
Perlahan kedua kelopak mata Agni mulai terbuka. Tak lama kemudian Agni mengerjapkan kedua kelopak matanya secara pelan-pelan untuk menyesuaikan retina matanya dengan bias cahaya temaram di dalam sebuah kamar. Agni mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan setelah kedua kelopak matanya terbuka sempurna.
Sarah terkejut melihat kamar yang bernuansa manly yang sudah tentu bukan kamarnya. Sontak Agni panik karena dia sendirian berada di dalam ruangan yang asing bagi dirinya. Agni terkesiap ketika dirinya tidak sengaja melihat seseorang yang sedang berdiri membelakangi dirinya di balkon kamar.
Agni beranjak berdiri dari tempat tidur. Berjalan dengan hati-hati menghampiri orang yang berada di balkon. Melewati pintu pembatas yang sudah terbuka lebar. Agni kaget ketika orang itu membalikkan badannya. Ternyata orang itu adalah Hardi. Hardi tersenyum tipis melihat Agni yang sedang melongo.
"Akhirnya kamu bangun juga," ucap Hardi datar yang membuyarkan keterkejutan Agni.
"Sekarang aku berada di mana?" tanya Agni bingung saat Hardi melangkahkan kakinya menghampiri Agni.
"Di dalam kamarku," ucap Hardi sambil berjalan.
"Kenapa aku berada di sini? Bukan berada di dalam rumah milik almarhum Ayahku? Apa yang telah terjadi selama aku ditangkap dan disekap sama para penjahat itu?"
"Bisa kita bicara sebentar di dalam kamar?" ucap Hardi ramah setelah menghentikan langkahnya di samping kanan Agni.
"Membicarakan tentang apa?" ucap Agni sambil menoleh ke Hardi.
"Tentang jawaban semua pertanyaanmu," ucap Hardi ramah sambil menoleh ke Agni.
Agni menganggukkan kepalanya sebagai respon dari ucapan Hardi. Agni memutarkan badannya. Mereka jalan beriringan masuk ke dalam kamar. Berjalan melewati pintu kamar. Mereka menghampiri sebuah sofa panjang, lalu mereka menduduki tubuhnya di atas sofa panjang. Mereka saling pandang. Hardi canggung untuk memulai obrolan di antara mereka.
"Ehm ... waktu kamu pergi ke villa Edward dari rumah ayahmu yang berada di pantai mutiara, ada dua buah mobil Jeep hitam mengikuti kalian. Dua mobil Jeep itu milik salah satu mafia yang terkenal di negara ini. Mereka itu adalah suruhan Tante Marina dan Om Hendra. Marina dan Hendra punya rencana untuk menculik dan membunuh kamu dan Edward dengan menggunakan jasa komplotan mafia itu. Di jalan yang sepi, para penjahat itu menghadang kalian. Kamu berhasil dibawa oleh mereka, sedangkan Edward memberontak ketika hendak dibawa sama mereka sehingga dia ditembak dan kecebur ke sungai. Pak Wahyu mati ditembak ketika sedang berusaha melindungi kalian. Setelah itu, mereka membakar mobil yang ditumpangi olehmu. Aku tahu semuanya dari Mbah. Mbah tahu kejadian itu dari pengakuan para penjahat itu dan hasil penyadapan nomor telepon Om Hendra serta penyadapan nomor telepon Tante Marina. Mbah melakukan penyadapan itu setelah terjadinya kecelakaan pesawat jet pribadi milik almarhum Om Cipto. Mbah curiga sama Tante Marina dan Om Hendra yang juga menjadi dalang kecelakaan pesawat itu, maka itu Mbah melakukan penyadapan. Tadi Mbah terkejut melihat hasil penyadapannya yang menjelaskan tentang peristiwa penculikan, pembunuhan dan kebakarnya mobil itu. Mbah langsung melapor ke pihak polisi dengan membawa hasil penyadapan itu. Setelah kejadian itu, kecurigaan Mbah terhadap Om Hendra dan Tante Marina bertambah. Mbah yakin bahwa dalang kecelakaan pesawat itu adalah Hendra dan Marina tapi Mbah nggak punya bukti untuk melaporkan hal itu. Mbah sangat khawatir sama keselamatan nyawamu walaupun para penjahat, Tante Marina dan Om Hendra sudah dipenjara. Mbah ingin kamu tinggal di mansion ini karena di sini merupakan tempat yang aman untuk dirimu. Mbah sangat menyayangimu karena sudah menganggap dirimu sebagai cucunya. Tadi saat aku membawa kamu pergi dari sana, di tengah perjalanan kamu tidur, lalu Mbah ingin aku membawa kamu ke sini. Mbah juga sangat menginginkan kita menikah supaya aku bisa menjagamu karena tidak ada yang bisa menjagamu selain diriku. Sedangkan Tante Sri sedang meratapi kesedihannya setelah mengetahui suaminya telah berbuat jahat dan berselingkuh dengan Tante Marina. Untung ada Aki kamu dan Uwa kamu yang bisa mengurusi perusahaan - perusahaan milik almarhum Om Cipto. Aku mau mewujudkan keinginan Mbah yang menginginkan kita menikah karena aku ingin membahagiakan Mbah. Aku nggak mau menambah pikiran Mbah. Maukah kamu menikah denganku?" ucap Hardi lembut.
"Apakah benar yang tadi kamu ucapkan, Mas?" tanya Agni merasa tidak percaya apa yang telah diucapkan oleh Hardi.
"Iya, semua itu benar."
"Aku nggak menyangka Om Hendra dan Tante Marina melakukan hal sekeji itu kepada kami," ucap Agni sedih.
