
Suasana kamar Hardi hening dan gelap. Agni. Jam dinding di kamar itu menunjukkan pukul satu dini hari. Agni sedang menunggu Hardi pulang dengan perasaan yang gelisah. Agni duduk di sofa yang berada di dalam kamarnya sambil mengaitkan jemari kedua tangannya. Kegelisahan melanda di hatinya Agni semenjak Agni mengetahui foto - foto dia bersama dengan Edward yang berada di dalam kamarnya Hardi.
Dia ingin menjelaskan tentang hubungan dia dengan Edward dan alasan dia berbohong. Agni memperhatikan pintu kamar yang handlenya bergerak. Pintu kamar itu terbuka secara perlahan sehingga menampilkan sosok Hardi. Hardi masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kamar. Memencet sakelar lampu sehingga kamar menjadi terang benderang. Reaksi Hardi datar ketika melihat sosok Agni yang sedang memperhatikan dirinya.
Sebenarnya di dalam lubuk hati yang terdalam, Hardi sangat kecewa sama Agni karena Agni telah membantah ucapan dirinya sebagai suami dan Agni telah membohongi dirinya. Rahang mukanya Hardi mengeras dan gigi menggertak karena menahan luapan emosi. Sebisa mungkin dia menahan emosi yang telah melanda di jiwanya.
"Mas, kamu dari mana?" tanya Agni lembut sambil beranjak berdiri dari sofa.
"Kamu tak perlu tahu aku dari mana," jawab Hardi datar sambil menyentuh beberapa ikon untuk mengunci pintu kamarnya.
"Maafkan aku Mas yang telah melakukan kesalahan," ucap Agni sedih.
"Kesalahan apa yang kamu perbuat?" tanya Hardi sambil membalikkan tubuhnya sehingga mereka berhadapan.
"Aku tak sengaja ketemu sama Mas Edward dan kami mengobrol. Aku tak enak menghindar dari Mas Edward, aku takut menyinggung perasaannya, Mas," ucap Agni yang menambah rasa kecewa di hatinya Hardi.
Sontak Hardik mencengkram mukanya Agni dengan keras, lalu berkata, "Karena itu kamu telah menyakiti diriku!! Aku baru tahu, selama aku di Jakarta, kamu sama dia asyik berduaan!!! Kamu telah menjajakan dirimu ke dia!!! DASAR *****!!" ucap Hardi kasar lalu dia melepaskan cengkeramannya.
"Kami tidak berduaan Mas! Waktu itu ada Jennifer Mas!" ucap Agni kesal.
"BULLSHIT!!" ucap Hardi marah.
Hardi tidak bisa menahan rasa amarahnya lagi. Tubuhnya bergerak sangat cepat untuk menyergap Julia masuk ke dalam bekapannya. Rasa ingin menghukum dan menghancurkan Julia memenuhi dadanya. Hardi menggiring tubuhnya Agni ke tempat tidurnya. Agni sangat terkejut melihat sikap Hardi yang kasar seperti tadi hingga mulutnya terbuka.
"Aaakkhhpp!" suara terkesiap dari mulutnya Agni menggantung di udara.
Hardi langsung ******* bibirnya Agni dengan kasar karena Hardi tak mau membiarkan Agni mengatasi rasa terkejutnya. Sementara tangan kirinya Hardi bergerak liar menjelajahi tubuhnya Agni. Agni mulai memberontak, namun tenaganya tidak sekuat Hardi sehingga dia tidak bisa melepaskan dirinya dari bekapan Hardi.
Hardi dengan sekuat tenaga merengkuh tubuh mungilnya Agni, sementara tangan kanannya menahan kepalanya Agni agar Agni berhenti bergerak. Merengkuh, meraba, dan meremas dengan brutal. Tak ada kelembutan dalam setiap sentuhan yang telah diberikan Hardi terhadap Agni saat ini.
Lu matan, sesepan, dan gigitan Hardi lakukan dengan penuh gerakan kasar. Hardi tidak peduli dengan apa yang dia lakukan terhadap Agni. Jiwanya Hardi telah dibutakan oleh hasrat ingin menghukum dan menghancurkan tubuhnya Agni serta menginjak - injak harga dirinya.
"Ukhmmmn! suara Agni yang tak bisa keluar sambil memukul ke dadanya Fernandez.
Bug
"Auww!" teriak Fernandez.
Agni menendang kejantanan Hardi dengan menggunakan dengkulnya. Hingga dekapan Hardi terlepas. Agni langsung lari ke kamar mandi yang berada di dalam kamar. Agni langsung menutup dan mengunci pintu kamar mandi. Nafasnya tersengal - sengal. Agni langsung duduk bersandar di daun pintu seraya mengatur nafasnya supaya kembali normal.
__ADS_1
"Agni! Kamu kurang ajar!! Dasar wanita murahan!!" umpat Hardi dengan suara lantang sambil membungkuk dan memegang miliknya. "Agni buka pintu kamar mandi!! Kamu nggak akan bisa kabur dari sini!! Jika kamu nekat kabur dari sini, kimono akan tersingkap sehingga tubuh telanjang kamu kelihatan. Dasar wanita murahan!!"
