
"Lepaskan aku!"
Teriak Agni di sebuah rumah kosong. Tubuhnya Agni ditarik dengan paksa dan brutal oleh dua orang laki - laki berbadan kekar. Kedua kakinya terseok - terseok karena mengikuti langkah kakinya kedua orang pria itu. Dia sudah seperti seekor binatang yang tidak memiliki arti apa - apa sehingga tanpa belas kasih, dia terus diseret dengan kasar dan brutal. Air matanya Agni terus menderas. Meluncur dengan kencang sehingga meluncur ke pipi mulusnya.
"Aku bilang lepaskan! Aku tidak mau ikut dengan kalian!!" pekik Agni yang sedang diseret secara paksa sambil menangis dan meronta - ronta.
Agni terus berontak meminta untuk dilepaskan, bahkan dia terus mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan. Tapi itu semua percuma karena para pria itu tidak akan mau melepaskannya. Tubuhnya Agni dilempar ke sebuah ruangan kumuh dan temaram sehingga tubuh idealnya menabrak dinding ruangan itu.
Bug!
Agni merasakan sakit yang begitu luar biasa di sekujur tubuhnya. Semua tulang yang berada di dalam tubuhnya Agni seolah dipatahkan sehingga menyisakan rasa lelah. Tubuhnya Agni tersungkur di atas lantai bersamaan dengan air matanya yang berhamburan. Salah satu pria penjahat itu menutup pintu ruangan itu dengan kasar.
Brakkk
Sedetik kemudian mereka memutarkan badan mereka. Mereka berjalan ke ruangan yang lain. Derap langkah kaki mereka menyusuri lorong sebuah rumah kosong. Masuk ke dalam ruangan melewati pintu yang sudah terbuka. Menduduki tubuhnya di bangku panjang. Melihat teman - temannya yang sedang menunggu mereka dengan tampang yang serius.
"Bagaimana penangkapan si wanita dan si prianya? Berhasil?" ucap ketua geng mereka sambil menatap ke anak buahnya satu persatu.
"Penangkapan si wanita berhasil Bos, tangannya dia sudah diikat dan sudah dikurung di dalam gudang. Tapi maaf Bos, prianya tertembak ketika dia mau nyebur ke kali, kami menembaknya karena dia melawan dan menyerang kami bos," ucap salah satu anggota mafia.
"Damn it!!! Jadi kalian tidak berhasil membawa pria itu ke sini?" ucap si Bos kesal.
"Iya Bos, tapi Bos jangan khawatir, pria itu sudah mati ketembak," ucap anggota mafia itu.
"KALIAN BEGO!!! Nangkap satu pria aja kalian nggak becus!!!! Ini bukan soal bunuh pria itu, klien kita, minta kita untuk membawa si pria dan wanita itu ke sini, bukannya membunuh si pria!!!" ucap si Bos marah. Pergi kalian dari sini!!!" lanjut si Bos.
Kringgg ...
Bunyi dering handphone si ketua mafia. Si bos mengambil handphonenya yang berada di atas meja. Melihat nama si cantik yang tertera di layar handphonenya. Mau tak mau dia harus mengangkat panggilan telepon itu. Memencet tombol ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kanannya.
"Hallo Nyonya Marina yang cantik," sapa orang itu menggoda.
"Hey Ucup, bagaimana hasil kerjamu dengan anak buahmu? Apakah sudah berhasil?"
"Wahyu sudah mati ketembak, mobil yang ditumpangi mereka sudah saya bom untuk menghilangkan jejak. Nyonya Agni sudah ada di sini, tapi si Edward sudah mati ketembak Nyonya."
__ADS_1
"What the ****!!! ucap Marina marah. "Kenapa bisa begitu!!???" lanjut Marina dengan nada suara yang sangat marah.
"Habisnya dia melawan dan menyerang kami Nyonya."
"Benar - benar kerjaan kalian nggak becus!!! Kalau gitu sisanya nggak aku bayar!!"
"Yah nggak bisa gitu dong Nyonya, bagaimana kalau setengahnya?"
"Bagaimana kalau pembayarannya menggunakan tubuh dan nyawa wanita itu?" ucap Marina licik.
"Ehmmm ... baiklah, sepertinya tubuhnya dia lezat dari tubuhmu cantik."
"Bodo amat!! Udah dulu ah, ada pelangganku yang datang," ucap Marina bete.
Sedetik kemudian Marina menjauhkan benda pipih itu dari telinga kanannya. Menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menaruhnya di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Menoleh ke wajah lelahnya Hendra yang sedang tidur pulas. Marina membaringkan lagi tubuhnya setelah terbangun karena memikirkan rencananya.
