Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Masa Depan Kalian


__ADS_3

Hallo reader yang cantik ataupun tampan 😊,


Terima kasih banyak telah memilih novel yang berjudul Kamu Adalah Jodohku untuk kamu baca. Semoga kamu menyukai novelku yang ini, yang tentu saja masih belum sempurna. Mohon maaf bila ada kesalahan ketik, typo, EYD, dan lain - lain.


Tidak boleh lupa vote dan sarannya ya 🙂.


Silahkan tinggalkan jejak dengan mengklik like di bawah cerita setiap babnya 😊.


Kasih bintang lima ya 😊.


Kasih hadiah ya 😁.


Happy reading 🤗.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Derap langkah Agni yang sedang berjalan santai menyusuri koridor dalam terminal kedatangan bandara menuju pintu keluar sambil mendorong trolley. Saat ini Agni sedang berada di bandara kota Oxford yang bernama Kidlington. Inilah salah satu impian dia yang ingin menjadi salah satu mahasiswa yang telah mendapatkan beasiswa dari University Of Oxford. Sebuah universitas yang sangat terkenal di dunia.


Tak sengaja Agni melihat seorang pria paruh baya yang didampingi oleh satu orang bodyguard yang sedang menunggu kedatangannya dibalik pagar pembatas. Pria itu adalah sepupunya Cipto yang bernama Bernard Rahadi Collins atau sering dipanggil dengan sebutan Nard. Dulu waktu jaman anak-anak sampai sekolah menengah atas, Nard merupakan sahabatnya almarhum Raden Ayu Maharani Candrawati Gandes Rusady, ibunya Agni.


Dulu waktu masih tinggal di Indonesia, rumahnya Nard di sebelah kiri rumahnya Maharani. Ibunya Nard adalah adik kandungnya Brijaya yang bernama Raden Ayu Kirana Jagadita Haritala Soerjosoemarno. Agni berjalan cepat menuju pria itu menelusuri terminal kedatangan. Melewati pintu keluar di terminal kedatangan bandara di kota Oxford yang bernama Kidlington.


"Agni!" teriak pria paruh baya itu sambil melihat Agni yang sedang berjalan menuju dirinya.


Agni menghentikan langkahnya di depan Bernard, lalu menyalimnya dan berujar, "Assalamu'alaikum Om Bernard."


"Wa'alaikumussalam," ucap Bernard setelah Agni menyalimnya. "Ayo kita pergi dari sini!" lanjut Bernard.


Tak lama kemudian mereka melangkahkan kakinya, lalu Agni berucap, "Om, parkir mobilnya di mana?"


"Di VVIP, dikit lagi juga sampai," ucap Bernard sambil berjalan menuju ke tempat parkiran VVIP.


"Kalau tahu begitu, tadi aku nggak usah bawa trolley," ucap Agni sambil mengikuti langkah kakinya Bernard.


"Bagaimana hasil keputusan hakim mengenai kasus pembunuhan berencana keluargamu?" ucap Bernard serius.


"Belum tahu Om, sidang terakhirnya akhir bulan Agustus."


"Om sangat berharap mereka mendapatkan hukuman mati."


"Aku juga berharap seperti itu Om."

__ADS_1


"Dari dulu Om tidak menyukai Hendra karena sikap dan sifatnya."


"Memangnya Om kenal dekat sama Om Hendra?"


"Nggak," ucap Bernard berbohong.


Padahal Bernard sangat mengenal Hendra. Yang Bernard tahu bahwa Hendra adalah kekasihnya Maharani yang posesif dan Hendra terlalu obsesi dengan Maharani. Bahkan Bernard pernah berkelahi dengan Hendra karena Hendra cemburu dengan kedekatan antara Bernard dan Maharani. Bernard juga mengetahui bahwa Hendra sangat mencintai Maharani sehingga membuat Hendra suka berbuat sesuatu diluar logika.


Sebenarnya Bernard juga dulu mencintai Maharani. Tapi Maharani tidak mencintai dirinya dan memilih memiliki hubungan asmara dengan Hendra. Karena itu, setelah lulus sekolah menengah atas, Bernard kembali ke negeri asalnya. Setelah kepergiannya ke negara asalnya, Bernard tidak mengetahui lagi hubungan asmara antara Maharani dan Hendra.


Setelah beberapa tahun kemudian, Bernard terkejut mendengar berita bahwa Cipto menikah dengan Maharani. Sedangkan Hendra menikah dengan Sri. Sejak mengetahui itu, Bernard sempat curiga dengan Hendra yang menikahi Sri. Bernard beranggapan bahwa Hendra mempunyai niat jahat terhadap keluarga pamannya ataupun terhadap keluarganya Cipto. Akhirnya kecurigaan Bernard terbukti.


Mereka menghentikan langkah kaki mereka di samping kiri sebuah mobil BMW warna hitam. Agni melepaskan genggaman kedua tangannya di pegangan trolley. Sontak supir pribadi Bernard mengambil satu buah koper kecil dan satu buah koper besar milik Agni dari trolley. Sedangkan bodyguard Bernard membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Bernard dan Agni. Agni dan Bernard masuk ke dalam mobil ketika supir itu menaruh dua buah koper milik Agni ke dalam bagasi mobil. Menutup pintu bagasi mobil itu ketika bodyguard Bernard menutup pintu mobil.


