
"Eu, eu, eu," bunyi sendawa Edward yang sedang dipijat sama Agni.
"Mas badanmu dikerok aja ya? Biar anginnya keluar semua," ucap Agni sambil memijat punggungnya Edward.
"Iya," ucap Edward pasrah.
Sarah menghentikan pijatannya. Dia beranjak berdiri dari tempat tidur. Membuka laci nakas di sebelah kiri tempat tidur. Mengambil dompet khusus koin milik Mawar. Membuka kaitan dompet, lalu mengambil koin seribuan satu buah. Menutup kaitan dompet, lalu menaruhnya di tempat semula. Menutup laci nakas itu. Naik ke atas tempat tidur, lalu duduk di samping kirinya El. Menaruh koin di atas piring kecil yang berisi minyak tawon dan handbody. Mengoles campuran minyak dan handbody ke punggung kanannya El. Mengambil koin, lalu mengerok.
"Auww!" pekik Edward meringis.
"Baru segini, udah teriak."
"Sakit tahu! Pelan - pelan dong!" protes Edward.
"Kamu cuma menang badan doang, baru dikerok dikit langsung kesakitan," ucap Agni sambil menghentikan gerakan tangannya, lalu dia mengambil campuran minyak dan handbody. "Tadi belum seberapa," ucap Agni sambil mengoles campuran minyak dan handbody ke punggung kanannya Edward, lalu mengeroknya.
"Aduh sakit!" pekik Edward sambil meremas kencang paha kanannya Agni
"Hey, Mas jangan modus dong!" ucap Agni sambil menghentikan gerakannya.
"Udah ah keroknya," ucap Edward sambil membalikkan badannya.
"Ya elah Mas, itu baru satu setengah kerokan udah kesakitan," ucap Agni sambil menaruh koinnya di atas piring kecil.
Edward menarik kedua tangannya Agni sehingga jatuh di atas dadanya Edward yang kekar. Tatapan mata mereka saling memaku. Desiran lembut menelusuri setiap nadi mereka. Detak jantung mereka melaju kencang lebih cepat dari biasanya. Rona merah di pipinya Agni menyeruak. Edward mendekatkan wajahnya ke wajahnya Agni. Agni memalingkan wajahnya ke bawah sehingga Edward hanya bisa mencium kepalanya Agni.
"Mas belum waktunya," gumam Agni yang masih didengar oleh Edward.
"Maukah kamu menjadi kekasihku?" tanya Edward lembut.
"Aku nggak tahu Mas, aku masih bingung."
"Bingung kenapa? Kita sudah sebulan tinggal berdua di sini. Kita sudah saling mengenal dan kita sudah menceritakan tentang keluarga kita. Dan satu lagi, kita saling jatuh cinta sejak pandangan pertama. Apakah kamu masih ragu sama diriku?"
"Bisa jadi, Mas tolong lepaskan kedua tanganku."
"Kenapa kamu ragu? Kamu ragu sama siapa?" tanya Edward lembut sambil melepaskan pergelangan kedua tangannya Agni.
"Aku ragu sama perasaan diriku sendiri. Apakah aku benar - benar telah jatuh cinta kepada Mas atau hanya perasaan simpatik? Apa yang Mas rasakan kepadaku? Apakah Mas benar - benar cinta kepadaku?" ucap Agni sambil menoleh ke Edward.
"Cinta dan nafsu, itu yang kurasakan di hatiku. Aku benar - benar mencintai dirimu sayang," ucap Edward sungguh - sungguh.
Agni melihat tidak ada kebohongan dari ucapan Edward. Edward mengucapkan cinta kepadanya dengan yakin dan lugas dan tatapan kedua matanya Edward yang tidak berbohong. Agni menegakkan badannya, lalu beranjak berdiri dari ranjang. Yang menjadi permasalahannya adalah rasa hati dia terhadap Edward, dia tidak mau menyalah artikan perasaan dia terhadap Edward.
__ADS_1
"Apakah kamu masih memikirkan mantan tunanganmu yang bernama Hardi?" ucap Edward lembut ketika Agni hendak keluar dari dalam kamar.
Agni menoleh ke Edward, lalu berkata, "Aku sama sekali tidak memikirkan dia Mas sejak kami putus. Aku hanya tidak ingin menyalahkan arti perasaanku terhadap dirimu Mas, lagi pula kita baru sebulan berkenalan. Berilah aku waktu untuk memastikan perasaanku kepadamu Mas."
"Baiklah kalau itu maumu sayang. Terima kasih sudah mau merawat diriku."
"Iya, sama - sama Mas."
"Kamu mau ke mana?"
"Mau ke dapur Mas, mau masak untuk makan siang dan makan malam kita Mas."
"Nggak usah kamu yang masak, biar aku aja yang masak," ucap Edward, lalu dia beranjak berdiri dari tempat tidur.
