
Gumpalan awan berbentuk tipis transparan dengan tampilan filamen seperti sutra membentang di langit biru. Lembutnya cahaya sang mentari pada sore hari di kota London. Sebuah kota yang merupakan wilayah metropolitan terbesar di Britania Raya dan berlokasi di sepanjang Sungai Thames. London telah menjadi permukiman utama selama dua milenium sejak didirikan oleh Romawi pada abad ke satu dengan nama Londinium. Angin berhembus cukup kencang menyelimuti setiap orang yang melakukan aktivitas.
Termasuk Agni, Bernard, satu orang bodyguard dan supir mobil itu yang sedang melakukan perjalanan dari kota Oxford. Waktu terus berputar mengiringi perjalanan mereka dengan menggunakan mobil BMW warna hitam legam. Setelah memakan waktu satu jam setengah jam di perjalanan, akhirnya mobil itu memasuki sebuah pekarangan rumah yang luas setelah melewati gerbang raksasa yang bisa terbuka dengan otomatis. Agni melihat pemandangan yang sangat memanjakan kedua matanya. Hamparan rumput yang bersih, beberapa tanaman hias yang sangat indah dan beberapa bunga menghiasi pekarangan rumah itu.
"Om, kita mau ke rumah siapa?"
"Ke rumah salah satu investor Om. Om diundang untuk minum teh sekalian Om mengantarkan salinan surat perjanjian."
Di negara Inggris memiliki sejarah tersendiri dalam hal meminum teh. Pada zaman dahulu, kebiasaan meminum teh di Inggris dipopulerkan oleh Raja Charles II dan istrinya Catherine. Pernikahannya dengan Catherine menjadi titik balik dalam sejarah teh di Inggris. Catherine adalah seorang putri Portugis yang juga sebagai pecandu teh. Kecintaannya itulah yang menjadikan teh sebagai minuman kelas atas istana.
Munculnya konsep meminum teh di sore hari muncul pada abad ke sembilan belas. Tradisi ini diperkenalkan oleh Anna Duchess pada tahun 1840. Sejarahnya, Anna akan merasa lapar sekitar pukul empat sore. Sedangkan makan malam di rumahnya disajikan pada jam delapan malam. Hal ini menyisakan jeda waktu yang lama antara makan siang dan makan malam. Lantas Anna Duchess berinisiatif meminta nampan berisi teh, roti, dan mentega untuk dibawakan ke kamarnya pada sore hari.
Pada akhirnya menjadi sebuah kebiasaan rutin dan ia mulai mengundang teman-temannya untuk bergabung. Pada era 1880-an, masyarakat wanita kelas atas mengganti pakaian mereka dengan gaun yang megar, lengkap dengan sarung tangan dan topi untuk menikmati teh di sore hari. Sampai sekarang sebagian besar masyarakat di Inggris melakukan tradisi minum teh bersama - sama.
Tak lama kemudian mobil itu berhenti di depan sebuah anak tangga rumah yang megah. Agni membuka sabuk pengaman. Membuka pintu mobil, lalu keluar dari dalam mobil. Menutup pintu mobil yang tadi dia buka. Agni takjub melihat sebuah rumah yang bergaya romawi kuno. Agni mengikuti langkah kakinya Bernard yang sedang berjalan menuju pintu masuk rumah itu sambil membawa tas kerja. Di belakang Agni ada seorang bodyguard yang disewa oleh Bernard.
Mereka menaiki beberapa anak tangga. Pintu utama rumah itu terbuka. Mereka disambut oleh seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian seragam seperti seragam ketua pelayan di istana. Pria paruh baya itu tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya ke mereka. Mereka membalas senyuman pria tua itu.
"Good afternoon sir and madam. Mister Edgar was waiting for Mister and Missus on the back porch of the house. Follow me please," ucap pria tua itu.
Ternyata ini adalah rumah mertuaku.
Batin Agni.
Sedetik kemudian pria baya itu memiringkan tubuhnya supaya mereka bisa melewati pintu utama rumah itu. Pintu utama rumah itu ditutup oleh ketua pelayan itu setelah mereka berjalan masuk ke dalam lobby rumah yang megah itu. Agni terperangah melihat dekorasi unik bergaya Victorian. Pria tua itu berjalan mendahului mereka, lalu membimbing langkah kaki mereka menuju ke teras belakang rumah. Menyusuri rumah dengan suasana Inggris pada zaman dulu.
Mereka menghentikan langkah kaki mereka di balkon bagian belakang rumah yang berhadapan dengan taman dan kolam renang. Di balkon itu ada sebuah meja bundar dan beberapa sofa yang biasanya digunakan untuk meminum teh sambil memandang keindahan taman dan kolam renang yang didesain ala klasik kuno, sangat serasi dengan desain mansion itu. Kedua matanya Agni berbinar melihat keindahan hamparan rumput hijau yang dipadukan dengan aneka tanaman hias dan kolam renang.
Agni mengalihkan pandangannya ke meja bundar. Di meja itu terdapat teko teh yang terbuat dari perak, cangkir plus tatakannya yang terbuat dari porselen, beberapa sendok kecil yang terbuat dari perak, smoked salmon sandwich, kue jahe, quiche, piring kecil yang terbuat dari porselen, tisu dan serbet warna merah maroon. Edgar berdiri ketika mereka sudah berada di balkon. Hatinya Agni sangat senang bisa merasakan afternoon tea di mansion milik mertua dan bisa ketemu langsung dengan mertuanya.
