia siapkan untuk bayar taksi. Menutup resleting tas selempangnya.
"Ini Pak ongkosnya, kembaliannya untuk bapak aja," ucap Agni sambil memberikan beberapa uang lembar itu ke supir taksi.
"Terima kasih banyak ya Neng," ucap supir taksi itu dengan nada suara yang senang.
"Sama - sama Pak."
Supir taksi itu Membuka kunci pintu dan bagasi mobil. Agni dan supir itu membuka pintu mobil, lalu turun dari mobilnya. Supir taksi itu membuka bagasi mobil, lalu mengambil koper besar milik Agni dari bagasi mobil. Tak lama kemudian membawa tas koper itu ke Agni. Sedangkan Agni berdiri sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling mansion milik Batara yang kelihatan sepi.
"Neng, ini tas kopernya," ucap supir taksi itu dengan sopan sambil menaruh koper itu di samping kirinya Agni.
"Iya Pak, terima kasih," ucap Agni sopan sambil menoleh ke supir taksi itu.
"Sama - sama Neng," ucap supir taksi itu sopan.
Sedetik kemudian supir itu berjalan pelan ke taksi. Sedangkan Agni melangkahkan kakinya sambil membawa kopernya ke pintu utama mansion milik Batara yang sedang tertutup rapat. Agni menghentikan langkah kakinya di depan pintu itu ketika taksi melaju meninggalkan mansion milik Batara. Pintu itu terbuka secara otomatis. Agni masuk ke dalam. Mengedarkan pandangannya ke segala penjuru lobby mansion itu yang terlihat sepi.
Agni mendengar suara derap langkah seseorang yang sedang menghampiri dirinya. Dari balik tembok, keluarlah Hardi yang sedang berjalan terburu - buru tanpa menghiraukan kehadiran Agni. Hardi melengos pergi melewati Agni ketika Agni hendak menyalim. Agni mengerutkan keningnya melihat sikap Hardi yang cuek terhadap dirinya. Pandangan Agni mengikuti gerak - geriknya Hardi. Agni melihat sosoknya Hardi menghilang setelah keluar dari pintu utama mansion itu.
"Assalamu'alaikum Agni," sapa Pratistha ramah yang mengagetkan Agni.
Sontak Agni menoleh ke Pratistha, lalu berucap, "Wa'alaikumussalam Tante Tistha. Acara tahlilannya sudah selesai Tante?"
"Sudah sayang," ucap Pratistha sambil berjalan menghampiri Agni.
__ADS_1
"Berarti aku telat Tante," ucap Agni sedih.
"Iya, tapi nggak apa -apa kok. Besok masih ada tahlilan," ucap Pratistha sambil menghentikan langkah kakinya di hadapan Agni, lalu Agni menyalim tangan kanannya Pratistha.
"Mas Hardi mau pergi ke mana Tante?"
"Temannya kecelakaan setelah menghadiri acara tahlilan di sini."
"Siapa nama temannya Tante?"
"Ehm ... Kalau nggak salah namanya Valerie."
"Valerie, mantan pacarnya Mas Hardi?"
"Kalau soal itu Tante nggak tahu Sayang. Sebaiknya sekarang kamu istirahat di kamarnya Hardi. Kamarnya berada di ujung lorong sebelah kanan setelah kamu keluar dari lift lantai 2. Oh ya, kamu sudah makan belum?"
"Tadi sore udah makan di dalam pesawat Tante, aku sudah kenyang Tante."
"Ya udah sekarang kamu istirahat aja," ucap Pratistha lembut.
"Saya permisi dulu," ucap Agni sopan.
Pratistha menganggukkan kepalanya untuk merespon ucapan Agni. Agni berjalan sambil membawa koper menuju pintu lift. Agni menyentuh ikon tanda panah ke atas di alat pemindai sampai kiri pintu lift itu. Pintu lift terbuka lebar. Agni masuk ke dalam lift. Pencet tombol angka dua. Pintu lift ketutup secara otomatis.
Menekan handle pintu ke bawah. Mendorong pintu sehingga pintu itu terbuka. Melepaskan handle pintu, lalu masuk ke dalam kamar itu sambil menarik kopernya. Memencet sakelar lampu kamar. Kamar menjadi terang benderang. Agni mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar yang bernuansa manly. Mendorong pintu kamar itu sehingga pintunya ketutup.
Melanjutkan langkah kakinya. Berjalan menuju tempat tidur yang berukuran extra king. Menghentikan langkah kakinya, lalu melepaskan genggaman koper. Menduduki tubuhnya di pinggiran tempat tidur itu. Tak sengaja Agni melihat laci nakas yang berada di sebelah kanan tempat tidur terbuka sedikit. Agni menarik laci itu sehingga laci itu terbuka lebar.
Ada sebuah amplop cokelat yang mencuri perhatian Agni. Agni mengambil amplop cokelat itu. Membuka amplop cokelat itu, lalu mengambil isi amplop cokelat itu. Agni melebarkan kedua matanya karena terkejut melihat isi dari amplop cokelat itu. Isi amplop cokelat itu adalah beberapa foto dia bersama Edward.
"Ternyata semua kegiatanku bersama Edward didokumentasikan," ucap Agni lemas sambil melihat foto - foto itu secara bergantian.
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
__ADS_1
Kau selalu ada
Kau selalu ada
Kau selalu ada
Kau selalu ada
Tiba - tiba smartphone milik Agni berdering. Agni menaruh foto - foto itu di atas tempat tidur. Membuka resleting tas selempangnya. Mengambil smartphone miliknya. Agni tersenyum senang ketika melihat nama Jenny di layar smartphonenya. Mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya.
"Hallo Jenny," ucap Agni ramah.
"Hallo Ni, kamu sudah sampai di Jakarta?"
"Sudah Jenny."
"Sekarang kamu lagi berduaan sama Hardi?"
"Nggak Jenny."
"Kok bisa begitu? Kamu jadi kan nginep di mansion milik Pak Batara?"
"Jadi, kami memang tidur sekamar, tapi sekarang Mas Hardi lagi pergi. Memangnya kenapa Jenny?"
"Aku mau ngobrol sama kamu, kalau ada Hardi, ngobrolnya nggak bebas. Gimana hari pertama menginjak tanah Jakarta lagi?"
"Biasa aja. Oh ya Jenny, ternyata segala kegiatan aku dengan kamu dan Mas Edward difoto. Tapi difoto - foto itu nggak ada kamu, hanya ada aku dan Mas Edward."
"Kamu ketahuan bohong dong, berarti foto - foto itu diedit dong," komen Jenny.
"Iya. Menurut kamu Mas Hardi marah nggak?"
"Memangnya kamu belum ketemu sama Mas Hardi?"
"Tadi sempat ketemu sebentar di lobby mansion. Dia nyelonong keluar tanpa mempedulikan diriku yang baru saja sampai, aku takut dua marah karena salah paham dengan hubungan kamu," ucap Agni sedih.
"Waduh, itu berarti dia marah sama kamu. Tapi kamu tenang dulu, aku punya solusinya."
"Apa solusinya?"
"Kamu godain dia sampai kalian berhubungan intim, setelah itu kamu jelasin tentang hubungan kamu dengan Edward dan kamu bilang bahwa kamu nggak ada niat untuk membohonginya. Dia pasti luluh."
"Baiklah, akan aku coba. Semoga Mas Hardi mengerti setelah aku menjelaskannya."
__ADS_1