Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Hubungan Ini


__ADS_3

Saat ini Agni sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Hardi dikarenakan orang yang suka bantu mereka mengurusi segala kebutuhan mereka sedang sakit. Agni telah memasak kentang tumbuk, bistik ayam dan rebusan sayur. Di bawah naungan rumah yang sederhana bergaya romawi kuno Agni menduduki tubuhnya di salah satu kursi meja makan setelah dia menyiapkan sarapan.


Agni mengambil beberapa sendok makan kentang tumbuk sambil mendengar derap langkah Hardi. Perpaduan antara sepatu Kets dengan lantai koridor rumah yang terbuat dari marmer berbunyi nyaring. Hardi muncul dari balik tembok. Berjalan menghampiri Agni yang sedang mengambil satu potong bistik ayam. Hardi menghentikan langkahnya, lalu mengerutkan keningnya karena bingung melihat makanan yang sudah tersaji di atas meja makan.


"Siapa yang masak?" ucap Hardi bingung sambil menarik kursi di samping kanan Agni.


"Aku," jawab Agni santai sambil mengambil satu buah wortel rebus.


"Wah, ternyata calon istriku sudah bisa masak. Kamu belajar masak karena mau menikah denganku?" ucap Hardi sambil mengambil beberapa sendok kentang tumbuk.


"Pede banget, aku belajar masak karena aku ingin memuaskan kebutuhan perut Mas Edward," ucap Agni sambil memotong bistik ayam.


"Siapa yang ngajarin kamu masak?" ucap Hardi sambil mengambil beberapa wortel rebus.


"Mas Edward, emangnya kamu nggak bisa masak."


"Siapa bilang aku nggak bisa masak. Waktu aku kuliah di Stanford, aku kerja sambilan sebagai asisten koki di salah satu restoran terkenal," ucap Hardi jumawa sambil mengambil satu ekor bistik ayam.


"Oh ya," ledek Agni sambil mengunyah makanannya.


"Kalau tidak percaya nanti siang aku yang masak," ucap Hardi sambil mengangkat sendok.


"Nanti siang aku masih di kampus."


"Kamu pulang kuliah jam berapa?"


"Jam tiga."


"Ya udah, nanti malam aku yang masak. Di dalam kulkas masih ada apa?"


"Susu, telor, apel dan air putih."


"Nanti sore temani aku belanja sayuran dan daging."


"Memangnya mau belanja di mana?"


"Tesco. Tapi sebelum ke situ, kita ngeteh di Formosan Tea Bar. Nanti aku jemput kamu di kampus, kamu pulang kuliah jam berapa?"


"Nggak usah jemput aku, kita ketemuan langsung di Formosan."


"Ok. Sayang, kamu benaran sudah yakin tidak mau ada acara lamaran dan kita langsung menikah serta merayakan pesta pernikahan kita?"


"Iya, kan kamu sudah tahu kenapa nggak mudeng sich."


"Yah, aku kan cuma ingin memastikan. Kalau boleh tahu kenapa kamu tidak mau mengadakan acara lamaran?"


"Ehm ..., buang-buang uang, lagipula kita sudah saling mengenal dan keluarga kita juga sudah saling mengenal. Itu lebih efisien."


"Masuk kuliah jam berapa sayang?"


"Jam sepuluh."


"Mau aku antar? Aku ingin anterin kamu berangkat kuliah karena hari ini adalah hari pertama kamu kuliah di Universitas Oxford."


"Tidak usah, aku bisa sendiri berangkat kuliahnya."

__ADS_1


Janganlah kau tinggalkan diri ku


Tak 'kan mampu menghadapi semua


Hanya bersama mu ku akan bisa


Kau adalah darah ku


Kau adalah jantung ku


Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku


Oh sayangku kau begitu


Sempurna, sempurna


Bunyi dering dari smartphone milik Agni yang berada di atas meja makan. Agni mengambil smartphonenya setelah dia meminum air putih hangat. Agni menarik kedua sudut bibirnya ketika melihat nomor Jennifer di layar smartphonenya. Dia langsung menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo Jenny," sapa Agni ramah.


