
Malam ini, malam kedua Agni tidur di mansion milik Batara. Termenung menyendiri untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Entah apa yang harus dia perbuat untuk menyelesaikan masalah dia dengan Hardi sehingga gundah gulana berkecamuk di dalam dirinya. Sejak dia menginap di mansion itu, dia dan Hardi tidak tidur sekamar. Setelah selesai acara tahlilan Batara, Hardi selalu pergi dan pulang ketika sudah pagi. Pagi pun hanya mandi dan sarapan, setelah itu berangkat kerja.
Kemarin malam penyelesaian masalah mereka berjalan buntu. Setelah membentak Agni, Hardi langsung pergi begitu saja sehingga meninggalkan luka yang tak berdarah di jiwanya Agni. Tak terasa air mata Agni mengalir lembut di wajahnya karena mengingat kejadian yang kemarin malam. Menangis sambil memandang kilatan petir telah menyambar membelah langit malam yang meronta.
Seketika hujan lebat turun menghujam bumi beriringan dengan bunyi petir yang gelegar kencang sehingga terdengar dari dalam mansion kediaman keluarga Batara. Hujan lebat yang tak kunjung usai sejak sore hari. Malam yang mendung, semendung jiwanya Agni. Agni menutup tirai jendela. Berjalan pelan menuju tempat tidur.
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Kau selalu ada
Kau selalu ada
Kau selalu ada
Kau selalu ada
Bunyi dering dari smartphone milik Agni. Agni mengambil benda persegi panjang itu yang berada di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Melihat tulisan Jenny di layar smartphone milik Agni. Dia langsung menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu sambil menduduki tubuhnya di pinggiran tempat tidur. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo Jenny," ucap Agni ramah.
"Hallo juga Ni, gimana penyelesaiannya?" tanya Jennifer.
"Gagal," ucap Agni sedih
"Kenapa bisa gagal Sayang?" tanya Jennifer khawatir.
"Mas Hardi pergi begitu saja ketika kami sedang membahasnya."
"Kok dia menghindari masalah, bukan menyelesaikan masalah sich? Jadi cowok tidak gentle. Tadi pagi kamu bahas itu lagi nggak sama Hardi?"
"Iya, tapi dia nggak mau membahas itu dan dia langsung berangkat kerja. Jenny, semalam aku diperlakukan kasar oleh Mas Hardi dan dibentak. Pagi ini dia juga membentak aku waktu dia bilang tidak mau bahas itu lagi," ucap Agni sedih.
"Semalam dia pergi ke mana?"
"Dia ngebentak aku ketika aku nanya dia mau pergi ke mana. Dia nggak jawab, malah ngomong itu bukan urusanku."
"Setelah itu dia pulang jam berapa?"
"Pulang jam enam pagi, setelah pulang langsung mandi, sarapan dan terus berangkat kerja."
__ADS_1
"Dia bau alkohol nggak?"
"Aku nggak tahu. Sejak kamu berantem, dia selalu menghindar dariku."
"Fix, dia suami yang toxic. Sebaiknya kalian berpisah dech. Aku yakin dia telah selingkuh," ucap Jennifer yakin.
"Nggak mungkinlah kami berpisah, nikah itu satu kali seumur hidup."
"Tapi kan dia telah kdrt, kamu bisa mati konyol di tangan Hardi, Ni. Nggak apa - apa berpisah, dari pada kamu terluka."
"Iya sich, memang diperbolehkan bercerai tadi perbuatan itu dibenci oleh Tuhan."
"Ya udah, kamu minta cerai aja."
"Aku pikir - pikir dulu."
"Terus ada luka memar nggak?"
"Bibir bengkak, leher dan dada banyak luka gigitan."
"Kasar banget. Ya udah kamu visum aja, itu bisa jadi bukti di pengadilan."
"Iya nanti aku visum."
Tok... tok... tok
"Nyonya, acara tahlilannya sudah selesai. Dan makan malam sudah siap," ucap salah satu maid mansion itu dengan volume suara yang keras.
"Baik Nyonya."
"Jenny, udah dulu ya, aku mau makan malam dulu."
"Ok, sampai besok lagi kita ngobrolnya."
"Ok. Bye Jenny."
"Bye Ni."
