Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Masa Iddah


__ADS_3

"Aaakkkhhh ...."


"Aaakkkhhh ...."


Erangan mendesah dengan sensual dari bibir Agni dan Hardi secara bersamaan telah menandakan pencapaian yang sangat nikmat dengan sesuatu yang hangat mengalir di sana. Tubuh Hardi yang kekar menindihi tubuh idealnya Agni dengan menggunakan kedua tangannya yang menekuk sebagai penyanggah. Helaan nafas mereka terengah - engah saling bersahutan. Hardi mencium keningnya Bia.


"Terima kasih atas malam yang menggairahkan ini," bisik Hardi.


"Hhmm," ucap Agni yang merasakan pegal - pegal di sekujur tubuhnya.


"Maafkan aku jika tadi aku berbuat kasar," ucap Hardi lembut sambil menelisik kedua bola mata milik Bia yang berwarna hitam legam.


"Iya."


"Apakah kamu baik - baik aja?"


"Aku hanya lelah aja Mas."


"Sebaiknya sekarang kamu tidur," ucap Hardi lembut.


Tak lama kemudian Hardi melepaskan penyatuan mereka. Beringsut ke tepian tempat tidur. Mengambil selimut yang teronggok tak berdaya di atas lantai. Menyelimuti tubuh Agni yang telanjang bulat. Beranjak berdiri dari ranjang. Berjalan santai ke kamar mandi tanpa mengenakan sehelai benang apa pun. Melewati pintu kamar mandi yang terbuka. Masuk ke dalam kamar mandi tanpa menutup pintu.


Agni memejamkan kedua matanya sambil mendengar suara kucuran air yang keluar dari kran. Dia merasa sangat lelah setelah melakukan hubungan intim dengan Hardi sebanyak lima ronde. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya tiba-tiba menginginkan hal itu tanpa adanya tali pernikahan. Walaupun kedua matanya terpejam, Agni sedang berfikir tentang kenapa hubungan intim itu terjadi begitu saja.


Kringgg ... kringgg ... kringgg ...


Bunyi dering dari smartphone milik Hardi. Sontak Agni membuka kelopak kedua matanya. Agni menduduki tubuhnya, lalu meraih smartphone itu. Melihat tulisan Mbah di layar smartphone itu. Menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo, assalamu'alaikum Mbah," sapa Agni sopan.


"Wa'alaikumussalam, Hardi lagi sama kamu ya?"


"Iya Mbah."


"Sekarang dia lagi ngapain?"


"Lagi mandi Mbah."


"Mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamarmu?"


"Iya Mbah," jawab Agni polos.


"Kalian habis ngapain?"


"Ehm ...."


"Mbah mau ngomong sam Hardi," ucap Barata serius.

__ADS_1


"Baik Mbah."


Sedetik kemudian Agni beranjak berdiri sambil menjauhkan benda persegi panjang itu dari telinga kirinya. Mengambil selimut, lalu melilitkan selimut ke seluruh tubuhnya. Melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Berjalan masuk ke dalam kamar mandi melewati pintu yang sudah terbuka. Berjalan menghampiri Hardi yang sedang berendam air sabun di dalam bath tub. Memberikan smartphone itu ke pemiliknya. Hardi menerima smartphone itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo Mbah, ada apa?" ucap Hardi ketika Agni membalikkan badannya, lalu melangkahkan kakinya ke pintu kamar mandi.


"Apa yang kalian lakukan semalam?!" ucap Barata marah.


"Mohon maaf Mbah, kami kebablasan melakukan hubungan intim. Aku akan menikahi Agni secepatnya, paling lama bulan depan," ucap Hardi serius ketika Agni berjalan melewati pintu kamar mandi


"Jangan seenak jidat gitu! Agni belum boleh menikah lagi! Dia masih di Masa Iddah! Mbah kan pernah ngomong sama kamu, kalau mau menikahi Agni secepatnya di bulan November dan kamu kan sudah tahu, Mbah akan mempersiapkan pernikahan kalian pada bulan November di Inggris jika kalian sudah sepakat ingin menikah. Kamu pasti yang memaksa Agni untuk berhubungan intim?!"


"Nggak Mbah, semua mengalir begitu saja. Kita melakukan itu sama-sama mau, tidak ada pemaksaan."


"Kamu itu bikin malu Mbah aja! Udah dulu, Mbah ada urusan bisnis lagi, assalamu'alaikum."


Tiba-tiba sambungan telepon itu terputus. Hardi menaruh smartphone miliknya di pinggiran bathtub. Memejamkan kedua matanya lagi sambil mendongakkan kepalanya. Dirinya sangat senang karena akhirnya dia bisa menikmati tubuhnya Agni dan dia sangat yakin sebentar lagi dia akan menjadi seorang miliarder di Indonesia. Senyum bahagia terukir di wajahnya sambil membayangkan semua keinginannya yang akan tercapai.


Walaupun tidak jadi menikah bulan depan, seenggaknya Agni tidak bisa lepas dariku karena aku telah menanam benihku di rahimnya berkali-kali. Dan akhirnya aku bisa menjadi seorang miliarder.


