Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Yang Selalu Ada Untukmu


__ADS_3

Agni sedang berjalan santai menyusuri koridor dalam terminal kedatangan bandara Heathrow yang dibangun pada tahun 1929. Agni berjalan menuju pintu keluar sambil mendorong trolley. Pada hari ini, seperti biasa Bandara Heathrow selalu ramai pengunjung karena bandara ini merupakan bandara paling sibuk di negara Inggris. Pintu kedatangan Bandara Heathrow terlihat sangat padat.


Tak sengaja Agni melihat Edward dibalik pagar pembatas bandara yang memiliki kapasitas hampir delapan puluh juta penumpang per tahunnya. Pandangan kedua matanya Edward tak lepas dari pintu sambil menelusuri setiap orang yang berlalu lalang melewati pintu itu. Sedetik kemudian, Edward melihat Agni yang sedang berjalan menuju pintu keluar terminal itu. Edward melambaikan tangan kanannya ke Agni.


Agni berjalan menghampiri Edward melewati pintu keluar terminal itu. Agni menghentikan langkah kakinya dan melepaskan genggaman tangannya di pegangan trolley ketika berada di hadapan Edward. Edward memperhatikan Agni dari ujung kaki sampai ujung kepala. Edward sangat merindukan sosok seorang wanita cantik berambut hitam legam yang panjang, memakai dress semata kaki, tas ransel hitam, kacamata hitam branded dan sepatu flat warna hitam bermerek terkenal sambil membawa sebuah trolley.


"Assalamu'alaikum Mas Edward," sapa Agni ramah yang mengalihkan penglihatan Edward.


"Wa'alaikumussalam Agni," ucap Edward lembut.


"Kamu lagi jemput siapa Mas?"


"Jemput kamu."


"Terima kasih, tapi sebenarnya kamu tak perlu jemput aku Mas."


"Masa aku membiarkan bintangku yang paling bersinar sendirian di sini."


"Masih siang udah gombal. Kamu tahu aku pulang sekarang dari siapa Mas?"


"Dari feelingku."


"Aku tanya serius, malah diledekin," ucap Agni kesal.


"Ciye, baru segitu aja udah ngambek, nanti cantiknya hilang luch kalau ngambek," ledek Edward. "Ayo kita ke hotel!" ajak Edward.


"Memangnya kamu tahu aku mau ke hotel mana?" tanya Agni.


"Tahu, kamu mau ke hotel The Dorchester," ucap Edward sambil mengambil koper besar milik Agni.


"Pasti kamu tahu dari Jenny ya?" tanya Agni ketika Edward membalikkan badannya dan membawa kopernya Agni.


"Kalau iya emangnya kenapa?" ucap Edward lembut. "Ayo kita ke hotel sekarang!" lanjut Edward sambil berjalan.


"Pasti kamu sudah tahu semua tentang aku dengan Hardi," ujar Agni sambil mengikuti langkah kakinya Edward.


"Iya. Karena itu aku ingin menghibur kamu."


"Terima kasih, tapi Kamu tak perlu menghiburku Mas. Aku bisa kok mengatasi semua masalah itu."


"Kamu tak perlu sungkan Sayang," ucap Edward sambil berjalan melewati pintu lobby terminal itu.


"Kamu menginap di hotel itu juga Mas?"


"Iya, besok jam berapa seminarnya," ucap Edward sambil menghentikan langkah kakinya di depan bagasi mobil.


"Jam delapan pagi Mas," jawab Agni sambil membuka pintu penumpang mobil sport milik Edward.


"Sebaiknya kamu istirahat yang banyak supaya bisa fokus untuk presentasi di seminar besok," ujar Edward sambil menutup pintu bagasi mobil.


"Iya," ucap Agni sambil menutup pintu mobil itu.

__ADS_1


"Sebelum ke hotel kita makan siang dulu," ucap Edward sambil membuka pintu pengemudi mobil itu.


"Ok."


"Kamu mau makan apa?" tanya Edward sambil menutup pintu mobilnya.


"Yogurtlu Adana dan Ali Nazik sambil melihat aliran sungai Thames," ucap Agni sambil memasang sabuk pengaman.


"Baiklah," ucap Edward sambil memasang sabuk pengaman.


Tak lama kemudian Edward melajukan mobil sportnya. Mobil itu melaju dengan pelan di area bandara yang terletak sekitar 23 km sebelah barat dari pusat kota London. Agni mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Dia merenungkan sikap Hardi yang sangat kasar terhadap dirinya. Sebenarnya Agni merasa bersalah karena tidak mendengarkan ucapan Hardi yang waktu itu sebagai suaminya. Tapi Agni tidak menyangka Hardi telah berbuat kasar terhadap dirinya.


"Tidak usah memikirkan seorang pria yang tidak bisa memperlakukan seorang wanita dengan baik dan benar," ujar Edward.


"Awalnya itu semua salahku Mas," ucap Agni sedih sambil menoleh ke Edward yang sedang mengendarai mobil sport miliknya.


"Kamu tak perlu menyalahkan dirimu. Jika dia laki - laki yang baik, mana mungkin dia berbuat kasar kepadamu walaupun dia sedang marah kepadamu.


"Apakah kamu sudah yakin ingin berpisah dengannya?"


"Iya."


"Kamu menggunakan jasa pengacara untuk membantu kamu mengurus perceraian?"