"Benar juga apa yang telah diucapkan oleh Mas Hardi. Aku sengaja hanya memakai kimono ini untuk menggoda Mas Hardi supaya rasa kecewanya kepadaku menjadi hilang. Tapi nyatanya, malah tambah kacau," gumam Agni bermonolog.
"Apakah kamu mau tahu penyebabnya Mbah mengalami serangan jantung yang kedua sehingga Mbah meninggal dunia? Jika iya, kamu keluar dari dalam kamar mandi!" ucap Hardi dengan volume suara yang keras.
"Waduh gimana ini? Di satu sisi aku ingin tahu penyebabnya Mbah meninggal dunia selain serangan jantung yang kedua sehingga Mbah meninggal dunia, sedangkan di satunya aku tidak mau dikasari sama Mas Hardi lagi," monolog Agni yang sedang mengalami dilema.
"Agni!!!" teriak Hardi.
"Aku keluar asalkan kamu tidak menyakiti diriku lagi!" teriak Agni.
"Baiklah aku tidak akan akan menyakiti dirimu lagi," ucap Hardi sambil berjalan rintih ke tempat tidur.
"Serius?" tanya Agni yang tidak yakin dengan ucapan Hardi.
"Iya," jawab Hardi sambil membuka laci nakas di sebelah kanan tempat tidur.
Agni membuka kunci kamar mandi. Menekan handle pintu kamar mandi ke bawah. Perlahan dia menarik daun pintu sehingga pintu kamar mandi terbuka. Pelan - pelan Agni clingak - clinguk mencari sosok Hardi. Agni melihat Hardi sedang duduk di tepian ranjang. Agni mengendap - ngendap keluar dari kamar mandi ke tempat tidur.
"Ngapain kamu berjalan seperti itu? Kayak maling aja," ledek Hardi sambil melirik Julia dengan ekor matanya.
"Ngapain ketawa? Nggak ada yang lucu. Ke sini kamu!" ucap Hardi sambil menoleh ke Agni.
"Kamu sudah tidak marah lagi kepadaku?"
"Nggak."
"Baiklah, aku ke sana," ucap Agni, lalu dia berjalan pelan ke tempat tidur.
"Ini yang telah membuat Mbah mengalami serangan jantung lagi," ucap Hardi sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat ke Agni yang sudah menghentikan langkah kakinya di depan Hardi.
"Apakah ini Mas?" tanya Agni pura - pura sambil menerima amplop cokelat itu.
"Buka aja, nanti kamu tahu sendiri isinya."
Agni membuka amplop cokelat itu. Mengambil isi amplop cokelat itu. Agni pura - pura terkejut dengan melebarkan kedua matanya sambil melihat foto - foto dia bersama Edward. Hardi memperhatikan siluet tubuhnya Agni dari balik kimono satin berwarna putih gading. Lekuk tubuh Agni terlihat jelas sehingga membuat Hardi horni, tapi dia menahannya karena dia masih kecewa sama Agni.
"Mas, foto - foto ini diedit. Saat itu ada Jennifer juga, Mas," ucap Agni yakin.
__ADS_1
"Masa, yang foto itu adalah orang kepercayaan Mbah, mana mungkin dia bohong," ucap Hardi datar.
"Benaran Mas, foto - foto itu diedit," ucap Agni menyakinkan.
"Kamu punya buktinya?" tanya Hardi.
"Ehm ... Enggak Mas. Tolong Mas percaya sama aku."
Kringgg ... Kringgg ... Kringgg ...
Nada dering smartphone milik Hardi berbunyi. Spontan Julia berhenti dan mengambil benda pipih itu dari dalam saku celananya. Dia melihat nomor rumah sakit yang tertera di layar smartphone miliknya, lalu menggeser ikon hijau di layar handphonenya. Dia mendekatkan ponselnya ke telinga kirinya.
"Hallo, ada apa ya?"
"Saya Adi Pak, karyawan rumah sakit Bahtera. Saya ingin menginformasikan bahwa Nona Regina sudah sadar."
"Baiklah saya ke sana sekarang," ucap Hardi sambil beranjak berdiri.
"Baik Pak."
Tak lama kemudian Hardi menjauhkan benda persegi panjang itu dari telinga kirinya. Menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menaruh smartphone miliknya di dalam tempat semula. Ketika Hardi hendak melangkahkan kakinya, Agni menarik pergelangan tangan kanannya Hardi. Hardi menoleh ke Agni.
"Kamu mau ke mana lagi Mas? Baru aja pulang, udah mau pergi lagi."
Hardi menghempaskan tangan kanannya sehingga genggaman Agni terlepas, lalu berujar, "Itu bukan urusanmu!"
"Aku istrimu Mas, aku berhak tahu!"
"Oh ya!? Selama aku di Jakarta, kamu membohongiku!! Kamu tidak mendengarkan ucapanku sebagai suami kamu!! Jangan bikin aku tambah marah!!
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah membaca novelku ini π
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
__ADS_1