Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Amnesia


__ADS_3

Secara pelan - pelan kedua kelopak netra milik Edward mulai terbuka karena memudarnya pengaruh dari obat - obatan yang sempat merapatkan kedua matanya dengan kuat. Sekarang di berada di ruang ICU rumah sakit swasta di daerah Bogor. Setelah dia menyelamatkan diri dari serangan peluru para penjahat suruhan Marina dan Hendra, dia menyeburkan diri ke sungai. Tapi ketika dia lagi berenang tiba-tiba ada balok kayu mengenai otak kecilnya sehingga dia tidak menyadarkan diri dan luka memar di bagian belakang kepalanya yang bisa menyebabkan amnesia.


Edward mengedipkan kedua matanya beberapa kali supaya bisa menyesuaikan pancaran sinar lampu yang menerobos masuk menembus kornea kedua matanya. Setelah kedua kelopak matanya terbuka sempurna, lelaki itu mengedarkan kepalanya ke sekeliling ruangan. Bingung adalah reaksi pertama yang dia tampakkan ketika dia melihat kamar yang bernuansa putih yang memenuhi kedua matanya setelah terpejam dalam waktu yang dia sendiri tidak tahu sudah berapa lama.


Edward terkejut ketika dirinya tidak sengaja melihat seorang wanita cantik yang tak dikenalnya sedang berdiri di samping kiri tempat tidur yang dia tempati sekarang sambil melihat layar monitor dengan menggunakan jas putih khas dokter. Wanita yang tak dikenal olehnya itu menoleh, lalu wanita itu tersenyum manis ketika mereka beradu pandang. Ketika Edward hendak bicara, mulutnya tidak bisa bergerak karena ada alat ventilator yang dapat membantu Edward untuk bernapas. Alat ini dihubungkan dengan selang yang bisa dimasukkan lewat mulutnya Edward.


"Hai, laki-laki tampan akhirnya kamu sudah sadar, tidak usah dipaksakan untuk bergerak lebih banyak lagi," ujar dokter itu dengan nada suara yang lembut, lalu dia berjalan ke ujung ranjang yang ada data riwayat pasien.


Sepertinya, aku pernah dengar suara itu. Tapi di mana?


Batin Edward.


"Kamu sekarang berada di ruang ICU atau Intensive Care Unit," ujar wanita itu sambil mengambil data pasien, lalu menulis catatan mengenai waktu dan kondisi lelaki itu ketika dia menyadarkan dirinya. "Kondisi kamu sekarang sudah cukup baik dan stabil, tapi kita lihat perkembangan kondisi kamu beberapa waktu lagi," lanjut wanita itu sambil mengambil data riwayat pasien.


Sedetik kemudian wanita itu mengambil pulpen dari saku jasnya, lalu menuliskan hasil pemeriksaannya. Menaruh catatan riwayat pasien pada tempatnya, lalu berjalan ke sebelah kanan ranjang pasien. Memeriksa infusan yang dialirkan ke tubuhnya Edward. Dia berusaha menggerakkan tangan kanannya untuk memanggil wanita itu. Lalu wanita itu menoleh lagi ke dia dan wanita itu melihat dia sedang berusaha untuk menggerakkan tangannya lagi, namun dia merasa nyeri disekitar tangan kanannya.


"Tidak usah dipaksakan untuk bergerak lebih banyak lagi jika kamu masih merasa nyeri," ujar wanita itu sambil mengusap lembut lengan kanan Edward


Syerrrr

__ADS_1


Kenapa ada desiran lembut di hatiku ketika aku menyentuh dirinya. Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.


Batin wanita itu sambil menduduki pantatnya di kursi sebelah kanan ranjang pasien.


"Perkenalkan, namaku Shafira, aku adalah salah satu dokter di rumah sakit ini dan sekarang aku dokter jaga di ruangan ini. Oh ya, bolehkah aku ngobrol sama kamu? Jika boleh, kamu hanya perlu menggerakkan jari kamu," ucap Shafira yang sedang memancing respon Edward sambil melihat tangan kanannya.