Bernard mengulurkan tangan kanannya ke Edgar sambil berucap, "Selamat sore Tuan Edgar."
"Selamat sore juga Tuan Bernard," ucap Edgar sambil membalas uluran tangan kanannya Bernard, lalu mereka berjabat tangan.
"Bagaimana kabar anda Tuan?" ucap Bernard sambil melepaskan genggaman tangan kanannya setelah berjabat tangan dengan Edgar.
"Baik, pasti wanita ini adalah menantuku," ucap Edgar ramah sambil menurunkan tangan kanannya.
"Iya Tuan."
__ADS_1
"Selamat sore Papa," ucap Agni sopan, lalu menyalim tangan kanannya Edgar.
"Selamat sore juga Nak," ucap Edgar hangat setelah Agni menyalim tangan kanannya Edgar. "Silakan duduk," ucap Edgar ramah sambil menduduki tubuhnya di sofa panjang.
"Bagaimana kabar Nyonya Elizabeth?" ucap Bernard ramah sambil menduduki tubuhnya di salah satu sofa single.
"Masih seperti yang kemarin, belum ada kemajuan yang signifikan," ucap Edgar. "Apa kabar Agni?" ucap Edgar ramah sambil menoleh ke Agni yang sedang duduk di seberangnya.
"Alhamdulillah baik Papa, Papa bagaimana kabarnya?" ucap Agni sopan.
"Baik. Silakan dinikmati teh dan kue - kuenya," ujar Edgar dengan ramah.
Kemudian mereka menegakkan badannya dan mereka membuka lipatan serbet dan menaruhnya di atas paha. Teh dituang oleh salah satu maid ke setiap cangkir. Edgar mengambil susu dan gula secukupnya. Edgar mengangkat cangkir, lalu menyesap teh dengan elegan. Menikmati rasa tehnya yang memiliki cita rasa serta aroma yang begitu kuat dengan warna coklat tua. Agni mengambil salah satu sandwich dan menaruhnya di piring kue, lalu memakannya. Bernard mengambil cangkir teh, lalu menyesap teh itu dengan sekali. Beberapa saat suasana hening, tidak ada obrolan.
"Kamu tahu ini jenis teh apa?" tanya Edgar sambil menaruh cangkir tehnya di atas meja setelah meminum tehnya.
"Russian caravan," jawab Bernard sambil menaruh cangkir teh di atas alasnya.
"Kamu masih suka melakukan tradisi minum teh sore hari?"
"Masih kalau tidak ada jadwal kerja."
"Kamu suka minum jenis teh apa?"
"Kenapa kamu menyukai jenis teh itu? Apa karena merupakan jenis teh yang paling populer dan sering disajikan dalam tradisi minum teh sore hari?"
"Tidak juga. Karena aku suka campuran rasa dari daun teh hitam dan minyak bergamot, dan memiliki rasa sepat dan asam yang begitu khas."
"Racikan rasa teh early grey yang diproduksi oleh perusahaan The Tea sangat enak dan pas dari pada yang lain."
"Iya benar. Yang aku dengar perusahaan itu mau dijual karena kolaps."
"Iya, karena itu aku ingin membeli perusahaan itu. Menurutmu bagaimana?"
"Menurutku beli aja Tuan, penjualan teh perusahaan itu berada di atas grafik penjualan teh dari perusahaan lain."
"Baiklah aku akan membelinya dalam waktu dekat ini."
"Lalu siapa yang akan membantu anda untuk mengurus perusahaan itu? Jangan sampai kolaps lagi karena salah memilih orang untuk mengurusnya Tuan. Soalnya yang aku dengar yang mengurus perusahaan itu adalah salah satu penerus almarhum Tuan Rudolf yang suka berjudi. Dia selalu kalah dalam berjudi sehingga hampir menjual aset harta warisannya."
__ADS_1
"Tadinya aku ingin meminta Edward yang mengurusnya, tapi sekarang itu tidak mungkin karena dia sudah meninggal. Mungkin aku akan meminta Agni untuk mengurus perusahaan itu jika sudah lulus kuliah."
Kenapa semua orang tidak percaya dengan feelingku. Aku yakin Mas Edward masih hidup.
Batin Agni.
"Bagaimana Agni, apakah kamu mau?" tanya Bernard sambil menoleh ke Agni.
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Kau genggam tangan ku, saat diri ku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata, dan hapus semua sesal ku
Bunyi dering dari smartphone milik Agni. Agni membuka reselting tas jinjingnya. Mengambil smartphone miliknya. Melihat tulisan My Aunt di layar smartphonenya. Agni tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya ke Edgar dan Bernard secara bergantian sebagai kode ingin menjauh sebentar dari mereka supaya bisa menjawab panggilan telepon itu. Edgar dan Bernard menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah. Sedetik kemudian Agni beranjak berdiri, lalu melangkahkan kakinya sedikit menjauh dari Edgar dan Bernard.
"Selamat sore Tante, ada apa ya?"
"Selamat sore Sayang. Kamu sudah sampai di London?"
"Sudah Tante.
"Sudah sampai di apartemen Om Bernard?"
"Belum Tante, sekarang kami sedang minum teh bersama di kediaman Papa Edgar."
"Kamu ketemuan sama mertua kamu?"
"Ternyata Papa Edgar adalah salah satu investor perusahaan Om Bernard, lalu Papa Edgar mengundang kami untuk minum teh bareng."
"Kamu senang bisa minum teh bareng sama mertua kamu?"
__ADS_1
"Aku senang Tante, lagipula ini pertama kalinya aku merasakan afternoon tea di London."