"Iya, pengacaranya atas rekomendasi dari Tante Sri. By the way, kenapa kamu menginap di hotel The Dorchester?"


"Aku ditunjuk sebagai perwakilan Daddy untuk menghadiri acara seminar itu. Daddy sangat senang ketika dia mengetahui bahwa kamu telah melakukan presentasi di dalam seminar itu, makanya dia menunjuk aku sebagai perwakilan. Ada ide cemerlang di dalam seminar itu, sebuah terobosan energi baru untuk kendaraan. Kelompok kamu memiliki otak yang jenius. Bahan utama untuk baterai mobil itu apa?"


Kau seperti nyanyian dalam hatiku


Yang memanggil rinduku padamu


Seperti udara yang kuhela kau selalu ada


Kau seperti nyanyian dalam hatiku


Yang memanggil rinduku padamu


Seperti udara yang kuhela kau selalu ada


Kau selalu ada


Kau selalu ada


Kau selalu ada


Kau selalu ada


Smartphone milik Agni berdering. Agni membuka resleting tas selempangnya. Mengambil smartphone miliknya. Ekspresi wajahnya Agni menjadi senang ketika melihat tulisan Tante Sri di layar smartphone miliknya. Menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Agni mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Assalamu'alaikum Tante," ucap Agni ceria.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam Agniku sayang. Ni, ada kabar berita yang menyenangkan."


"Apa itu Tante?"


"Perusahaan tambang kita akhirnya telah berhasil menemukan ladang nikel di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan dan Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Perusahaan kita pasti mendukung terobosan kalian Sayang, semangat Cantik. Tante yakin, pasti ada beberapa perusahaan kendaraan yang ingin menggunakan terobosan energi yang telah kalian teliti."


"Aamiin Ya Robbal Alamiin. Itu yang kami inginkan agar polusi di udara berkurang."


"Kamu sudah sampai di The Dorchester?"


"Belum Tante, memangnya ada apa?"


"Ada yang ingin Tante bicarakan."


"Apa itu Tante?"


"Nanti aja, kalau kamu sudah sampai di hotel. Udah dulu ya, Tante mau mandi dulu, bye Agniku Sayang."


"Bye Tante."


Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. Agni menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menaruhnya di tempat semula. Menutup resleting tas selempangnya. Mengalihkan pandangannya ke jejeran pencakar langit yang menghiasi kota London dengan apik. Sekilas Edward menoleh ke Agni.


"Ada apa Ni?"


"Sebaiknya kita ke hotel Mas, makan siangnya take away aja."


"Baiklah kalau begitu. Nanti aku aja yang beli, kamu tunggu aja di hotel."


"Aauuww!" pekik Agni sambil memijat pelipisnya karena merasakan sakit di kepalanya.


"Kamu kenapa?" ucap Edward khawatir.


"Hanya pusing aja Mas."


"Ya udah, nanti pas di hotel kamu jangan ngapain - ngapain, biar aku yang urus semuanya," ucap Edward khawatir.


"Iya Mas."


Setelah melewati beberapa gedung akhirnya mobilnya Edward masuk ke dalam pekarangan hotel yang memiliki interior klasik khas Inggris. Edward menghentikan mobilnya dan mematikan mesin mobilnya di depan pintu utama lobby hotel yang telah berdiri sejak 1931. Edward dan Agni membuka sabuk pengaman, lalu membuka pintu mobil. Agni dan Edward keluar dari mobil. Ada seorang bellboy yang menyambut mereka dengan ramah.


Edward berbicara dengan bellboy, sedangkan Agni berjalan lemah menuju pintu utama lobby hotel yang memiliki 250 kamar. Setelah berbicara dengan seorang bellboy, Edward dengan sergap memapah Agni. Mereka berjalan perlahan masuk ke dalam lobby hotel itu. Edward membantu Agni duduk di salah satu sofa yang berada di dalam lobby.


Agni membuka resleting tas selempangnya. Mengambil sebuah kertas. Memberikan benda itu ke Edward supaya Edward bisa meregistrasi ulang booking kamar hotel atas nama Agni. Edward menerimanya, lalu mengusap lembut puncak kepalanya Agni. Edward melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis.


Agni mengambil smartphone miliknya. Dia melihat ada email yang masuk di notifikasi smartphone miliknya. Membuka email itu, yang ternyata email dari Sri. Agni melebarkan kedua matanya ketika melihat beberapa foto Hardi yang sedang bercumbu dengan seorang wanita. Entah siapa wanita itu. Seketika seluruh tubuhnya Agni lemas tak berdaya sehingga smartphone miliknya terjatuh ke lantai dan kedua matanya tertutup.


Edward dengan sergap menangkap tubuhnya Agni yang hampir jatuh ke lantai. Edward panik melihat Agni pingsan. Edward merebahkan tubuhnya Agni di sofa itu. Edward membongkar isi tas selempang milik Agni untuk mencari obat supaya agni sadar. Edward menemukan minyak kayu putih. Dia membuka tutup botol minyak itu. Mendekatkan botol itu ke hidungnya.


Agni membuka kedua matanya secara perlahan, lalu berucap dengan lirih, "Aku ... hiks ... hiks ... hiks ....."


"Kamu tenang aja karena ada aku di sini yang selalu ada untukmu."

__ADS_1


__ADS_2