Tak terasa air mata Agni mengalir lembut di pipinya. Dia menangis sesenggukan. Bahunya naik turun. Lambat laun air matanya meluncur deras di pipinya sehingga tangisannya menderu-deru. Hardi mendekap pundaknya Agni penuh kehangatan. Hardi mengusap punggung Agni dengan lembut supaya bisa menenangkan hatinya Agni yang lagi sedih.
"Huhuhu ... kenapa Allah memberikan aku huhuhu ... nasib buruk yang memiliki Om seperti Om Hendra dan huhuhu ... seorang calon ibu seperti Tante Marina huhuhu ...."
__ADS_1
"Tak perlu kamu menangis lagi untuk masalah itu. Tak perlu meratapi semua yang telah terjadi. Kita harus ikhlas menerima takdir ini, Agni. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah meminta pertanggung jawabkan perbuatan mereka terhadap kita," ucap Hardi, lalu melepaskan dekapannya.
Menyeka air matanya Agni, lalu berucap dengan lembut, "Sekarang sebaiknya kamu tarik nafas dalam-dalam, terus hembuskan nafas dengan pelan-pelan berulang kali."
Agni menganggukkan kepalanya sebagai respon dari ucapan Hardi setelah Hardi menyeka air matanya Agni. Agni menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan berulang kali sehingga dia berhenti menangis. Agni sejenak memejamkan kedua matanya untuk menguatkan dirinya dalam menerima takdir hidup yang buruk.
"Sebaiknya kita menikah supaya aku selalu menemani dirimu. Aku nggak tega membiarkan dirimu sendiri yang seperti ini. Kita nikah yuk," ucap Hardi lembut.
"Lihat aja nanti, sekarang ini aku sedang menata hati diriku setelah Edward meninggal. Dan ingin fokus melanjutkan sekolah di Oxford University. Lagipula bagaimana dengan pacarmu itu jika kita menikah?"
"Kami sudah resmi putus. Sebenarnya sebelum kita berkenalan, aku sudah memiliki dia sebagai kekasihku. Awalnya dia temanku waktu kuliah di Stanford. Kami pacaran selama kuliah. Setelah kami lulus kuliah, kami long distance relationship. Tapi Mbah tidak menyetujui hubungan kami. Maka itu kami putus, terus kami jadian lagi sama dia karena dia nekat datang ke Indonesia, merayu aku untuk pacaran lagi. Awalnya aku menolak karena hubungan kita sudah jadian. Sampai akhirnya dia rela jadi kekasih gelapku. Hubungan kami memang sudah seperti suami istri sejak kami pacaran di Amerika. Karena itu juga Mbah nggak suka hubungan kami. Sejak hubungan asmara aku dan kamu putus, Mbah sangat sedih dan tanpa disangka Valerie telah selingkuh di belakangku. Karena semua itu aku memutuskan hubungan kami dan aku hanya ingin membahagiakan Mbah. Kamu mau kan membahagiakan Mbah?"
"Aku juga mau membahagiakan Mbah, tapi bukan begitu caranya."
"Terus menurut kamu bagaimana caranya?"
"Yah berbaktilah kepadanya, jangan membantah keinginannya, memberikan rasa kasih sayang yang tulus dan tidak membuat dia sedih."
"Ehmmm ... iya juga sich, tapi ... untuk saat ini aku nggak kepikiran untuk soal menikah, Mas. Lagipula kita sudah tidak saling mencintai, Mas."
"Seiring dengan waktu kita pasti saling mencintai jika kita saling berinteraksi."
"Maybe."
Tiba - tiba Hardi menggenggam telapak tangan kanannya Agni, lalu berucap dengan serius, "Aku janji tidak akan menyakiti dirimu lagi dan aku berusaha untuk mencintai dirimu lagi. Mau ya kita menikah?"
"Aku nggak tahu Mas, kita lihat aja nanti," ucap Agni serius, lalu dia melepaskan genggaman tangannya Hardi.
Waduh kalau begini bisa sia - sia usahaku untuk mendapatkan tujuh puluh persen kekayaan Mbah. Percuma juga ngomong jujur sama Agni. Sebaiknya aku harus pakai cara merayu dan sedikit bersandiwara.
Batin Hardi.
Tak lama kemudian Agni beranjak berdiri dari sofa panjang, lalu Hardi berujar dengan lembut, "Kamu mau ke mana, sayang?"
__ADS_1
Sontak Agni menoleh ke Hardi sambil mengerutkan keningnya, lalu berkata, "Jangan panggil sayang lagi! Aku nggak suka kamu panggil aku sayang! Aku mau ke kamar mandi."
"Habis mandi, kamu makan ya, soalnya tadi pagi kamu belum sempat sarapan."
"Baiklah," ucap Agni, lalu dia memutarkan badannya.
Melanjutkan langkahnya menghampiri pintu kamar mandi yang sudah terbuka. Masuk ke dalam kamar mandi melewati celah pintu kamar mandi. Menutup pintu kamar mandi. Sementara Hardi beranjak berdiri dari sofa panjang. Melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya ke dalam sehingga pintu kebuka. Keluar dari dalam kamar. Dia melihat Barata sedang berjalan menghampirinya ketika Hardi sedang menutup pintu kamar.
"Agni masih tidur?" tanya Barata setelah menghentikan langkahnya di depan Hardi.
"Sudah bangun Mbah."
"Apa yang kalian lakukan di dalam kamar?" tanya Batara menyelidik.
"Kami hanya ngobrol sebentar Mbah."
"Ngobrol tentang apa?"
"Yah, ngobrol semua yang telah terjadi Mbah, lagipula aku sedang berusaha mengambil hatinya Agni lagi, Mbah."
"Semoga usahamu berhasil."
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah membaca novelku ini π
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
Happy reading π€
__ADS_1