"Hallo Ni, elu kapan nikahnya?"


"Akhir bulan Desember."


"Kenapa akhir bulan Desember?"


"Soalnya akhir bulan Desember gw udah libur kuliah Say. Memangnya kenapa?"


"Kalau akhir bulan Desember, gw udah berangkat ke Amrik."


"Ya udah nanti gw bilang bokap gw dulu. Oh ya say, udah dulu ya, bayar roamingnya mahal hehehe. Bye Ni."


"Bye Jenny."


Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. Agni menjauhkan benda persegi panjang itu dari telinga kirinya. Hardi menyerahkan smartphonenya ke Agni. Agni mengerutkan keningnya sambil menerima smartphone milik Hardi. Agni menaruh smartphone miliknya di atas meja. Mendekatkan smartphone milik Hardi ke telinga kirinya.


"Hallo , assalamu'alaikum Sayang." ucap Sri ramah.


"Wa'alaikumussalam Tante," ucap Agni sopan.


"Semangat berjuang menuntut ilmu di Universitas Oxford Sayang."


"Terima kasih Tante."


"Semoga kuliah di hari pertama dan seterusnya berjalan lancar ya cantik."


"Aamiin Ya Robbal Alamiin, terima kasih Tante. Tante belum tidur?"


"Belum sayang, Tante lagi nungguin Sabrina yang belum pulang sampai sekarang."


"Memangnya Kak Sabrina pergi ke mana Tante?"


"Katanya pergi ke rumah Astri, teman kuliahnya."


"Tante udah telepon ke nomor handphonenya?"

__ADS_1


"Sudah sayang, tapi nomor handphonenya nggak aktif dari jam tujuh malam."


"Mungkin handphonenya Kak Sabrina mati karena habis daya."


"Bisa jadi. Oh ya, kamu kenal sama Ryan? Dia alumni SMA Thamrin, satu angkatan sama kamu. Dia itu anaknya si lotte Marina."


"Kenal Tante, Tante kenal dia juga?"


"Kenal. Pertama kali ketemu dia di penjara. Ternyata dia lagi dekati Sabrina, untung mereka belum jadian. Tante langsung larang Sabrina berhubungan dengannya. Tante khawatir kalau malam ini dia pergi sama tuch orang."


"Memangnya tadi Sabrina pergi ke rumah Astri sama siapa Tante?"


"Sama Astri, tapi tumben jam segini Sabrina belum pulang, terus nomor handphonenya nggak aktif sampai sekarang?"


"Sabar Tante, nanti juga Sabrina pulang. Gimana kabarnya Tante dan Henny?"


"Alhamdulillah baik. Sayang, udah dulu ya. Assalamu'alaikum," ucap Sri sambil melihat sebuah mobil sedang berhenti di depan rumahnya.


Tak lama kemudian Sri menekan tombol ikon merah di keyboard blackberrynya. Menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menaruhnya di atas meja tamu. Menutup gorden ruang tamu. Sri beranjak berdiri dari sofa panjang. Berjalan cepat menuju pintu rumahnya. Menarik handle pintu rumah ke dalam sehingga pintu rumahnya terbuka lebar.


Berjalan cepat keluar dari dalam rumah melewati pintu rumah yang sudah terbuka. Melanjutkan langkahnya menuju carport, lalu berjalan menghampiri Sabrina yang sedang keluar dari dalam mobil. Sri melihat seorang pemuda yang berada di dalam mobil. Sri merasa kecewa karena dibohongi oleh Sabrina. Sabrina melebarkan kedua matanya ketika melihat sosok Sri yang sedang melotot ke dirinya sambil bertolak pinggang.