Kemudian Edward menggerakkan jari telunjuknya beberapa kali. Itu tandanya, Edward merespon ucapan Shafira. Shafira hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali ketika melihat respon dari lelaki itu. Yang bertanda adanya kemajuan dari kesehatan Edward. Shafira memperhatikan wajah gantengnya Edward dengan seksama sambil merasakan tempo detak jantungnya yang lebih cepat dari biasanya.


MasyaAllah gantengnya, bikin jantung berdebar lebih kencang aja.


Batin Shafira.


Kemudian Edward menggerakkan jari telunjuknya beberapa kali untuk menjawab pertanyaan dari Shafira. Shafira tertegun melihat respon dari lelaki itu. Shafira tidak menyangka bahwa lelaki itu tidak bosan dengan celotehan dia tentang rumah sakit. Kemudian Shafira beranjak berdiri dari kursi. Melangkah kakinya ke layar monitor yang berada di sebelah kiri tempat tidur pasien. Dia melihat layar monitor itu dengan teliti dan fokus.


Biasanya, para pasien merasa bosan jika aku ngomong tentang ruang ICU. Kenapa dia tidak bosan? Ada apa dengan dirinya? Aku harus membicarakan perkembangan dia saat ini dan hal ini dengan Dokter Maryam karena Dokter Maryam adalah dokter spesialis saraf atau neurologis yang bertugas untuk mendiagnosis, menangani, dan yang merawat dia. Yang dialami dia sekarang melalui hasil pemeriksaan MRI dan CT Scan adalah dia mengalami gegar otak akibat benturan benda dan itu berhubungan dengan sistem saraf mulai dari otak, saraf tulang belakang, hingga sistem saraf tepi di tubuhnya.


kata Shafira di dalam hati sambil tersenyum manis ke lelaki itu.


"Detak jantung kamu sudah mulai stabil dalam kurun waktu yang cukup lama, kadar oksigen di dalam darah sudah normal dan tekanan darah kamu juga sudah normal. Mungkin nanti siang kamu dipindahkan ke ruang HCU karena kamu sudah menunjukkan perkembangan yang baik tetapi masih dalam pengawasan ketat oleh dokter Maryam, saya dan para perawat," kata Sofia dengan nada suara yang lembut sambil menoleh ke lelaki itu. Cepatan sembuh ya, biar bisa kumpul dengan orang - orang terdekat yang ada di sekitarmu," ucap Shafira, lalu dia tersenyum palsu karena dia merasa hatinya tidak rela saat mengucapkan kalimat terakhirnya.

__ADS_1


Siapa orang - orang terdekat yang ada di sekitarku? Siapa? Aku tidak tahu siapa orang - orang terdekat yang berada di sekitarku.


Batin Edward yang mengalami amnesia.


"Apakah kamu tahu siapa dirimu? Tahu siapa keluargamu. Kalau iya gerakan jari telunjuk tangan kanannya kamu. Kalau nggak, gerakan jari telunjuk tangan kirimu."


Tak lama kemudian Edward menggerakkan jari telunjuk tangan kirinya. Shafira tertegun dengan respon Edward. Shafira berdiri dari sofa. Dia berjalan pelan ke tempat catatan riwayat pasien. Mengambil catatan riwayat pasien, lalu membukanya. Mengambil pulpen yang berada di saku jasnya. Menuliskan keterangan bahwa si pasien tidak mengingat dirinya sendiri dan keluarganya. Menulis juga tentang pasien mampu merespon ucapan dan menggerakkan jari telunjuk tangan kanan dan kirinya.


"Sepertinya dia mengalami amnesia."


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih sudah membaca novelku yang ke empat 😊😊😊🥰🥰🥰.


Semoga para readers suka membaca novelku. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam novel ini karena novel ini masih jauh dari kata sempurna 😊😊😊.


Di like ya 🥰🥰


Di komen ya 🥰🥰

__ADS_1


Di vote ya 🥰🥰


__ADS_2