Sebenarnya rencana Marina hanya ingin membunuh Agni setelah Agni disiksa oleh dirinya. Sedangkan dia hanya ingin mengurung Edward di salah satu penthousenya walaupun Hendra telah memerintahkan dirinya untuk membunuh Agni dan Edward melalui jasa kelompok pembunuh bayaran. Marina telah jatuh cinta kepada Edward yang umurnya terpaut jauh dibawahnya.
Tapi Edward hanya menganggapnya sebagai atasan sekaligus salah satu teman di atas ranjangnya. Sebelum Edward mengenal Agni, Edward sudah mengenal Marina. Marina marah ketika mendengar Edward dan Agni telah menikah. Karena itu dia ingin sekali menyiksa Agni dengan tangannya sendiri dan ingin mengurung Edward agar tidak diambil oleh orang lain lagi.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
"Blackberry Mas bunyi, ada telepon masuk tuch," ucap Marina lembut.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Hendra merubah posisi tubuhnya dari tidur ke duduk. Mengambil blackberry miliknya yang berada di atas nakas sebelah kiri tempat tidur. Melihat nama Sriku yang tertera di layar blackberrynya. Dengan lesu Hendra memencet tombol ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo assalamu'alaikum, ada apa Mah?" ucap Hendra malas.
"Hiks ... hiks ... hiks ... mobil Limosin yang ditumpangi oleh Agni dan Edward terbakar di jalanan hiks ... hiks ... hiks ...," ucap Sri di dalam tangisannya.
"Apa!?" ucap Hendra pura - pura nggak tahu dengan nada suara yang sendu, padahal hatinya sedang senang setelah mendengar ucapan dari Sri.
"Iya Mas hiks ... hiks ... hiks ...."
__ADS_1
"Kamu udah telepon ke polisi?"
"Udah Mas, Mas pulang ke Jakartanya sekarang ya hiks ... hiks ... hiks ...."
"Maaf sayang, aku nggak bisa pulang sekarang, besok aku harus mantau proyek perusahaan kita."
"Hiks ... hiks ... hiks .... ya udah kalau begitu."
Tiba - tiba sambungan telepon itu terputus. Hendra menjauhkan blackberry itu dari telinga kirinya. Menaruh blackberry itu di atas nakas sebelah kiri tempat tidur. Merebahkan tubuhnya di hadapan tubuhnya Marina, lalu memeluk pinggangnya Marina dengan erat. Hendra sangat bahagia karena dia bisa membalas dendam kepada Cipto maupun keluarganya.
"Terima kasih sayang, kamu telah membantuku untuk mewujudkan impianku yang ingin membalas dendam kepada Cipto dan keluarganya," ucap Hendra.
"Sama - sama. Mas, sampai sekarang aku masih penasaran sama alasan kamu yang ingin membalas dendam kepada Cipto dan keluarganya. Sebenarnya apa sich faktor x nya?"
"Ehm ... tapi kamu jangan marah ya?"
"Iya, aku nggak marah."
"begini awal ceritanya. Dulu waktu SMA aku pacaran dengan Maharani, almarhum istrinya Cipto. Tapi hubungan kami kandas karena orang tuanya Maharani tidak menyetujui hubungan kami. Mereka tidak suka denganku karena aku dari keluarga yang tidak berada. Maharani adalah cinta pertamaku yang tak pernah mati. Setelah itu kami lost contact karena Maharani kuliah di Cambridge, Inggris. Tak terduga kami bertemu lagi ketika aku sedang mengunjungi rumahnya Cipto. Waktu itu dia sudah menikah dengan Cipto dan aku sudah menjadi kekasihnya Sri. Setelah pertemuan itu, tak sengaja kami bertemu lagi, terus hubungan kami berlanjut. Hubungan kami hanya berteman, tapi hatiku masih mencintai dirinya. Maharani sering cerita tentang rumah tangganya kepadaku. Ternyata mereka dijodohin. Awal pernikahan mereka, Maharani tidak merasakan kebahagiaan. Cipto terlalu mengabaikan dirinya karena Cipto terlalu sibuk dengan pekerjaan dan pacarnya. Waktu itu aku sudah menyuruh dia minta cerai sama Cipto, tapi dianya nggak mau karena itu bisa merusak hubungan keluarganya Surya Sentosa dan keluarganya Brijaya. Selain itu, dia juga mencintai Cipto. Suatu hari pacarnya Cipto meninggal karena kecelakaan. Setelah pacarnya Cipto meninggal, hubungan mereka menjadi mesra dan Maharani sangat bahagia. Aku pun akhirnya menikah dengan Sri. Awalnya aku menyukai dan menyayanginya. Tapi makin ke sini, Sri sering mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Ketika hubunganku dengan Sri renggang, aku tak sengaja ketemu Maharani sedang menangis di sudut taman. Aku menghampirinya, lalu dia menceritakan bahwa Cipto telah selingkuh dengan seorang pelacur dan pelacur itu melahirkan seorang anak dari benihnya Cipto. Parahnya lagi, Maharani harus mengurus dan menerima anak itu setelah ibu kandungnya meninggal dunia ketika anak itu berusia tujuh bulan. Setelah itu kami tidak bertemu lagi karena dia tidak ingin menemui diriku lagi. Aku hanya mendengar kabar bahwa Maharani jatuh dari tangga karena kenakalan anak kembarnya sehingga dia harus dirawat di rumah sakit. Setelah kejadian itu, aku hanya bisa bertemu dengan dia ketika ada acara keluarga Brijaya, itu juga Maharani selalu menghindar dariku. Tujuh tahun yang lalu aku mendengar berita yang menggelegar, sebuah berita yang menyatakan bahwa Maharani sakit kanker payudara dan dirawat di rumah sakit Mount Elizabeth Singapore sehingga aku memberanikan diriku untuk menjenguknya. Dari ceritanya, dia mengalami penderitaan yang amat luar biasa dari perilakunya Cipto. Hatiku jadi terenyuh setelah mendengar ceritanya sehingga aku mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang. Ketika aku lagi mengecup keningnya Maharani, Agni, Adi dan Brijaya membuka pintu kamar rawat inap Maharani sehingga mereka bisa melihat aku sedang mengecup keningnya. Sontak mereka memarahi diriku sampai Agni bilang bahwa aku bajingan karena telah merebut ibunya. Dengan penuh kelembutan, Maharani menjelaskan maksud dan tujuanku menjenguknya, tapi mereka tidak mengerti sampai akhirnya aku diusir dari sana. Setelah kejadian itu, hubunganku dengan Sri tambah renggang, dia malah membela keluarganya. Waktu itu aku kasihan melihat Maharani yang sedang melawan penyakit fisik dan mentalnya sehingga dia menjadi kurus kering. Hidupnya tertekan dengan segala aturan yang telah membelenggunya. Walaupun hubunganku dengan keluarganya Brijaya renggang, hubungan kerja kami tetap profesional. Akhirnya Cipto mengetahui hal itu. Cipto dan aku pernah membahas tentang Maharani. Akhirnya kuceritakan semua unek - uneknya Maharani dan aku juga menceritakan hubungan asmara aku dengan Maharani waktu di SMA. Sejak aku bicara empat mata sama Cipto, hubunganku dengan Sri dan keluarga Brijaya berdamai, tapi makin ke sini hubungan baik kami memudar. Salah satunya Sri sering marah - marah nggak jelas dan ujung - ujungnya selalu menuduhku yang telah menghancurkan karirnya di perusahaan Cipto karena aku sempat dekat sama Maharani dan satu lagi, aku nggak pernah bertemu lagi sama Maharani. Ketika aku ingin menjenguk Maharani, Maharani sudah pulang ke Indonesia. Ketika aku menanyakan tentang Maharani, Sri selalu menjawab tidak tahu dengan nada suara yang kesal. Waktu itu aku bete banget, untung aku ketemu sama kamu waktu di club. Akhirnya aku jatuh cinta kepadamu sayang," cerocos Hendra.
"Berarti Manikmaya bukan anak kandungnya Maharani dong?"
"Iya."
"Terus kamu tahu tentang kabar Maharani telah meninggal dari siapa?"
"Awalnya aku memimpikan Maharani telah terbang jauh, besoknya aku mendengar Maharani meninggal dunia di rumah sakit Dharmais. Aku sangat kesal sama keluarganya Brijaya yang tidak memperbolehkan aku untuk bertemu dengan Maharani sebelum Maharani meninggal. Dan tak sengaja sehari setelah Maharani meninggal dunia, aku menemukan buku diary milik Maharani yang terjatuh dari tumpukan barangnya Maharani. Salah satu isi buku diary itu menjelaskan dia mengalami syaraf kejepit akibat terjatuh dari tangga."
"Berarti kamu balas dendam sama keluarganya Brijaya karena sosoknya Maharani yang telah mengalami penderitaan setelah menikah dengan Cipto?"
"Iya."
"Jadi tujuan kamu ingin menghabisi keluarganya Cipto selain karena menginginkan harta mereka, juga karena ingin balas dendam?"
"Iya, selain ingin memiliki harta mereka, aku juga ingin membalas dendam."
__ADS_1