Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Aku Janji Akan Melindungi Agni


__ADS_3

Gemuruh langit malam yang dihiasi dengan kilatan petir dan awan mendung. Gelegar bunyi Guntur terdengar saling bersahutan. Kilatan cahaya petir mendahului sang guruh, seakan berusaha memberi tanda pada penghuni kota Oxford agar berlindung. Milyaran kubik air hujan membasahi tanah dikala malam telah larut dan udara terasa begitu dingin. Suhu saat ini menyentuh angka tujuh derajat celsius. Sudah pasti gemertak gigi yang akan terdengar saat tubuh menggigil kedinginan.


Tapi hawa dingin itu tak berlaku bagi Agni. Agni dengan rambut hitam panjang yang basah kuyup sedang berlari kencang. Menebus jutaan buliran air hujan. Melintasi jalanan sepi di malam hari. Kabur dari sang suami yang sedang mengamuk. Dia tak peduli dengan hawa dingin yang menembus ke setiap sum-sum tulangnya. Wajah cantiknya pucat pasi. Ada beberapa luka lebam terlihat di wajahnya dan disekitar tubuhnya yang mungil.


Sudut bibirnya berdarah, membuat miris siapa pun yang melihatnya. Hembusan nafasnya yang menderu menghasilkan embun saat beradu dengan dinginnya air hujan. Bahunya naik turun karena rasa panik dan takut. Agni bahkan tak peduli dengan dua telapak kakinya yang lecet karena berlari menyisir jalanan aspal tanpa memakai alas kaki.


"Damn it! Where are you, ******!? Kamu tak bisa kabur dariku, ******!! Aku cincang kamu!!" suara keras Hardi yang menggelegar.


Ucapan Hardi telah membuat rasa takutnya bertambah. Agni semakin mempercepat langkah kakinya. Tak ada seorang pun yang bisa menolong Agni, karena malam itu suasana kota Oxford sangat sepi. Agni terus berlari dan berlari dengan sekuat tenaga. Karena fokus melihat ke belakang, Agni tidak menyadari bahwa ada sebuah mobil sedan yang sedang melaju dari arah kiri jalanan. Agni menyeberang tanpa waspada.


Titinnnnn!!!


Bunyi klakson dari sebuah mobil sedan terdengar memekakkan telinganya Agni. Sorot dari lampu mobil itu membuat matanya Agni silau. Seketika Agni menghentikan langkah kakinya sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Cittt!!!


Dencitan keras suara ban mobil sehingga membuat mobil itu sehingga membuat mobil itu berhenti mendadak. Agni jatuh ke belakang. Jantungnya berdebar sangat hebat, dia akan mati tertabrak mobil. Agni sempat berfikir, ada baiknya dia mati tertabrak oleh mobil itu. Dari pada mati dihajar oleh pria yang tak lain adalah suaminya sendiri. Sejak Hardi pulang ke Indonesia, dia sering berbuat kasar ke Agni. Bentakan, hinaan dan pukulan Hardi telah menyakiti Agni baik fisik maupun non fisik.


"Are you Ok?" tanya pengemudi mobil itu sambil keluar dari mobil.


Pengemudi mobil yang tak lain adalah Edward. Dengan lekas Edward berjalan mendekati Agni. Edward tidak peduli dengan air hujan yang langsung membuat pakaiannya basah kuyup. Mencari tahu kondisi orang yang hampir saja menjadi korban tabrakan mobilnya. Jantungnya Agni masih berdebar karena takut dan panik. Wajah cantiknya pucat pasi dan penuh luka.


Bibirnya bergetar karena rasa dingin dan sakit. Pandangan matanya kosong karena pikirannya melayang jauh berharap untuk mati saja. Ya mungkin mati ditabrak mobil adalah jalan yang terbaik bagi dirinya. Sorot lampu dari mobil itu menyorot tepat di wajah Agni. Memberi cahaya pada wajahnya yang suram.

__ADS_1


"Agni?" tanya Edward yang kasihan melihat kondisi Agni.


"Mas Edward?" tanya Agni antara percaya dan tidak percaya melihat Edward di sebelah kirinya.