Sabrina buru-buru menutup pintu mobil. Berjalan cepat menghampiri Sri. Menghentikan langkahnya di depan Sri, lalu menyalim tangan kanan Sri. Sabrina langsung berlari menuju pintu rumah yang masih terbuka. Masuk ke dalam rumah melewati pintu rumah. Tak lama kemudian, mobil yang ditumpangi oleh Sabrina meluncur melewati Sri yang masih melotot ke arah mobil itu yang ternyata dikemudikan oleh Ryan.


Sri berlari kecil menuju ke pintu rumah yang masih terbuka. Masuk ke dalam rumah. Menutup, lalu mengunci pintu rumahnya. Berjalan cepat menuju kamar Sabrina melewati ruang tamu dan ruang keluarga. Menaiki beberapa anak tangga menuju kamar anak pertamanya. Berjalan cepat di koridor antar kamar lantai dua menuju ujung koridor. Menghentikan langkahnya di depan pintu kamar milik Sabrina. Menekan handle pintu kamar Sabrina ke bawah, tapi tidak bisa didorong karena pintu kamar itu dikunci.


Tok! Tok! Tok!


"Sabrina buka pintunya!" teriak Sri setelah mengetuk pintu kamar itu dengan menggebu-gebu.


Tok! Tok! Tok!


"Sabrina buka pintunya!" teriak Sri. Kalau tidak mau membukanya, Ibu akan membekukan kartu kredit dan kartu ATM kamu!" ancam Sri.


Sedangkan Sabrina yang sedang berada di dalam kamar hanya memandang lesu ke arah pintu kamar. Dia ragu mau membukakan pintu kamarnya atau tidak. Dia tidak mau hubungan asmara dia dengan Ryan putus karena Sri tidak menyetujuinya. Sebenarnya Sabrina sudah berhasil dihasut oleh Hendra, Marina dan Ryan untuk membalas dendam perbuatan Sri terhadap Hendra dan Marina. Sabrina dijadikan alat balas dendam oleh mereka melalui kebohongan yang diucapkan oleh Hendra dan Marina serta melalui tebar pesona dari sosok Ryan sehingga dengan mudahnya Sabrina jatuh cinta kepada Ryan.


Tok! Tok! Tok!


"Sabrina buka pintunya!" teriak Sri dari luar pintu.


Sabrina bingung harus melakukan apa. Dia membuka reselting tas selempangnya. Mengambil blackberry miliknya. Menyentuh beberapa tombol di keyboard blackberrynya untuk menghubungi Ryan. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya sambil mendengar suara gedoran pintu kamar yang berbunyi nyaring. Tatapan kedua mata Sabrina tidak lepas dari pintu kamarnya.


"Hallo sayang ada apa?" ucap Ryan lembut.


"Hallo Beb, Ibuku marah karena aku ketahuan pergi sama kamu. Aku harus ngomong apa? Sekarang Ibuku sedang menggedor pintu kamarku dan berteriak. Dia mengancam aku untuk membekukan kartu kredit dan kartu ATMku," ucap Sabrina panik.


"Kamu bukain aja pintunya. Kalau dia menanyakan tentang hubungan kita, bilang kita hanya temanan. Kamu bilang tadi habis dari rumahnya Astri, kamu pergi ke mall mau beli kado buat Agni dan makan, tapi kamu belum menemukan sesuatu yang pas buat kado. Pas lagi makan ketemu sama teman SMA terus ngobrol sampai lupa waktu. Dan kamu juga bilang, kita tak sengaja ketemu di perempatan jalan. Bilang kamu dikerjain sama empat orang preman di perempatan jalan itu, kebetulan aku lewat, terus nolongin kamu. Setelah itu kita pulang."


"Baiklah, terima kasih idenya, bye Beb. Mmmuuuaaahhh."


"Mmmuuuaaahhh, love you."


Aku harus berjuang keras demi hubungan ini.


.

__ADS_1


__ADS_2