
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
Happy reading π€
πΊππΉπΊππΉπΊππΉπΊππΉπΊππΉπΊ
"Kalian tunggu di sini dulu," ucap Edward setelah meletakkan Agni di sofa panjang.
"Kamu mau ke mana?" tanya Agni sambil menatap Edward.
"Ciye, yang nggak mau ditinggal sebentar," ledek Jennifer yang membuat Agni malu sendiri.
"Aku mau ke dapur, mau ngambil kotak P3K," ucap Edward teduh.
Tak lama kemudian Edward membalikkan badannya. Berjalan menuju dapur. Jennifer beranjak berdiri, lalu duduk di samping kirinya Agni. Agni menoleh ke Jennifer yang sedang menatap dirinya dengan intens. Agni mengerutkan keningnya karena dua bingung dengan ekspresi wajahnya Jennifer.
"Kenapa Jenny?"
"Kalian janjian ketemuan di kampus?"
"Nggak, kebetulan kami ketemuan di sana."
"Ngapain dia ke sana?"
"Mau daftar kuliah magister."
"Wah bisa adu jontos nich kalau Hardi dan Edward tak sengaja bertemu," ledek Jennifer.
"Kamu bisa aja, mana mungkin mereka ketemu wong Mas Edward mulai kuliahnya bulan September tahun depan."
"Maaf, kalian aku tinggal dulu ya, aku mau beli obat ," ucap Edward sambil berjalan menghampiri Agni dan Jennifer.
"Aku aja yang beli obat sekalian aku beli alat kontrasepsi," ucap Jennifer sambil beranjak berdiri.
"Oh, thank you ya," ucap Edward senang. "Ini uang untuk beli obatnya," ucap Edward sambil memberikan beberapa lembar uang ke Jennifer.
"You're welcome," ucap Jennifer sambil mengambil beberapa lembar uang itu.
"Kata sandi kunci pintunya, Agni my love, tidak pakai spasi," ucap Edward yang membuat Jennifer dan Agni terkejut.
"Ce ilah, kayaknya soulmate banget," ledek Jennifer.
"Ya udah sana cepetan perginya, biar cepat pulangnya. Jangan lama - lama di sana," ucap Agni tegas.
"Baik Nyonya besar," ucap Jennifer dengan nada suara yang bercanda.
Sedetik kemudian Jennifer melangkahkan kakinya ke pintu utama apartemen Edward. Edward menurunkan tubuhnya sehingga berjongkok di hadapan Agni. Edward menarik kaki kanannya Agni, lalu dengan telaten membuka tali sepatu sportnya Agni.
"Kamu mau ngapain Mas?"
"Mau lihat cedera kakimu," ucap Edward sambil melepaskan sepatunya Agni.
"Nggak perlu Mas," protes Agni ketika Edward menaruh sepatunya Agni di atas lantai.
"Udah kamu tenang aja," ucap Edward teduh sambil melepaskan kaos kakinya Agni.
__ADS_1
Sedetik kemudian Edward melihat cedera kakinya Agni, lalu berucap, "Sedikit bengkak. Sebaiknya aku antar kamu ke rumah sakit," lanjut Edward sambil menaruh kaus kakinya Agni di atas lantai.
"Nggak perlu Mas, nanti juga sembuh setelah dikasih obat," ucap Agni ketika Edward beranjak berdiri.
"Baiklah kalau itu maumu," ucap Edward
sambil menduduki tubuhnya di samping kanannya Agni.
"Bagaimana kelanjutan kasus penculikan kita?" tanya Edward sambil menoleh ke Agni.
"Tante Marina dipenjara selama tiga puluh tahun, sedangkan Om Hendra dipenjara seumur hidup."
"Apakah mereka sudah terbukti menjadi tersangka di kasus kecelakaan pesawat jet pribadi keluargamu?"
"Sampai saat ini belum terbukti. Untuk kasus itu, mereka bermain halus Mas."
"Maafkan aku ya, yang nggak bisa menjaga kamu dari para penjahat itu," ucap Edward lembut.
"Kami tak perlu minta maaf Mas."
Edward merapihkan beberapa anak rambut Agni, lalu menyelipkan beberapa anak rambut itu di belakang telinga kirinya Agni. Tatapan mata mereka yang intens saling memaku sehingga Edward mendekatkan wajahnya ke wajahnya Agni sambil memejamkan kedua matanya. Karena terhipnotis oleh rasa cinta yang salah, Agni memejamkan kedua matanya.
Edward ******* bibirnya Agni dengan penuh kelembutan. Desiran lembut menyelimuti rongga hati mereka. Agni membalas ciuman Edward sehingga ciuman mereka memanas. Tangan kirinya Edward menjelajah area pegunungan yang selama ini dia rindukan. Menaiki area pegunungan itu dengan lembut.
Hei Agni! Ini tidak benar walaupun kamu mencintainya! Ini perbuatan dosa, hentikan!
Batin Agni.
Agni tersentak dari apa yang dia perbuat. Dia membuka kedua matanya. Dia menghentikan perbuatannya sehingga membuat Edward tersadar. Agni mendorong tangan kirinya Edward yang berhenti menjelajah di area pegunungan. Edward menjauhkan wajahnya dari wajahnya Agni. Sedetik kemudian mengalihkan pandangannya ke lantai.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk melecehkan kamu," ucap Edward sedih sambil menundukkan kepalanya karena malu.
