
Sang fajar terbit memancarkan sinarnya yang menghangatkan bumi dan seisinya. Cahayanya menelusup lembut ventilasi udara dan celah - celah gorden ke dalam kamar hotel sehingga pencahayaan di kamar itu tampak temaram. Silaunya sinar mentari tak mampu mengusik tidur lelapnya Agni yang masih betah berada di alam mimpinya. Tubuhnya Agni dengan posisi terlentang berada di bawah selimut tebal.
Janganlah kau tinggalkan diri ku
Tak 'kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Terdengar bunyi berisik yang memekakkan gendang telinga dari smartphone milik Agni yang berada di atas nakas samping kanan tempat tidur sehingga mengusik tidurnya Agni. Kedua kelopak matanya mulai bergerak pelan - pelan, kemudian mengerjap dengan perlahan untuk menyesuaikan cahaya temaram yang masuk ke kornea mata indahnya. Agni menguletkan tubuhnya dengan mata yang masih belum terbuka sempurna.
Tangan kanannya meraba - raba untuk menggapai smartphone miliknya yang sudah berdering sejak tadi hingga hampir terjatuh dari atas nakas. Agni berhasil mendapatkan smartphonenya. Menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan itu tanpa melihat nama penelponnya di layar smartphonenya. Bia mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo Agni."
"Whoammm," Bia menguap.
"Ni, buka pintunya!" ucap Jennifer.
"Iya," ucap Agni, lalu dia menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya.
Tak lama kemudian, Bia memutuskan panggilan telepon itu dengan menggeser ikon merah di layar smartphonenya, lalu menaruh benda pipih itu ke tempat semula. Agni merubah posisinya dari posisi terlentang ke posisi duduk sambil menyandarkan punggungnya di headboard. Mengucek kedua matanya yang masih sayu karena masih mengantuk, lalu kedua tangannya mengusap - usap daun telinganya yang terasa berdenging karena bisingnya bunyi telepon tadi.
Tok... tok... tok...
"Agni! Tolong bukakan pintunya, ini aku, Jenny, Agni!" teriak Jennifer yang berada di depan pintu kamar hotel.
"Iya, tunggu sebentar!" teriak Agni sambil beranjak berdiri dari tempat tidur tanpa mengenakan sehelai benang pun.
Kemudian Agni berjalan lemas dan tertatih - tatih ke pintu kamar hotel. Membuka kunci pintunya dan menekan ke bawah handle pintunya. Pintu terbuka secara perlahan. Agni langsung masuk nyelonong ke dalam kamar mandi hotel setelah pintu kamar terbuka lebar. Kemudian, Jennifer menutup dan mengunci lagi pintu kamar hotel. Lalu Jennifer membalikkan badannya. Sedangkan Agni keluar dari kamar mandi dengan langkah kaki yang pelan dan tertatih - tatih.
"Astaga naga! Ini kamar atau kapal pecah!? Apa yang kalian lakukan di dalam kamar hotel semalam?" ucap Jennifer dengan nada yang meledek.
__ADS_1
"Di dalam kamar hotel, kami melakukan hubungan suami istri di atas ranjang," ucap Agni sambil berjalan ke tempat tidur.
"Haish! Wanita cantik jalannya pincang. Kalian habis berapa ronde?" ucap Jennifer sambil berjalan menghampiri Agni
"Tiga atau empat, gitu dech, aku lupa," ucap Agni sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Kamu kewalahan bercinta sama dia?" ucap Adel sambil menduduki tubuhnya di pinggir kanan tempat tidur.
"Nggak, aku mampu mengimbanginya."
"Haisss, sekarang kamu berubah jadi manusia si belang," ledek Jennifer ketika melihat tubuhnya Bia yang dipenuhi oleh kissmark.
"Hahaha, bisa aja kamu Jenny," ucap Agni sambil memejamkan kedua matanya.
"Terus ada iler yang sudah kering di bawah bibir kamu. Sungguh memalukan bagi seorang wanita siluman belang," ujar Jennifer dengan nada suara yang meledek.
"Kamu ke sini hanya untuk meledek aku?" tanya Agni.
"Kamu pasti lupa. Sekarang kan jadwalnya kita pergi ke Lumley Castle," jawab Jennifer.
"Nanti aja perginya. Aku masih capek banget," ucap Agni sambil memiringkan badannya.
"Hello! Sekarang sudah jam sembilan, kita membutuhkan sembilan sampai sepuluh jam perjalanan dari sini ke Lumley," ucap Jennifer yang membuat Agni membuka kedua matanya, lalu menduduki tubuhnya.