Batin Hardi senang.


Kringgg ... kringgg ... kringgg ...


Bunyi dering dari smartphone miliknya. Hardi membuka kedua matanya. Menoleh ke smartphone miliknya, lalu meraih benda pipih itu. Senyumnya memudar ketika melihat nama Richard tertera di layar smartphonenya. Menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya.


"Gimana?" Berhasil kan?"


"Sangat berhasil Bro, ternyata dia bisa ngimbangin permainan gw, gw puas banget."


"Kalian habis berapa ronde?"


"Lima ronde, setiap ronde sampai satu setengah jam, istirahatnya cuma tiga jam."


"Widihhh pakem banget dach tuch."


"Thanks ya atas ide elu, ide elu bagus banget."


"Terus elu kapan nikah sama Agni?"


"Masih sesuai dengan rencana Mbah gw, kami belum bisa menikah sebelum di bulan November karena Agni masih menjalani Masa Iddah."


"Ooo gitu ya, gw kira kalian akan menikah Minggu depan. Yah percuma dong ide gw yang kemarin."


"Nggak percuma kok, dengan ide elu itu, Agni tidak bisa lepas dari gw karena gw semprot dia berkali-kali sehingga dia bisa hamil anak gw dan akhirnya kami menikah di bulan November."


"Oh ya by the way, semalam gw lihat Valerie bermesraan dengan seorang bule. Elu sudah putus sama dia kan?"

__ADS_1


"Iya," ucap Hardi datar.


"Hahaha, pantesan elu ngebet banget nikah sama Agni karena lagi patah hati," ledek Richard.


"Sialan elu."


"Hahaha ada yang ngambek. Udah dulu ya Bro, gw mau lanjut kencan lagi."


"Kali ini elu mau kencan sama siapa?"


"Sama Valerie, hahaha," ledek Richard.


"Dasar tokai," ucap Hardi kesal.


Sedetik kemudian Hardi menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menaruh smartphone miliknya di tepian bathtub. Memejamkan kedua matanya lagi untuk membayangkan hal-hal yang indah. Pintu kebuka lagi, menampilkan sosok Agni yang tubuhnya hanya dibaluti dengan selimut. Agni melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Agni mengeraskan rahang mukanya karena sedang marah. Agni menghentikan langkahnya di samping kanannya Hardi.


"Mas!" pekik Agni sambil bertolak pinggang yang membuat Hardi membuka kedua matanya.


"Ada apa Sayang?" ucap Hardi lembut sambil menoleh ke Agni.


"Gara-gara kamu, besok aku dikirim ke Inggris, padahal besok aku ingin pergi jalan-jalan sama Jenny! Kamu harus cari cara untuk membatalkan kepergianku yang tidak sesuai dengan rencana," ucap Agni kesal.


"ET, tunggu dulu, semua itu terjadi karena kita sama-sama mau untuk melakukan itu. Bukan karena hanya aku aja yang mau. Aku nggak tahu cara untuk membatalkan perintah Mbah yang itu, nggak ada salahnya kamu mengikuti perintah Mbah yang itu. Kan nggak beda jauh dengan rencanamu, rencanamu awal bulan Agustus sedangkan besok akhir Juli."


"Aku belum siap untuk pergi jauh."


"Kenapa tadi kamu tidak menolaknya?"


"Ehmmm ...," ucap Agni yang tidak bisa menjawab pertanyaan dari Hardi sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa kamu belum siap untuk pergi jauh, apakah karena belum siap berada jauh dariku?"


"Bukan itu, tapi rencananya lusa aku akan pergi sama Jenny untuk mencari suamiku karena aku yakin dia masih hidup."


"Agni, suamimu itu sudah meninggal hampir dua bulan yang lalu, kamu harus mengikhlaskannya sayang. Tidak baik melawan takdir sayang."


"Huh ...," Agni menghela nafas panjang.


Dengan wajah yang kesal, Agni memutarkan tubuhnya. Tak sengaja Agni terpeleset hingga dia kecebur ke dalam bathtub dan menindihi tubuhnya Hardi. Sontak senjata pamungkasnya milik Hardi langsung menegang. Hardi menahan pergelangan tangan kanannya Agni ketika Agni hendak beranjak berdiri. Agni menoleh ke Hardi dengan tatapan mata yang kesal.


"Mau pergi ke mana?" ucap Hardi sensual sambil menahan gairah **** yang baru muncul akibat ditindihi oleh Agni.


"Lepaskan, aku mau ganti baju!" ucap Agni kesal sambil berusaha menepis pegangan tangan Hardi di pergelangan tangan kanannya.


"Jangan pergi dulu, kita bisa bercumbu lagi di sini sebelum kamu pergi ke Inggris," ucap Hardi dengan tatapan mata yang pengen melahap tubuhnya Agni.


"Aku nggak mau lagi, lagipula aku masih berada di masa iddah."

__ADS_1


__ADS_2