Kau selalu ada
Kau selalu ada
Tanpa dirimu aku merasa hilang dan sepi, sepi
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Tiba - tiba terdengar bunyi dering dari smartphone milik Agni. Agni membuka resleting tas selempangnya. Mengambil smartphone miliknya. Detak jantungnya bertambah cepat ketika melihat tulisan my husband di layar smartphone miliknya. Dengan ketakutan, Agni mengangkat panggilan telepon itu. Lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Assalamu'alaikum, hallo Mas ada apa ya?" ucap Agni grogi.
"Gimana kuliah kamu hari ini?" tanya Hardi sambil menahan rasa marahnya.
"Alhamdulillah lancar Mas, bagaimana kabar Mas?"
"Alhamdulillah sehat dan lancar. Kamu lagi di mana?"
__ADS_1
"Lagi di apartemen teman Mas?"
"Apartemennya siapa?"
"Eddy Mas. Bagaimana kabarnya Mbah Mas?"
"Sudah lebih baik dari kemarin. Udah dulu, aku mau ketemu klien," ucap Hardi sambil menahan rasa marahnya.
Hardi menjauhkan benda pipih miliknya dari telinga kirinya. Menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menaruh smartphone miliknya di atas meja kerja. Dia menoleh ke Joseph yang sedang menutup dokumen perjanjian.
"Saya sangat setuju dengan konsep iklan ini," ucap Joseph sambil menaruh dokumen itu di atas meja kerjanya Hardi.
"Saya yakin dengan konsep iklan itu, produk anda pasti laris terjual, apalagi iklan itu diperankan oleh seorang model yang sangat cantik seperti Valerie," ucap Hardi menyakinkan.
Joseph menoleh ke Valerie yang sedang tersipu malu, lalu berucap, "Yup, betul sekali ucapan anda Pak Hardi.
"Pilihan saya tak pernah salah Pak."
"By the way, bagaimana kabarnya Pak Batara?" lanjut Joseph sambil menoleh ke Hardi.
"Sudah lebih baik dari kemarin."
"Bagaimana kabarnya istri anda Pak?" ucap Joseph.
"Istri saya sehat."
"Kapan dia lulus dari Oxford?"
"Tahun depan."
"Wow cepat sekali lulusannya, hanya menempuh tiga tahun untuk memperoleh titel sarjana. Dia bisa jadi Suma Cum Laude. Istri anda pintar juga."
"Dia memang pintar, bahkan sangat pintar," puji Hardi yang membuat Valerie kesal.
"Lusa mulai syuting iklan itu," ucap Joseph tegas.
"Baik Pak Joseph."
Joseph beranjak berdiri, lalu menjulurkan tangan kanannya sambil berucap, "Senang bekerja sama dengan anda Pak Hardi."
Hardi beranjak berdiri, lalu membalas uluran tangan itu sambil berucap, "Saya sangat senang bekerja sama dengan anda Pak Joseph."
Sedetik kemudian mereka berjabat tangan. Valerie beranjak berdiri ketika mereka selesai berjabat tangan. Valerie menjulurkan tangan kanannya ke Hardi, tapi tidak digubris sama Hardi. Joseph mengerutkan keningnya melihat reaksi Hardi yang cuek dengan uluran tangan kanannya Valerie.
"Valerie, aku belum selesai bicara sama kamu, jadi kamu belum boleh pulang," ucap Hardi tegas yang membuat Valerie senang
"Nona Valerie, saya pulang, senang bertemu dengan anda Nona Valerie," ucap Joseph sambil mengulurkan tangan kanannya ke Valerie.
"Valerie membalas uluran tangan kanannya Joseph, lalu berucap, "Sama - sama Pak Joseph."
"Saya pamit pulang, permisi," ucap Joseph sopan setelah mereka selesai berjabat tangan.
"Iya Pak Joseph, see you tomorrow," ucap Hardi ramah.
Tak lama kemudian Joseph membalikkan badannya. Berjalan menuju pintu ruang kerjanya Hardi. Hardi mengikuti langkah kakinya Joseph. Hardi menyentuh beberapa ikon di layar pemindai di samping pintu sehingga pintu ruang kerjanya terbuka. Joseph menoleh ke Hardi, lalu tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya ke Hardi. Hardi membalas sikap sopannya Joseph. Joseph keluar dari ruang kerjanya Hardi.
"Panji, tolong kamu antarkan Pak Joseph, dan kamu pulang aja, nggak usah menunggu saya pulang karena waktu kerja kamu sudah selesai dari sejam yang lalu. Saya nginap di sini," ucap Hardi sopan ke asistennya.
"Baik Pak Hardi."
__ADS_1
Tak lama kemudian Hardi menyentuh beberapa ikon untuk menutup dan mengunci pintu ruang kerjanya. Setelah pintu ruang kerjanya terkunci. Hardi membalikkan badannya. Berjalan menuju ke Valerie yang sedang duduk manis di sofa panjang. Menduduki tubuhnya di samping kirinya Valerie. Menarik tengkuk leher jenjangnya Valerie.
"Kita lanjuti yang tadi di sini," bisik Hardi sensual.