
Malam hari Agni dan Hardi pergi ke sebuah pesta pernikahan salah satu dokter yang bekerja di salah satu rumah sakit milik Batara Group. Nama dokter itu adalah Louis Wijaya. Dua mobil Jeep dan sebuah mobil Audi A8 L warna hitam berhenti di depan sebuah hall dua lantai yang berada di balai Sudirman terlihat lebih gemerlap dari biasanya. Agni, Hardi dan para bodyguard Agni menurunkan dua kaki jenjangnya dari mobil. Hardi mengulurkan tangan kirinya ke Agni supaya Agni menggandeng tangan kanannya. Agni menerima uluran tangan kirinya Hardi, lalu menggandengnya.
Mengayunkan kakinya memasuki bangunan mewah itu. Setiap tamu datang ke acara itu harus mengisi buku tamu dan mengakses kode undangan sebelum masuk ke dalam gedung karena penjagaan acaranya sangat ketat. Mereka masuk ke dalam gedung itu. Agni mengedarkan pandangannya. Melihat sekitar dua ribuan orang berkumpul di dalam hall megah itu dan tak ada seorang pun yang dia kenal, kecuali Hardi dan para bodyguardnya.
Hardi mengajaknya ke pelaminan pengantin. Menerobos kerumunan orang, lalu menyusuri red karpet yang ditaburi kelopak bunga mawar putih. Semua laki-laki di acara itu yang melihat Agni tercengang karena saat ini dia kelihatan lebih cantik dari sebelumnya. Dia mengenakan baju dress ketat blink-blink dengan sarung tangan hitam sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya Agni. Baju dress ketat yang glamor dengan potongan kemben sehingga memperlihatkan punggung mulusnya. Rambut hitam panjangnya dikepang dipadukan dengan riasan bold sehingga membuat wajahnya lebih dewasa yang elegan.
Salah satu pria yang berada di acara pesta pernikahan itu adalah Edward. Tapi saat ini Edward masih lupa ingatan. Edward menatap takjub ke sosoknya Agni. Dia tidak ikut ngobrol sama beberapa rekan kerja Shafira. Sedangkan Shafira masih asyik ngobrol dengan beberapa rekan kerjanya. Tanpa disadari Edward berjalan menghampiri Agni yang sedang melangkahkan kakinya menuju pelaminan bersama Hardi dan beberapa bodyguard. Edward menghentikan langkahnya ketika Agni, Hardi dan beberapa bodyguard Agni naik ke pelaminan untuk memberikan selamat ke pengantin.
"Kamu kenal mereka?" ucap Shafira pelan setelah membuntuti Edward.
"Sepertinya aku kenal dengan wanita yang pakai sarung tangan hitam itu, tapi nggak tahu di mana," ucap Edward bingung sambil melihat Agni, Hardi, pengantin dan orang tua pengantin sedang difoto.
"Ooo, itu Nona Agni, dia kekasihnya Pak Hardi. Dia sudah dua tahun lebih menjadi kekasihnya Tuan Hardi. Sebentar lagi mereka akan menikah."
"Agni?"
"Iya, namanya Agni."
"Aauuww!" Edward meringis kesakitan sambil memegang jidatnya.
Tak sengaja Agni melihat Edward yang sedang memegang jidatnya ketika lagi difoto, lalu berbisik ke Hardi, "Mas, aku lihat suamiku."
"Kamu salah lihat sayang, mana mungkin dia ada di sini. Dia kan sudah meninggal, sebaiknya kamu jangan berhalusinasi lagi Sayang," ucap Hardi lembut sambil menoleh ke Agni.
"Maaf Tuan dan Nyonya, tolong lihat ke kamera lagi ya," ucap salah satu photographer acara pesta pernikahan itu sehingga Agni dan Hardi mengikuti perintahnya.
Aku harus menemukan Mas Edward di acara pesta pernikahan ini tanpa harus merepotkan orang lain lagi karena aku yakin orang itu adalah Mas Edward.
Batin Agni.
Cekrek ... cekrek ... cekrek ...
"Good," ucap Photographer itu setelah berhasil beberapa kali membidik sambil mengacungkan ibu jari ke mereka.
__ADS_1
Hardi dan Agni, lalu Hardi berucap, "Kami permisi ya Dokter Louis."
"Terima kasih banyak ya Pak Hardi," ucap Louis sambil bersalaman dengan Hardi. "Semoga cepat menyusul ya Pak Hardi," lanjut Louis sambil melepaskan salamannya ketika Agni bersalaman dengan yang lain.
"Doain aja Dok," ucap Hardi, lalu menggandeng tangan kanannya Agni.
Tak lama kemudian Agni mengedarkan pandangannya mencari sosoknya Edward yang masih lupa ingatan sambil melangkahkan kakinya keluar dari pelaminan. Tapi dia tidak menemukan Edward ketika mereka berbaur dengan tamu undangan yang lain. Mereka menghentikan langkah kaki mereka di depan para teman sekolahnya Hardi.
"Selamat malam Tuan Hardi," sapa salah satu temannya Hardi sambil mengulurkan tangan kanannya ke Hardi.
"Selamat malam Richard," ucap Hardi sambil membalas uluran tangan kanannya Richard, lalu mereka berjabat tangan.
"Mas, aku makan dulu," ucap Agni sambil melepaskan gandengan tangannya setelah Hardi selesai berjabat tangan.
