
Tolong divote ceritanya dan kasih sarannya ya π.
Silahkan tinggalkan jejak dengan mengklik like di bawah cerita setiap babnya π.
Kasih bintang lima ya π.
Happy reading π€.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Derap langkah kakinya Sri terdengar jelas di atas lantai koridor rumah sakit Bahtera Bogor. Dari tiap langkah kakinya, Sri tampak tegang, panik dan khawatir. Berjalan sambil memegang tali tas jinjingnya. Tadi pagi Sri mendapatkan kabar bahwa Shabrina mengalami kecelakaan mobil. Sri Berjalan terburu - buru menuju ruang IGD rumah sakit. Dia menghentikan langkahnya di depan pintu IGD rumah sakit itu.
Mengedarkan pandangannya untuk mencari teman-temannya Shabrina yang selamat dari kecelakaan mobil. Dia melihat Wulan dan Adit yang sedang duduk sambil menundukkan kepalanya. Sri menghampiri kedua temannya Shabrina. Wulan dan Adit mengarahkan kepalanya ketika mengetahui ada seseorang yang sedang berdiri di hadapan mereka. Sri sebisa mungkin bersikap tenang sehingga dia mampu tersenyum ramah ke teman-temannya Shabrina.
"Boleh Tante bicara sebentar sama kalian?" ucap Sri ramah.
Wulan dan Adit menganggukkan kepalanya secara bersamaan. Sri berjongkok di hadapan mereka yang masih kelihatan sedih dan murung. Sri menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan supaya bisa mengatur emosinya yang tidak stabil. Dia merasa waktunya untuk meminta penjelasan dari kedua teman anaknya itu.
"Kenapa kecelakaan mobil itu bisa terjadi?" tanya Sri lembut setelah dia berhasil menstabilkan emosinya.
"Mobil milik Ryan yang ditumpangi oleh Ryan dan Shabrina oleng sehingga menabrak mobilnya Sella yang sedang dikendarai oleh pacarnya Sella yang bernama Bowo," ucap Adit jujur.
"Ryan?" tanya Sri untuk memastikan pendengarannya.
"Iya Tante, pacarnya Shabrina. Dia nyusul kami ke Sukabumi, pas pulang ke Jakarta Shabrina naik mobilnya Ryan," sahut Wulan.
Sialan tuch Ryan.
Batin Sri.
"Ryan terluka juga?"
"Dia hanya luka ringan Tante," ucap Adit jujur.
"Sekarang Ryan di mana?"
"Dia barusan dibawa oleh polisi Tante."
Bagus, kali ini tuch anak harus dipenjara selamanya karena sudah mencelakakan Shabrina. Kali ini tidak ada kata maaf untuk dirinya lagi setelah dia mencelakakan Agni sampai Agni keguguran. Aku nggak mau dia bebas seperti dia bebas dari hukuman beberapa bulan kemudian dipenjara setelah mencelakai Agni karena Agni bisa memaafkannya sehingga mencabut tuntutannya. Aku juga tidak mau memaafkannya dan sampai kapanpun anak itu harus menerima ganjarannya sesuai dengan hukum yang berlaku.
Batin Sri.
"Kalian tahu ada masalah apa di antara Ryan dan Shabrina?" tanya Shabrina menyelidik.
"Tidak tahu Bu."
__ADS_1
Sri menghela nafas panjang, lalu beranjak berdiri. Membalikkan badannya, sedetik kemudian melangkahkan kakinya dengan lemas ke pintu ruang UGD. Tak sengaja Sri melihat Edward yang masih lupa ingatan sedang berjalan ke ruang UGD. Sri memicingkan kedua matanya untuk memastikan penglihatannya. Semakin lama wajahnya Edward semakin jelas dilihat. Sri melihat tanpa berkedip ketika Edward menghentikan langkahnya di depan pintu ruang UGD.
"Edward?" ucap Sri antara percaya dan tidak percaya.
Yang dipanggil nggak menengok, malah mendorong pintu ruang UGD. Sontak Sri menarik pergelangan tangan kanannya Edward. Edward menoleh ke Sri dengan tatapan mata yang bingung. Sri melongo melihat reaksi Edward yang seperti orang kebingungan. Sri melepaskan pergelangan tangan kanannya Edward yang masih amnesia.
"Nama kamu Edward?"
"Bukan," ucap Edward sambil mengerucutkan dahinya. "Aku Boy, asistennya dokter Shafira."
"Maaf, aku kira kamu Edward" ucap Sri sendu.
