
Di bawah naungan sebuah pohon yang rindang, Agni dan Jennifer sedang duduk santai setelah mereka melakukan lari pagi. Jennifer memperhatikan beberapa daun yang memiliki susunan berbentuk spiral di sebuah taman yang sudah ada sejak abad delapan belas. Sedangkan Agni sedang membaca artikel di internet. Jennifer menoleh ke Agni.
"Ni, kamu sempat berfikir nggak kalau semua kegiatan kamu dilaporkan ke Mbah dan Hardi sejak mereka mengawasimu melalui jasa bodyguard tanpa sepengetahuan kamu?"
"Nggak, setahu aku, para bodyguard hanya melaporkan hal keamanan dan kenyamanan diriku, kalau hal pribadi nggak, mereka kan bukan detektif."
"Kenapa Mbah melakukan itu Ni, padahal kan ada di sini ada aku?"
"Waktu awal - awal aku di London, smartphoneku dijambret. Pencurinya ditangkap, beberapa tahun kemudian dilepaskan. Mereka yakin kalau penjahat itu adalah salah satu anggota geng mafia. Mbah dan Hardi khawatir sama keamanan dan kenyamananku aja."
"Sekarang mereka masih mengawasi kamu melalui jasa para bodyguard?"
"Udah nggak, aku nggak mau."
"Ni, maaf ya aku nggak bisa liburan sampai bulan Agustus," ucap Jennifer sedih.
"Memangnya kenapa Jenny?"
"Daddy ku sakit parah sampai masuk ke rumah sakit."
"Kok kamu baru kasih tahu aku sich?"
"Aku aja tahunya baru tadi pagi."
"Kapan kamu berangkat ke Amerika?"
"Lusa, kamu nggak apa - apa kan tinggal sendirian di sini?"
"Iya, semoga Daddy kamu lekas sembuh."
"Ameen, terima kasih ya. Kamu minta tolong aja sama Edward untuk nemenin kamu di sini."
"Nggak ah, ide kamu bikin rumah tanggaku hancur."
"Ya udah, kamu telepon suami kamu supaya dia cepat pulang ke sini dan kamu nggak sendirian lama di sini, aku khawatir kalau kamu sendirian di sini terlalu lama."
Tanpa berfikir panjang lagi, Agni menyentuh beberapa ikon dan menggeser ikon hijau di layar smartphone miliknya untuk menghubungi Hardi. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. Nada sambung berbunyi berkali - kali sampai nada sambung itu berhenti. Agni kesal karena panggilan teleponnya tidak dijawab oleh Hardi. Agni menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu.
"Kita pulang yuk!" ajak Agni sambil menaruh smartphone miliknya di dalam tas pinggangnya.
"Kita makan dulu ya," ucap Jennifer sambil beranjak berdiri ketika Agni menutup resleting tas pinggangnya.
"Ok, kita makan di dekat sini aja," ujar Agni sembari beranjak berdiri.
Tak lama kemudian mereka berjalan santai menyusuri jalanan yang berada di dalam taman. Agni melihat sosoknya Edward yang sedang berlari ke arah mereka. Jennifer menghentikan langkah kakinya, lalu menarik tangan kanannya Agni sehingga Agni menghentikan langkah kakinya. Agni menoleh ke Jennifer.
"Kenapa Jenny?" tanya Agni bingung.
"Sepertinya Edward tak bisa menahan rasa rindu kepadamu selama sehari," ledek Jennifer.
__ADS_1
"Auah gelap, kirain ada apa."
"Neng Agni, sekarang masih terang benderang."
Edward berhenti di hadapan Agni dan Jennifer, lalu berucap, "Dari tadi pagi, aku cari kalian, eh ternyata kalian di sini."
"Memangnya ada apa Mas?"
"Aku mau ngajak kalian ke mall."
"Oh ya, hari ini kan kamu ulang tahun ya," celetuk Agni.
"Iya, kamu benar sekali. Aku mau traktir kalian."
"Wah kebetulan sekali nich. Kami lagi lapar, eh ada yang traktir makanan. Ayo."
Sedetik kemudian Edward membalikkan badannya. Mereka melanjutkan langkah kaki mereka. Menelusuri jalan di antara pepohonan besar dan rindang. Mereka berjalan berbaris. Edward urutan pertama, Agni urutan kedua dan Jennifer urutan ketiga. Tiba - tiba Edward menghentikan langkah kakinya. Sontak Agni dan Jennifer juga menghentikan langkahnya.