"Tapi kamu kan masih sakit Mas. Lagi pula tadi kamu sudah masak untuk sarapan kita Mas," ucap Agni ketika Edward sedang berjalan menghampiri dirinya.
"Cuma sakit panas doang. Kamu nggak usah khawatir gitu sayang, aku baik - baik aja," ucap Edward setelah menghentikan langkahnya di depan Agni, lalu dia mengusap lembut pipinya Agni yang membuat rona merah menyeruak lagi di pipinya.
"Kamu lebih cantik jika rona merah menghiasi pipimu," ucap Edward lembut yang membuat Agni malu sendiri.
Edward melepaskan telapak tangan kanannya dari pipinya Agni ketika Agni menundukkan kepalanya. Edward tersenyum senang melihat reaksi Agni setelah dia menyentuh Agni. Agni melengos pergi ke ruang tamu karena dia sudah tidak bisa menahan gejolak getaran di relung hatinya. Menduduki tubuhnya di bangku panjang. Lalu menutup wajahnya dengan bantal yang sering dipakai oleh Edward. Agni sering melakukan seperti itu setelah mereka membicarakan soal perasaan dan setelah Edward menyentuhnya.
Edward memperhatikan sikap Agni yang itu. Edward tertawa kecil melihat sikap Agni yang seperti itu. Dia berjalan menghampiri Agni lalu duduk di samping kirinya Agni. Agni melepaskan bantalnya Edward dari wajahnya karena merasa ada seseorang yang sedang duduk di samping kirinya. Agni menengok ke Edward, lalu dia kaget melihat Edward berada di samping kirinya. Sontak dia menutup lagi wajahnya dengan bantal milik Edward karena malu sendiri sehingga membuat Edward tertawa kecil lagi.
"Kamu nggak usah malu - malu gitu, jujur aja kamu mau menjadi kekasihku," ledek Edward.
"Aku aku akan pergi dari sini asalkan kamu mau menjadi kekasihku. Kamu tuch sebenarnya mau menjadi kekasihku tapi malu untuk mengakuinya," ucap Edward sambil menoleh ke Agni.
"Kata siapa aku benar - benar mau menjadi kekasihmu Mas? Sedangkan aku masih bingung sama perasaan diriku terhadap dirimu."
"Tahu dari dirimu yang seperti ini. Aku sering melihatmu seperti setelah kita membicarakan tentang perasaan kita dan setelah aku menyentuhmu. Kamu nggak usah mengelak perasaan cintamu kepadaku sayang. Akuilah perasaan itu."
Apakah benar aku mencintainya?
Batin Agni.
"Sekarang aku tanya mau tanya beberapa hal ke kamu, tapi jawab yang jujur ya."
"Iya."
"Tapi lepasin dulu bantal itu dari wajah cantikmu dan tatapan kedua mataku."
"Iya," ucap Agni, lalu dia melepaskan bantal itu dari wajahnya dan menatap kedua matanya Edward.
__ADS_1
"Apakah kamu menyukai wajah gantengku ini?"
"Ih pertanyaan yang narsis banget."
"Jawab pertanyaanku yang tadi, jangan mengalihkan pembicaraan."
"Iya."
"Bagus. Apakah kamu merasakan gelayar lembut yang menyelimuti hatimu saat kita pertama kali bertemu di pantai yang indah itu?"
"Iya," jawab Agni yang membuat Edward senang.
"Kenapa kamu dicium sama diriku?"
"karena kebodohan diriku."
"Ok. Kenapa kamu merasa bodoh ketika mau dicium samaku?"
"Karena kamu bukan kekasihku."
"Berarti kamu mau dicium samaku jika aku sudah menjadi kekasihmu?"
"Iya," jawab Agni spontan dan jujur yang membuat Edward senang.
"Bagaimana perasaan kamu jika aku pergi jauh dariku?"
"Aku merasakan sesuatu yang hilang di hatiku, sedih, khawatir dan gundah gulana," jawab Agni jujur yang membuat Edward bertambah senang.
"Apakah kamu sedih juga jika aku sakit?"
"Iya," jawab Edward yang membuat hatinya Edward berbunga - bunga.
"Apakah kamu senang berada di dekatku?"
"Iya," jawab Agni jujur yang membuat dirinya Edward bahagia.
"Aku juga merasakan hal sama," ujar Edward senang. "Berarti kamu itu mencintai diriku dan mau menjadi kekasihku tapi kamu masih malu mengakuinya sayang."
Ucapan Edward yang terakhir membuat Agni berfikir tentang perasaan di hatinya terhadap Edward, lalu berucap, "Iya aku mencintaimu tapi aku belum mau menjadi kekasihmu."
"Kenapa?"
"Coba kamu pikirkan sendiri."
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah membaca novelku yang ini π. Jangan lupa kasih like, vote, hadiah, bintang lima, dan komentar ya π. Salam hangat dariku ππ.