Edward tersenyum sopan menanggapi ucapan Sri. Edward masuk ke dalam ruang UGD. Sri melangkahkan kakinya menjauh dari pintu ruang UGD. Menghentikan langkahnya di samping kiri salah satu pilar teras ruang UGD. Tak lama membuka reselting tas jinjingnya. Mengambil smartphone miliknya. Menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi Agni. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo assalamu'alaikum," sapa Sri.
"Wa'alaikumussalam, iya Tante ada apa ya?"
"Ni, Tante barusan lihat seorang pria yang sangat mirip sama Edward."
"Di mana Tante melihatnya?" tanya Agni antusias.
"Di rumah sakit Bahtera Bogor. Tapi namanya Boy, dia itu asistennya dokter Shafira, anaknya almarhum Om Himawan."
"Memangnya kamu masih berharap Edward masih hidup?"
"Iya, tapi hal ini jangan sampai ketahuan sama orang lain ya Tante, termasuk Mas Hardi dan Embah."
"Tante kira kamu sudah mengikhlaskan kepergiannya. Tapi nyatanya salah. Tante sengaja kasih tahu itu ke kamu untuk memastikan, apakah kamu masih berharap atau sudah mengikhlaskan kepergiannya."
"Ehm ... tapi sampai sekarang feelingku mengatakan bahwa Mas Edward masih hidup. Tapi Tante jangan khawatir sama diriku. Aku masih normal, tapi aku hanya ingin memastikan feelingku Tante. Tolong tanyakan itu ke dokter Shafira."
"Kalau dia bukan Edward?"
"Ya sudah, berarti aku harus memendam feelingku itu."
"Bagaimana kalau dia Edward? Apakah kamu ingin balikan lagi sama dia?"
"Nggak mungkin aku balikan. Aku orangnya konsisten dengan komitmen pernikahanku sama Mas Hardi."
"Baiklah akan Tante tanyakan hal itu."
"Bagaimana kabarnya Shabrina Tante?" Sudah ada perkembangan?"
"Belum say, masih di UGD. Doain ya, supaya Shabrina cepat pulih."
__ADS_1
"Iya Tante. Udah dulu ya, aku mau tidur lagi, masih ngantuk."
"Iya. Maaf ya udah ganggu. Bye Agni."
"Bye Tante."
Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. Agni menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menaruhnya di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Agni membaringkan tubuhnya. Memiringkan tubuhnya sehingga membelakangi Hardi yang ternyata terbangun ketika Agni sedang berbicara dengan Sri ditelepon.
"Edward masih hidup?" ucap Hardi datar yang mengagetkan Agni.
Sontak Agni melebarkan kedua matanya, lalu berucap, "Itu menurutku Mas."
"Kamu masih belum mengikhlaskan kepergiannya? Masih mencintainya?"
"Nggak juga Mas, aku hanya ingin memastikan feelingku Mas," ucap Agni, lalu merubah posisi tubuhnya sehingga dia berhadapan dengan Hardi.
"Kalau kamu masih belum mengikhlaskan kepergiannya dan masih mencintainya juga nggak apa-apa," ucap Hardi datar, lalu dia merubah posisinya sehingga dia membelakangi Agni.
"Kamu tidak usah khawatir Mas, aku akan selalu menjaga pernikahan kita. Aku tetap setia denganmu walaupun dia masih hidup maupun dia ingin balikan dengan diriku jika dia masih hidup," ucap Agni yakin.
"Apakah kamu yakin dia masih hidup?" tanya Hardi datar.
"Iya."
"Apa yang akan kamu lakukan jika dia masih hidup?"
"Aku ingin menemuinya untuk yang terakhir kali, anggap saja perpisahan untuk kami."
"Kamu yakin tidak akan balikan sama dia setelah kalian bertemu?"
"Iya, aku sangat yakin Mas," ucap Agni lugas.
Hardi menyingkap selimut yang menutupi tubuh telanjang mereka. Beranjak berdiri dari tempat tidur. Rasa gelisah menyeruak di hatinya Agni ketika melihat wajah murungnya Hardi yang sedang berjalan menuju ke kamar mandi. Hardi masuk ke dalam kamar mandi melewati pintu kamar mandi yang sudah terbuka. Menutup pintu kamar mandi. Menatap dirinya di cermin westafel.
"Kenapa aku kesal mendengar ucapan Agni tadi? Apakah aku mulai mencintainya lagi?"
Tok ... tok ... tok ...
"Mas, are you ok?" teriak Agni khawatir.
"Iya, aku baik-baik aja!" teriak Hardi kesal.
"Aku tahu kamu kesal, aku minta maaf Mas. Kamu mau sesuatu dariku?"
"Ehm ... jangan nemuin dirinya dan ngobrol dengannya jika dia masih hidup."
__ADS_1