"Serius. Udah cepatan mandinya terus sarapan, Hardi dari sudah nungguin kamu di restoran."
"Dia sendirian di restoran?"
"Nggak, ada Albert yang sedang menemaninya."
"Kamu jadi ngajak Albert tidur bareng?" tanya Agni dengan ekspresi muka yang sedikit kaget.
"Nggaklah, aku ngajak sarapan bareng di restoran dan ngajak dia ke Lumley, temani aku di sana kalau kalian lagi berduaan."
"Nanti di Lumley kalian pisah kamar kan?"
"Iyalah. Udah sana cepat mandinya. Nanti kalau kelamaan di sini keburu malam sampai di sana. Lagi pula yang aku dengar, nanti kita melewati hutan Pinus yang lumayan angker. Aku jadi takut jika lewat hutan itu saat malam hari."
"Iblis di hutan itu kali yang takut sama kamu, kamu kan ratunya iblis, hahaha," ledek Agni sambil beranjak berdiri dari tempat tidur.
"Sia*lan kamu!" umpat Jennifer sambil menimpuk bantal kecil ke Agni dengan pelan.
__ADS_1
"By the way, sudah sejauh mana kalian pendekatannya?" ucap Agni sambil berjalan menuju ke kamar mandi.
"Baru sampai ke hal pribadi. Oh ya, dilihat dari tubuh kamu, sepertinya kalian telah melakukan salah satu hubungan interaksi yang intens sebagai suami istri."
"Bisa dibilang seperti itu," ucap Agni santai sambil masuk ke dalam kamar mandi melewati pintu kamar mandi yang sudah terbuka.
Tok ... tok ... tok ...
"Ni, ada yang datang tuch," ucap Jennifer dengan volume suara yang tinggi.
"Tolong bukain Jenny," ucap Agni sambil menutup pintu kamar mandi.
Tak lama kemudian Jennifer beranjak berdiri dari pinggiran tempat tidur. Berjalan pelan menuju pintu kamar hotel. Membuka kunci pintu kamar hotel itu. Menekan handle pintu ke bawah sehingga pintu kamar hotel itu terbuka. Jennifer memiringkan tubuhnya supaya Hardi bisa masuk ke dalam kamar. Tanpa basa-basi Hardi melengos masuk ke dalam kamar hotel sambil membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan minuman.
"Agni di mana?" ucap Hardi sambil berjalan menuju tempat tidur.
"Di kamar mandi. Aku pamit pergi. Pintu kamar ini tolong dikunci."
"Iya," ucap Hardi sambil menaruh nampan makanan dan minuman di atas meja.
Sedetik kemudian Jennifer melangkahkan kakinya keluar dari kamar hotel itu melewati pintu kamar yang masih terbuka ketika Hardi membalikkan badannya. Hardi berjalan pelan menuju pintu kamar hotel itu. Menghentikan langkahnya di depan pintu. Menutup pintu kamar hotel itu, lalu menguncinya. Membalikkan badannya setelah mengunci pintu kamar hotel itu. Melanjutkan langkahnya menuju ke pintu kamar mandi yang tertutup.
"Agni!" teriak Hardi setelah menghentikan langkah kakinya di depan pintu kamar mandi sambil menempelkan daun telinga kanannya di daun pintu kamar mandi itu.
"Iya Mas, ada apa?" ucap Agni dari dalam.
"Boleh aku masuk ke dalam?" ucap Hardi sambil mendengar suara air yang sedang mengalir dari shower.
"Boleh."
Dengan senang hati Hardi memutar ke kiri handle pintu kamar mandi itu, lalu mendorong pintu sehingga pintu itu terbuka. Dengan langkah yang cepat Hardi masuk ke dalam kamar mandi. Membuka kaos, celana pendek, lalu pakaian dalamnya. Memeluk pinggang Agni dari belakang. Sontak Agni terkejut.
"Mas, aku mau mandi dulu."
"Nanti aja mandinya, aku ingin kita bercinta dulu di sini," bisik Hardi sensual.
"Tapi kan satu jam lagi kita berangkat ke Lumley," protes Agni sambil merasakan remasan kedua tangannya Hardi di area pegunungan miliknya.
"Jadwal kita diubah sedikit sayang. Kita berangkat jam satu siang," bisik Hardi dengan suara yang serak sambil meraba area inti tubuhnya Agni.
"Aku lapar mau sarapan dulu," ucap Agni sambil menahan gairah nafsunya karena sentuhan jari-jari tangan kirinya Hardi yang sedang menjelajah area gua miliknya.
__ADS_1
"Aku sudah membawakan sarapan buat kamu, nanti kamu sarapan setelah kita bercinta di sini."