"Aku temani ya?" ucap Hardi sambil menoleh ke Agni
"Cie ... yang nggak mau jauh ama yayang," ledek Richard.
"Nggak perlu, Mas," ucap Agni pelan.
Tak lama kemudian Agni melangkahkan kakinya menuju meja bundar yang berisi aneka minuman sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari sosok Edward. Langkah kakinya Agni diikuti oleh para bodyguardnya. Namun hasilnya tetap nihil. Agni mengambil salah satu gelas air putih, lalu meminumnya sampai tandas. Menaruh gelas itu di meja bundar itu. Clingak-clinguk ke segala penjuru untuk mencari lagi sosok Edward.
Ke mana tuch orang?
Batin Agni.
Agni kelihatan gelisah, keringat bercucuran di keningnya. Agni mengambil gelas yang air putih lagi, lalu meminumnya sampai tandas. Dia menaruh gelas kosong itu di atas meja bundar. Tiba-tiba kepala Agni terasa sakit karena dia kesal tidak menemukan sosok Edward di acara pesta pernikahan itu. Agni memijat pelipisnya supaya bisa meringankan rasa sakit di kepalanya.
"Kamu pusing?" tanya Richard yang tiba-tiba berada di samping kirinya Agni.
"Iya."
"Ini ada minuman buatmu supaya tidak pusing lagi," ucap Richard sambil menyodorkan sebuah gelas minuman.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Agni sopan sambil menerima gelas itu.
Sedetik kemudian Agni meminum air yang berada di dalam gelas itu. Kemudian memberikan gelas itu ke Richard Richard menyeringai licik melihat gelas itu kosong sambil menerima gelas kosong itu. Hardi berjalan menghampiri Agni dan Richard. Menggandeng tangan kanannya Agni lagi. Seketika Agni merasakan hawa panas dari tubuhnya. Hardi tersenyum senang melihat Richard yang sedang tersenyum senang.
"Kita pulang ya," bisik Hardi lembut.
Agni menundukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Hardi. Hardi memberikan kode pulang ke para bodyguard Agni. Agni merasakan gairah nafsu bergejolak di tubuhnya sehingga dia sudah merasa tidak nyaman mengenakan pakaiannya. Agni mempererat genggaman tangannya supaya bisa menahan gairah nafsu yang hampir membuncah. Rona merah menyeruak di seluruh wajahnya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Hardi lembut sambil menoleh ke Agni.
"Aku kegerahan, Mas. Pengen cepat pulang, mau buka baju," ucap Agni dengan suara serak yang bergairah.
Bagus juga idenya Richard supaya Agni mau menikah denganku secepatnya.
Batin Hardi.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita sudah sampai di depan hall," ucap Hardi sambil mempercepat langkahnya.
Mereka menyusuri ruangan yang sudah penuh dengan tamu undangan. Hardi tersenyum sopan ketika jika ada orang yang tersenyum sopan ke mereka. Menyusuri ruangan yang didekorasi dengan mewah dan elegan. Berjalan melewati pintu utama hall. Ketiga mobil mereka sudah berada di depan teras ballroom prajurit. Agni dan Hardi berjalan cepat menuju mobil sedan hitam mereka. Sedangkan para bodyguard Agni berjalan menghampiri kedua mobil Jeep. Hardi dan Agni berhenti di depan pintu mobil sedan, lalu Hardi membuka pintu bagian penumpang belakang. Agni masuk ke dalam mobil itu, lalu disusul oleh Hardi.
"Pak tolong pasang pembatas ruangan, dan tolong jalannya pelan-pelan ya," ucap Hardi sambil menutup pintu mobil itu yang membuat Agni menoleh ke Hardi dengan tatapan mata yang meminta penjelasan dari Hardi. "Kamu kan kegerahan, buka aja bajumu Sayang," ucap Hardi pelan, lalu pembatas ruangan di dalam mobil terpasang.
"Tapi kan ada kamu, Mas," ucap Agni sambil merasakan mobil bergerak dengan pelan
"Nggak usah malu buka baju di depanku, kan kita mau menikah," ucap Hardi lembut.
"Nggak ah," ucap Agni datar.
"Ya udah terserah kamu aja," ucap Hardi, lalu dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Agni merasa gelisah tak karuan karena menahan rasa gairah nafsu yang melanda di dirinya sehingga dia meliuk-liukkan tubuhnya. Hardi menoleh ke Agni yang sudah mulai beraksi. Hardi tersenyum senang melihat Agni di dalam pengaruh obat perangsang. Spontan Agni mendesah ketika Hardi mencium pipi kirinya. Tak sengaja Agni menyentuh senjata pamungkasnya Hardi sehingga menimbulkan jiwa Casanova di dalam jiwa Hardi.
Mereka saling menatap, tatapan mata mereka saling memaku. Hardi mendekati wajahnya dengan wajah Agni. ******* bibir Agni dengan lembut. Agni membalasnya dengan rakus dan brutal. Hardi memeluk pinggang rampingnya Agni. Sedangkan Agni menarik tengkuk lehernya Hardi. Ciuman mereka memanas. Benda kenyal di wajah Hardi berpindah alih ke area leher jenjangnya Agni sambil membuka reselting dress yang dikenakan oleh Agni. Tak lama kemudian terjadilah pergulatan yang panas di dalam mobil itu.
__ADS_1
"Aaahhh, Mas Edward," ******* Agni yang membuat Hardi mempercepat tempo pergerakan pinggulnya dan berhubungan intim lagi dengan kasar.