Supir pribadi Bernard berlari kecil menuju bagian pengemudi ketika bodyguard Bernard membuka pintu mobil bagian depan, lalu masuk ke dalam mobil. Supir itu membuka pintu mobil, lalu masuk ke dalam mobil. Supir mobil itu mengunci pintu mobil, lalu memakai sabuk pengaman. Setelah semua orang yang ada di dalam mobil memakai seat belt, supir itu menghidupkan mesin mobil. Sedetik kemudian menurunkan rem tangan dan memasang gigi. Melajukan mobil itu dengan perlahan menuju pintu keluar bandara.


"Om dengar almarhum suami kamu blasteran ya?" tanya Bernard sambil menoleh ke Agni


"Iya Om," ucap Agni sambil menoleh ke Bernard.


"Namanya siapa?" tanya Bernard.


"Edward Ganendra Middleton," jawab Agni.


"Iya Om. Ibunya Mas Edward bernama Raden Ayu Endang Wardani Kumala Sari Wirahaditenaya, sedangkan ayahnya Mas Edward bernama Edgar Davidson Middleton. Dia lahir di London, lalu pindah ke Indonesia sama ibunya," ucap Agni semangat menceritakan tentang Edward sambil menoleh ke Bernard ketika mobil sedang melaju dengan kecepatan sedang melewati pintu keluar bandara Kidlington.


"Ooo, ternyata kamu mantunya Tuan Edgar," ujar Bernard yang tidak menyangka bahwa Agni adalah mantu dari salah satu investornya.


"Om kenal sama ayahnya Mas Edward?"


"Kenal banget. Dia itu salah satu investor perusahaan Om. Tapi bukannya dia punya istri orang sini?"


"Iya, orang tuanya Edward sudah lama bercerai Om. Setelah bercerai, ibunya pindah ke Indonesia bawa Mas Edward yang masih berusia dua tahun. Beberapa tahun kemudian, ayahnya Mas Edward menikah lagi, sedangkan ibunya Mas Edward masih tetap single parents sampai sekarang."


"Tuan Edgar sudah tahu bahwa almarhum Edward sudah menikah denganmu?"


"Sudah Om."


"Dia sudah tahu bahwa almarhum Edward sudah meninggal?"


"Sudah Om."

__ADS_1


"Kapan kamu mulai les perdalam bahasa Inggris British?"


"Seminggu lagi Om."


"Walah, Om kira kamu mulai lesnya besok atau lusa, kenapa datang ke sini lebih cepat dari rencanamu?"


"Karena ada sebuah tragedi."


"Tragedi apa lagi?" tanya Bernard panik.


"Beberapa hari yang lalu aku telah melakukan hubungan intim dengan Mas Hardi sehingga Mbah Batara meminta Tante Sri untuk mengirimku ke sini hari ini."


"Kamu masih berhubungan dengan Hardi?"


"Iya Om. Sejak Mas Edward menghilang, dia selalu ngedeketin aku Om."


"Pantesan bulan November kalian akan dinikahkan di sini. Maka itu, Om diminta tolong oleh Tante Sri untuk menyiapkan sebuah rumah yang kecil tapi nyaman untuk kalian tinggal. Semoga masa depan kalian selalu cerah."


"Ternyata mereka telah menyiapkan semuanya, padahal Mas Edward belum meninggal, dia hanya menghilang untuk sementara."


"Bukannya Edward sudah meninggal? Kok tadi kamu bilang Edward belum meninggal?" ucap Bernard untuk menyakinkan dirinya.


"Semua orang bilang Mas Edward meninggal, tapi aku yakin bahwa Mas Edward belum meninggal."


Benar apa yang telah diucapkan oleh Sri bahwa Agni belum ikhlas menerima kenyataan atas meninggalnya Edward. Sebaiknya membicarakan tentang Edward nanti aja, nunggu suasana dia tenang dulu.


Batin Bernard.


"Oh ya, besok Om ke London, kamu mau ikut nggak?"


"Mau dong Om, nanti kita nginap atau pulang pergi Om?"


"Menginaplah. Nanti kita menginap di apartemen Om yang ada di London."


"Kita pergi sama Tante Selena?"


"Nggak, Tante Selena ada urusan di sini."


Agni hanya tersenyum sopan menanggapi ucapan Bernard. Bernard membalas senyuman Agni. Agni mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Memandang kota yang sempat menjadi ibu kota Inggris pada tahun 1642 sampai 1646. Roda mobil yang ditumpangi oleh Agni dan Bernard berputar mengiringi perjalanan mereka ke sebuah rumah flat milik Bernard yang jaraknya berdekatan dengan perguruan tinggi tertua berbahasa Inggris.


Menyusuri jalanan kota yang memiliki luas 45,59 kilometer persegi. Menelusuri kota yang terletak sekitar 90 kilometer dari London dan dialiri Sungai Thames. Dari dulu Agni sangat menginginkan tinggal di kota yang merupakan rumah dari Alice Liddell yang menginspirasi tokoh utama di buku Alice in Wonderland. Ayah Alice merupakan dekan Christ Church College, salah satu kampus di Oxford. Sedangkan pengarang Alice in Wonderland sendiri, Lewis Carroll, merupakan dosen Matematika dari universitas tersebut.

__ADS_1


Menghabiskan waktu tiga puluh menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah kecil bergaya romawi kuno. Sangat indah untuk dipandang. Mobil berhenti tepat di depan tangga depan rumah. Supir mobil itu membuka kunci pintu mobil ketika Agni, Bernard dan seorang bodyguard membuka seat belt. Mereka membuka pintu mobil, lalu keluar dari dalam mobil. Agni terpana melihat desain eksterior rumah itu sambil berdiri di belakang pintu.


"Itu adalah rumah masa depan kalian," ucap Bernard dengan volume suara yang cukup kencang.


__ADS_2