Sedetik kemudian sambungan telepon itu terputus. Agni menjauhkan smartphone itu dari telinga kirinya. Agni menyimpan benda persegi panjang itu di tempat semula. Beranjak berdiri dari tepian tempat tidur. Berjalan pelan menuju pintu kamar itu. Baru lima langkah, pintu kamar itu terbuka. Menampilkan sosok Hardi yang mengenakan baju Koko putih dan celana hitam.
Agni menghentikan langkah kakinya. Memperhatikan gerak - geriknya Hardi yang sudah tidak peduli lagi sama keberadaan dirinya. Benar - benar tidak menganggap dirinya. Hardi membuka laci nakas sebelah kiri tempat tidur. Mengambil salah satu mobilnya. Menutup laci nakas itu. Membalikkan badannya, lalu berjalan terburu - buru menunju pintu kamar itu.
"Mas, mau pergi ke mana lagi?" tanya Agni yang menghentikan langkah kakinya Hardi.
"Itu bukan urusanmu!" bentak Hardi tanpa menoleh ke Agni.
"Kamu itu menganggap aku ini apa Mas?! Sejak aku di sini, kamu tidak mempedulikan diriku! Kamu selalu menghindar dariku Mas!" Agni kesal.
Hardi menutup pintu, lalu berbalik dan berucap dengan nada suara yang marah, "Kamu nggak sadar kenapa aku seperti itu ke kamu?!"
__ADS_1
"Sudah aku bilang, foto - foto itu editan Mas, tolong percaya sama aku, please," ucap Agni melunak.
Hardi menyeringai licik, lalu berucap dengan kasar, "Aku tidak percaya dengan wanita murahan sepertimu!"
"Demi Tuhan, aku tidak selingkuh sama Mas Edward Mas."
"Jangan bawa nama Tuhan untuk menutupi keburukanmu! Aku tetap nggak percaya! Sudah jangan mengelaknya! Aku sudah punya bukti bahwa kamu telah menyakiti hatiku dan telah mengkhianati diriku! Dan satu lagi, kamu itu pembunuh!!!"
"Apa maksudmu menuduhku seorang pembunuh?!" ucap Agni kesal.
"Karena kelakuan bejatmu, Mbah mengalami serangan jantung yang kedua sehingga Mbah meninggal dunia!!" bentak Hardi.
"Aku bukan pembunuh! Sudah kubilang foto itu sudah diedit Mas! Kalau kamu nggak percaya, kamu telepon Jennifer."
"Buat apa aku menelepon dia, wong kalian sudah bersekongkol!"
"Damn it! Aku benar - benar tidak selingkuh Mas!"
"Sudah jangan mengelak lagi! Aku sudah muak denganmu!"
"Ok, fine. Sekarang kamu maunya gimana?!"
"Kamu maunya gimana?!"
"Kok kamu malah balik nanya ke aku sich Mas?!"
Kringgg ... Kringgg ... Kringgg ...
Bunyi dering dari smartphone milik Hardi. Hardi tergesa - gesa mengambil smartphone miliknya yang berada di dalam saku celananya. Dia tersenyum melihat tulisan my Vale di layar smartphone miliknya. Menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo," sapa Hardi ramah.
"Hallo Sayang, aku kangen. Acara tahlilannya sudah selesai?"
"Sudah, aku segera ke sana," ucap Hardi lembut.
"Ok, aku tunggu kedatanganmu Sayang. Miss you, mmmmuuuaaaahhh."
"Ok, udah dulu ya," ucap Hardi lembut.
Hardi menjauhkan benda persegi panjang itu dari telinga kirinya. Menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menaruh smartphone miliknya ke dalam saku celananya. Hardi menoleh ke Agni yang sedang menangis terisak - isak.
"Kamu nggak usah bersandiwara! Aku tak akan luluh!"
"Hiks ... hiks ... hiks ... ternyata kamu telah mengkambing hitamkan aku untuk aib kamu hiks ... hiks ... hiks ...," ucap Agni sambil menangis.
"He, memangnya kamu ada bukti bahwa aku telah selingkuh? Sudah jangan mengalihkan kesalahanmu! Oh ya, aku baru tahu, ternyata kamu tidak mau hamil anak dariku karena kamu selingkuh dan ingin kembali sama Edward!"
"Hiks ... hiks ... hiks ... terserah kamu mau ngomong apa hiks ... hiks ... hiks ...."
__ADS_1
"Sekarang kamu maunya apa?!"
"Aku nggak mau berantem lagi."