"Kita salah jalan," ucap Edward sambil membalikkan tubuhnya.
Sontak Agni menengadah, lalu berkata, "Kamu yakin Mas?"
"Iya," ucap Edward, kemudian Agni membalikkan badannya,
"Kenapa?"
"Kita salah jalan."
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu, oh
Seperti udara yang kuhela
Kau selalu ada
Selalu ada
Kau selalu ada
Selalu ada
Kau selalu ada
Bunyi dering dari smartphone milik Agni. Sontak Agni menghentikan langkah kakinya. Membuka resleting tas pinggangnya sambil merasakan punggungnya bersentuhan dengan perutnya Edward. Mengambil smartphone miliknya. Menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Agni tersenyum melihat tulisan Mas Hardi di layar smartphone miliknya. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo assalamu'alaikum Mas," sapa Agni ceria.
"Wa'alaikumussalam, tadi kamu kenapa telepon aku?"
__ADS_1
"Kamu kapan pulang Mas?"
"Setelah Mbah sembuh total," jawab Hardi sambil merubah posisi dari tidur ke duduk.
"Gimana kabarnya Mbah Mas?"
"Masih di rumah sakit, tapi sudah lebih baik dari kemarin. Memangnya kenapa kamu menanyakan hal itu?"
"Lusa Jennifer pulang ke Amerika. Aku nggak mau tinggal sendirian di sini terlalu lama."
"Doakan saja semoga Mbah cepat pulih," ujar Hardi sambil merasakan sentuhan sensual dari tangan kanannya Valerie di area alat pamungkasnya. "Sayang udah dulu ya, aku mau pun," lanjut Hardi.
"Baiklah, bye Mas."
"Bye Agni."
Hardi menggeser ikon merah di layar smartphone miliknya untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menaruh di atas nakas sebelah kiri tempat tidur. Menoleh ke Valerie yang sedang tersenyum genit. Hardi menyingkap selimut yang menutupi tubuh telanjang mereka.
"Kamu mau ke mana Honey?" tanya Valerie dengan suara serak karena baru bangun tidur.
"Aku mau mandi, ucap Hardi sambil beranjak berdiri.
"Tadi kamu ngobrol sama siapa?"
"Sama Agni," ucap Hardi sambil berjalan menuju ke kamar mandi.
"By the way kapan kamu menikahiku?"
Hardi menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh ke Valerie dan berucap, "Setelah Mbah meninggal."
Aku harus punya ide cara untuk membunuh kakek tua itu secara halus."
Batin Valerie.
"Kamu cepatan bangun, aku mau ngajak kamu ke restoran," ucap Hardi sambil membuka pintu kamar mandi.
Hardi masuk ke dalam kamar mandi. Berjalan ke arah bathtub. Memutarkan kran sehingga air mengalir. Hardi masuk ke dalam bathtub. Menduduki tubuhnya di dalam bathtub. Valerie bergaya sensual di ambang pintu kamar mandi. Hardi Menatap lapar ke tubuh biola milik Valerie yang tidak ditutupi dengan sehelai benang apa pun. Valerie sangat tahu arti dari tatapan kedua matanya Hardi.
Hardi ingin memakan dirinya lagi. Valerie sengaja melenggang lenggokkan kakinya menghampiri Hardi yang sedang duduk di dalam bathtub dengan gesture yang sensual. Menduduki tubuhnya di atas pangkuan Hardi dengan posisi saling berhadapan. Mengalungkan kedua tangannya di leher kokohnya Hardi.
"Honey, kamu sudah memberitahu ke Mbah tentang Agni selingkuh?" ucap Valerie lembut.
"Menurut nggak usah."
"Sebaiknya besok kamu kasih tahu soal itu ke Mbah, biar Mbah tahu bahwa Agni nggak sebaik yang dia kira," ujar Valerie lembut sambil tangan kanannya membelai dada bidangnya Hardi.
"Hhmm, boleh juga, aaahhh, iya, besok aku akan kasih tahu hal itu ke Mbah aaahhh," ucap Hardi sambil merasakan sentuhan sensual di alat pamungkasnya.
"Kamu mau makan aku lagi Honey?" bisik Valerie sensual.
__ADS_1
"Iya, aaahhhh ... kamu memang wanita yang sangat tahu tentang diriku."