"Iya, kamu kenapa?" tanya Edward khawatir.


"Tolong aku, selamat aku, Mas. Please, bawa aku pergi dari sini, Mas," ujar Agni memohon pada Edward.


Edward melihat jelas wajahnya Agni yang pucat pasi dan penuh dengan luka. Mendengar suara Agni yang begitu bergetar karena rasa takut, sakit dan juga dingin. Agni mencengkeram lengan kekarnya Edward dengan erat. Memohon dengan penuh iba kepada Edward. Edward tak tahu apa yang membuat Agni seperti itu dan ada masalah apa antara Agni dengan Hardi sampai pria itu ingin membunuh istrinya.


"Baik, ayo kita pergi dari sini," ucap Edward sambil mengangkat Agni.


Sedetik kemudian Edward berdiri sambil menggendong Agni ala bride style, lalu berjalan menuju ke mobilnya. Edward membuka pintu penumpang dengan cara menyentuhnya. Menaruh Agni di atas jok mobil bagian penumpang. Menutup pintu mobil itu. Agni memakai sabuk pengaman ketika Edward berlari memutar sedikit menuju bagian pengemudi. Edward masuk ke dalam mobil. Menutup pintu mobil itu. Menonaktifkan rem tangan mobilnya.


"Kamu tenang aja, sekarang kamu sudah aman. Sebenarnya ada apa?" tanya Edward sambil menyetir mobilnya.


"Terima kasih telah membawaku pergi dari sana. Aku sama Mas Hardi tadi sedang bertengkar hebat sampai dia memukuli diriku," ucap Agni sambil menoleh ke Edward.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Edward khawatir.


"Dia pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Awalnya aku tidak tahu dia sedang mabuk. Setelah buka pintu rumah, dia membentak, menghina dan mengatai diriku. Aku tidak terima diperlakukan seperti itu. Aku cecer aja dia dengan segala aibnya. Dia langsung murka, dia menamparku, mendorongku, memukuli diriku dan hampir memperkosaku. Untung aku bisa keluar dari rumah ketika dia sedang mengangkat telepon. Setelah itu aku lari sekencang-kencangnya supaya bisa menghindar darinya," ucap Agni lemah sambil menundukkan kepalanya.


"Shittt!!! Dasar bajingan!!" ucap Edward kesal setelah mendengar ucapan Agni.

__ADS_1


"Mas Edward, tolong bawa aku ke rumah sakit, aku mau divisum."


"Baiklah. Sebaiknya kamu laporkan saja ke polisi."


"Tidak usah Mas."


"Kenapa?" tanya Edward heran sambil melirik Agni sekilas.


"Yah nggak kenapa-kenapa."


"Terus kenapa kamu mau divisum?"


"Nanti hasil visum itu untuk sebagai bukti bahwa dia telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga sehingga proses perceraian kami lebih cepat."


"Nanti kamu akan tinggal di mana?"


"Untuk sementara waktu, aku akan tinggal di rumahnya Om Bernard."


Edward hanya menganggukkan kepalanya berkali-kali sebagai respon dari ucapan Agni. Roda-roda mobil itu menelusuri jalan raya yang menuju ke sebuah rumah sakit yang dibuka pada tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh dua. Menghalau milyaran kubik air hujan yang sedari tadi telah membasahi kota Oxford. Kondisi jalanan sangat sepi. Edward menghentikan laju mobilnya ketika lampu merah menyala di persimpangan jalan.


Edward menoleh ke Agni yang sedang tidur pulas. Tak sengaja, Edward melihat dua buah gunung milik Agni yang tercetak jelas di balik daster putihnya Agni sehingga membuat libidonya bangkit. Edward meneguk salivanya untuk menahan gejolak hasrat birahinya. Dia tidak ingin menyentuh Agni dalam keadaan seperti itu. Dia langsung menepis gejolak hasrat birahinya. Mengalihkan pandangannya ke depan untuk bisa menahan libidonya.


"Dasar si Hardi bajingan!! Bisa-bisanya dia memperlakukan Agni seperti itu!! Aku janji akan melindungi Agni."

__ADS_1


__ADS_2